Keluarga

Konflik di Taman Kanak-kanak Dapat Mengurangi Minat Anak dalam Membaca dan Matematika

Taman Kanak-Kanak
Taman Kanak-Kanak.@ pixabay

Sebuah studi baru dari Finlandia mengindikasikan bahwa konflik yang dirasakan guru memprediksikan lebih rendahnya minat dan keterampilan pra-akademik siswa dalam bidang matematika dan literasi pada siswa di taman kanak-kanak. Taman kanak-kanak merupakan wadah penting dimana anak-anak mengembangkan keterampilan dan pola keterlibatan yang berhubungan dengan sekolah yang akan menjadi dasar untuk pengembangan kompetensi penting dalam keberhasilan akademis di kemudian hari. Prestasi di taman kanak-kanak terbukti memprediksi dengan tepat keterampilan akademis di kemudian hari.

Mengingat pengalaman di taman kanak-kanak memiliki efek jangka panjang di kemudian hari, maka penting untuk memahami faktor-faktor yang terkait dengan pembelajaran dan motivasi anak-anak selama masa taman kanak-kanak ini. Kualitas interaksi guru-murid terbukti penting terkait berbagai hasil akademik dan sosial-emosional yang berbeda.

Namun, banyak penelitian di bidang ini sebelumnya difokuskan pada anak-anak sekolah dasar kelas atas dan dilakukan di Amerika Serikat. Lebih sedikit penelitian dilakukan dalam konteks pendidikan yang lain dan khususnya di taman kanak-kanak.

Peneliti dari University of Jyväskylä, University of Eastern Finland, dan New York University of Abu Dhabi menyelidiki hubungan dua arah antara kualitas hubungan guru-murid dengan minat dan keterampilan pra-akademik anak-anak dalam literasi dan matematika di Finlandia. Pesertanya adalah 461 siswa Taman Kanak-Kanak Finlandia (usia 6 tahun) dan guru mereka (48). Studi ini merupakan bagian dari Teacher Stress Study, yang dipimpin oleh Profesor Marja-Kristiina Lerkkanen dan Profesor Rekanan Eija Pakarinen di Universitas Jyväskylä.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa konflik yang dirasakan guru memprediksikan lebih rendahnya minat dan keterampilan pra-akademik siswa dalam bidang matematika dan literasi. Ada kemungkinan ketika anak-anak mengalami konflik dengan guru, emosi negatif yang melekat pada konflik tersebut akan berpengaruh pada keterlibatan anak dalam belajar dan mengurangi minat mereka pada tugas-tugas akademis.

Kemungkinan juga anak-anak yang mengalami konflik akan ketinggalan waktu untuk belajar literasi dan matematika, baik karena mereka tidak ikut kegiatan belajar atau karena harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk pengendalian perilaku daripada waktu mengajar.

Temuan ini menyoroti pentingnya para guru taman kanak-kanak untuk menyadari bagaimana hubungan mereka dengan anak-anak dapat memengaruhi masa sekolah anak-anak di kemudian hari. Penting untuk mengembangkan program pra-jabatan dan dalam-jabatan serta intervensi untuk membantu para guru dalam membangun hubungan yang suportif dan rendah konflik dengan anak-anak.

Program pendidikan tenaga pendidik juga dapat memperoleh manfaat dari mengedukasi para guru bukan hanya tentang konten akademis dan pelatihan pedagogik, namun juga dalam strategi membangun hubungan yang suportif dengan anak-anak. Profesor Jaana Viljaranta dari University of Eastern Finland berkata:

 “Dibandingkan dengan tempat penitipan anak, taman kanak-kanak memperkenalkan anak-anak pada lingkungan belajar yang lebih terstruktur. Pengalaman yang diperoleh anak-anak di lingkungan ini mungkin memiliki konsekuensi jangka panjang pada pengembangan motivasi dan kompetensi akademis mereka. Oleh karena itu, penting bagi para guru untuk menyadari kekuatan interaksi mereka terhadap anak-anak, dan menemukan cara yang optimal untuk berinteraksi dengan setiap anak, serta mempertimbangkan kekuatan dan kebutuhan setiap individu.” (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI