Keluarga

Komunikasi dengan Pasangan di Masa Pandemi

Komunikasi
Komunikasi. @Pixabay

Dengan diberlakukannya social distancing, physical distancing, hingga terakhir PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di sebagian besar kota-kota di Indonesia, banyak keluarga yang dipaksa untuk tinggal selama 24 jam di dalam rumah. Bagi sebagian orang, social distancing berarti berbagi ruang yang terbatas bersama pasangan dan anak-anak, sambil mengelola “masalah-masalah” baru yang mengikutinya, seperti asisten rumah tangga yang tiba-tiba meminta berhenti atau perusahaan yang merumahkan karyawan sementara.

Namun terlepas dari masalah tersebut, bekerja dari rumah sambil mengatur rumah tangga, merawat anak, dan membantu pembelajaran jarak jauh anak bukan masalah ringan. Terlebih dengan ketidakpastian akan kapan berakhirnya kondisi ini menambah daftar tekanan pada banyak keluarga.

Jika kondisi semacam ini tidak dikelola dengan baik, kemungkinan akan berdampak buruk pada keluarga tersebut. Terbukti dalam sebuah artikel berjudul “China’s Divorce Spike Is a Warning to Rest of Locked-Down World,” Sheridan Prasso menuliskan adanya laporan tingkat perceraian yang meroket di Cina sejak diterapkannya isolasi.

Ketidakstabilan dan tekanan memperburuk psikologis seseorang dan mengakibatkan peningkatan konflik pada pasangan. Namun demikian, banyak berdebat atau timbulnya banyak konflik bukan berarti keluarga Anda sedang terancam bahaya. Ini hanyalah sebuah fase yang perlu dihadapi bersama saat pandemi berlangsung atau saat berakhirnya pandemi, entah itu kembali ke kondisi semula ataupun bertemu kehidupan “normal baru”.

Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan selama masa pandemi.

1. Tetapkan “ruang” pribadi.
Berbagi ruang dengan pasangan di tempat terbatas dalam waktu yang cukup panjang, membuat ruang gerak Anda terasa semakin sempit. Wajar jika di saat seperti ini merasa sedikit kewalahan. Pada kondisi normal, sebagian besar terbiasa untuk pergi bekerja, ke gym, bertemu teman, atau mengunjungi anggota keluarga.

Cobalah untuk memberi ruang pada diri sendiri. Terapkan “me time” di waktu-waktu tertentu tanpa diganggu hal-hal lain. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thuy-vy T. Nguyen, Richard M. Ryan, Edward L. Deci berjudul “Solitude as an Approach to Affective Self-Regulation” menemukan jika seseorang secara sadar memilih untuk menyendiri akan membantu relaksasi dan mengurangi stres.

Sampaikan pada pasangan tentang keinginan Anda ini dan rundingkan bersama kapan waktu yang tepat untuk melakukannya secara rutin. Selain itu, Anda juga dapat menyarankan pada pasangan untuk melakukan hal yang sama.

2. Berbagi tugas
Bekerja dari rumah, merawat anak, mendidik anak, sekaligus mengelola rumah tangga merupakan stress tersendiri.
Jika Anda merasa kewalahan untuk melakukan semuanya sendiri, sampaikan pada pasangan Anda dan bicarakan bersama bagaimana cara untuk berbagi tugas. Jika Anda sedang membutuhkan waktu untuk mengerjakan deadline, sampaikan pada pasangan Anda untuk menggantikan peran sementara. Mintalah waktu sekian lama untuk menyelesaikan deadline Anda. Demikian pula sebaliknya

3. Beri jeda
Saat konflik terasa semakin memuncak, cobalah untuk memberi jeda.
Kara Fletcher seorang asisten profesor di faculty of social work di University of Regina, Kanada, menyampaikan saat terjadi konflik, otak menganggapnya sebagai ancaman dan karena itu dia mengaktifkan kadar emosi dan pertahanan diri. Ketika kadar ini aktif, kemungkinan untuk menyelesaikan masalah menjadi relatif kecil. Saat Anda merasa kedua belah pihak menjadi marah atau nada semakin meninggi, mintalah untuk menghentikan diskusi. Ini akan memberi kesempatan pada pasangan untuk berpikir lebih jernih dan sedikit “bernapas”.

Setelah tekanan menurun, pemikiran, refleksi, dan penalaran menjadi lebih aktif. Pilih waktu lain untuk mendiskusikan topik tersebut, saat keduanya santai dan sama-sama sedang dalam kondisi tenang, sehingga berdua dapat melihat dari perspektif yang berbeda.

4. Turunkan standar
Terakhir, ini bukanlah saat yang tepat untuk menetapkan harapan terlalu tinggi pada pasangan Anda. Karena sama halnya dengan Anda, pasangan Anda juga sedang berjuang menghadapi kondisi yang ada. Alih-alih menuntut pasangan untuk melakukan hal yang terlalu tinggi, lihatlah sisi baik atau kekuatan pasangan Anda.

Sebuah penelitian yang berjudul “Personality strengths in romantic relationships: Measuring perceptions of benefits and costs and their impact on personal and relational well-being,” karya Todd B. Kashdan dan tim, menunjukkan bahwa penghargaan yang lebih besar atas kekuatan pasangannya dapat memengaruhi kesejahteraan dan keintiman Anda dan pasangan Anda.

Meskipun beberapa tips diatas mungkin dapat membantu Anda mengurangi konflik yang berhubungan dengan pasangan, namun ingatlah bahwa tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Tumbuhkan rasa belas kasih dalam diri Anda, agar dapat selalu berpikir positif. Juga tanamkan kesabaran dan kebaikan, karena hal-hal ini diperlukan dalam kondisi yang menegangkan agar Anda tidak mengalami frustrasi dan kehilangan kendali diri. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI