Keluarga

Makna Bermain Bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (Bagian 1)

Mainan plastik
Mainan plastik. Photo by Magda Ehlers from Pexels

Salah satu hal yang paling melelahkan bagi orang tua adalah menemani anak-anak bermain. Bagaimana tidak, baik bermain di dalam rumah maupun di tempat terbuka, energi mereka seolah-olah tidak ada habisnya. Ini tidak mengherankan karena menurut Maria Montessori, seorang pendidik, ilmuwan, dan dokter berkebangsaan Italia, bermain adalah pekerjaan utama mereka. Play is the work of the child. Menurut Montessori bermain adalah kegiatan yang penting dalam produktivitas dan perkembangan seorang anak.

Namun demikian, dewasa ini anak-anak dituntut sudah siap menerima program pendidikan yang lebih serius begitu memasuki sekolah dasar. Hal ini yang kemudian mendasari institusi pendidikan prasekolah memberikan program yang “lebih serius” pada anak didik mereka. Ada perdebatan, khususnya tentang kurikulum prasekolah, antara penekanan pada konten dan upaya untuk membangun keterampilan dengan memperkenalkan pengajaran “duduk manis” lebih awal dibandingkan dengan mendorong keterlibatan aktif dalam belajar melalui permainan.

Menoleh kembali ke masa lalu, pelajaran Taman Kanak-Kanak pada 1954 berbasis permainan. Institusi tersebut menawarkan aktivitas nyata seperti menjahit, berkebun, dan memasak ; bernyanyi dan berinteraksi dengan orang lain ; dan membacakan cerita pada anak sebagai interaksi dengan buku, seperti dilansir Intellectual Takeout dalam artikel “Old Kindergarten Requirements Suggest Today’s Classrooms Are Too Much, Too Soon.” Tidak ada pelajaran membaca dan menulis.

Melangkah lebih mundur, Henri Marrou dalam bukunya “A History of Education in Antiquity,” menyorot pendidikan orang Yunani kuno. Pada masa itu, tahun-tahun awal pertumbuhan anak utamanya adalah waktu untuk bermain. Namun dalam beberapa hal, pendidikan karakter mulai diperkenalkan. Diantaranya, bagaimana bersosialisasi, bersikap sopan santun, disiplin, dan moralitas. Pada usia ini, anak-anak juga mulai dikenalkan budayanya sendiri melalui musik, lagu anak-anak, atau bahkan sastra ?dari dongeng yang diceritakan padanya.

Jadi mengapa anak perlu banyak bermain?

Ilmu perkembangan otak memberikan bukti nyata kekuatan dalam permainan. Walaupun bagi orang dewasa bermain sering dianggap sebagai aktivitas yang “hanya bersenang-senang,” namun pada kenyataannya bermain adalah aktivitas vital yang digunakan anak-anak untuk belajar dan berinteraksi dengan dunia mereka, dan mendapatkan keterampilan mental, fisik, dan sosial yang diperlukan untuk berhasil dalam kehidupan di masa dewasa.

Seperti juga Montessori, Profesor Karen Hutchison dari Rowan University menyampaikan, “Bermain adalah pekerjaan seorang anak di mana mereka mempersiapkan diri untuk peran orang dewasa dan untuk masyarakat pada umumnya.” Dilansir dari laman bostonchildrensmuseum.org dengan artikel berjudul “The Power of Play.” Bagi seorang anak, bermain adalah kendaraan untuk menjelajah dan belajar, mengembangkan keterampilan baru, dan terhubung dengan orang lain. Melalui permainan mandiri, anak-anak dapat mengikuti minat mereka, mengeksplorasi hal-hal yang ingin mereka ketahui, menghubungkan suatu hasil dengan pilihan-pilihan yang ada, menaklukkan ketakutan mereka, dan tentu saja, berteman.

Secara garis besar Michael Yogman, MD, FAAP dan koleganya, melakukan riset yang dimuat dalam jurnal pediatrics, “The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children” dan mendapatkan manfaat bermain yang dipetakan sebagai berikut:

  1. Peningkatan dalam fungsi eksekutif, bahasa, keterampilan matematika awal (konsep angka dan spasial), pengembangan sosial, hubungan teman sebaya, pengembangan fisik dan kesehatan, dan peningkatan rasa keagenan.
  2. Mengelola depresi yang mengganggu. Kebahagiaan bersama dan penyelarasan bersama yang dialami orang tua dan anak-anak selama bermain menurunkan regulasi respons stres tubuh. Oleh karena itu, bermain mungkin merupakan penangkal yang efektif bagi anak.
  3. Menumbuhkan kemampuan bernegosiasi. Bermain dengan teman sebaya biasanya melibatkan penyelesaian masalah tentang aturan permainan, yang membutuhkan negosiasi dan kerja sama.
  4. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan menyelesaikan multi-tugas. Anak-anak yang aktif bermain selama 1 jam per hari lebih mampu berpikir kreatif dan melakukan banyak tugas.
  5. Manfaat kesehatan yang melibatkan aktivitas fisik. Olahraga tidak hanya membantu mencapai berat badan seimbang dan kebugaran kardiovaskular tetapi juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, dan sistem kardiovaskular. Bermain mengurangi stres, kelelahan, cedera, dan depresi dan meningkatkan rentang gerak, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan fleksibilitas. Anak-anak lebih memperhatikan pelajaran di kelas setelah bermain sesukanya selama masa istirahat daripada setelah program pendidikan jasmani, yang lebih terstruktur.
  6. Bermain juga mencerminkan dan mentransmisikan nilai-nilai budaya. Orang tua di Amerika Serikat mendorong anak-anak untuk bermain dengan mainan dan / atau benda-benda sendirian, yang merupakan ciri khas masyarakat yang menekankan pengembangan kemandirian. Sebaliknya, di Jepang, anak-anak didorong untuk bermain dengan teman sebayanya, yang merupakan khas budaya yang menekankan saling ketergantungan.

Dengan poin-poin inilah mengapa Hutchison menyebutkan jika bermain memiliki tautan penting untuk mengembangkan keterampilan utama yang berfungsi sebagai landasan untuk kesuksesan seumur hidup, termasuk pemikiran kritis, komunikasi, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Sering disebut sebagai keterampilan abad ke-21, kemampuan ini melengkapi pengetahuan materi inti dan sangat dihargai di dunia yang semakin kompleks, kompetitif, dan saling berhubungan ini.

Maka lain kali, jika anak-anak sangat marah begitu mainannya dirapikan tanpa seijin dirinya, Anda sudah harus memahami, karena itu adalah “hasil pekerjaan” mereka. (NTDIndonesia/averiani)

Lebih banyak artikel keluarga, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI