Keluarga

Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 3)

Bermain
Bermain. (Photo by Steshka Willems from Pexels)

Bermain dan Hubungannya dengan Pekerjaan, Hubungan Sosial, dan Kelurga

Ketika kita membaca kata “bermain,” pikiran kita pasti langsung tertuju pada kegiatan menyenangkan yang paling disukai anak-anak. Meski tampaknya hanya bermain dan bersenang-senang, rupanya kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk perkembangan kognitif, kesehatan, dan sosial anak. Bahkan, tidak hanya pada anak-anak, manfaat ini juga dirasakan oleh para remaja, seperti yang telah dimuat di artikel sebelumnya. Sebenarnya, bermain tidak terbatas pada usia tertentu. Sayangnya bagi orang dewasa, bermain sering diabaikan dan dilupakan. Banyak yang menganggapnya sebagai tindakan yang kurang dewasa, tidak produktif, atau bahkan tidak disukai.

Di dunia modern yang super sibuk dan penuh dengan teknologi, banyak diantara kita yang terlalu memusatkan perhatian pada pekerjaan, relasi, dan keluarga yang pada akhirnya membuat kita terjebak dengan rutinitas sehari-hari. Kita melupakan cara bermain yang dahulu pernah kita lakukan. Pada titik tertentu, diantara masa kanak-kanak dan dewasa, tiba-tiba kita berhenti bermain.

Selama beberapa dekade, bermain terutama dipelajari sebagai fenomena instrumental untuk perkembangan anak dan terapi. Sangat jarang riset yang mempelajari aktivitas bermain pada orang dewasa dan manfaat yang didapatkannya. Kalaupun ada, utamanya dilakukan dalam konteks terapeutik. Namun belakangan, beberapa riset diketahui menyoroti permainan pada orang dewasa.

Salah satu pendekatan yang secara eksplisit mengenali permainan sebagai perilaku universal yang memiliki arti penting bagi kesehatan dan kesejahteraan di sepanjang usia individu tersebut dapat ditemukan dalam teori psikoanalisis. Pendapat ini dikemukakan oleh Lieselotte van Leeuwen dan Diane Westwood, dalam jurnal berjudul “Adult play, psychology, and design.” Dalam jurnal yang sama, Leeuwen juga menyebutkan teori dari Donald W. Winnicott yang menggambarkan permainan terjadi di ruang transisi antara realitas batin seseorang dan realitas luar seseorang yang memungkinkan adanya aksi kreatif. Dalam ruang ini atribut realitas objektif dipadukan dengan atribut imajinasi membuat seseorang dapat bereksperimen dengan berbagai cara dan berhubungan dengan dunia luar. Bagi Winnicott, dasar bermain dibangun berdasarkan seluruh pengalaman manusia. Karakter permainan yang kreatif dan eksperimental inilah yang merupakan konsekuensi positif bagi kesehatan dan kesejahteraan seorang individu.

Riset lain yang mempelajari kebutuhan bermain pada orang dewasa dan karakter kepribadian “suka bermain” pada orang dewasa ditemukan dalam sebuah jurnal karya René T. Proyer, “A multidisciplinary perspective on adult play and playfulness.” Dalam jurnal ini dia menuliskan kontribusi dari rekan-rekan peneliti yang melakukan riset dalam sudut pandang disiplin ilmu yang berbeda-beda.

Sebenarnya, sama dengan anak-anak, bermain juga memiliki arti penting pada orang dewasa, meski dalam konteks yang berbeda. Seringkali bermain pada orang dewasa hanyalah memperpanjang permainan di masa anak-anak. Misalnya, anak-anak bermain dengan menerapkan aturan dimulai sekitar usia lima atau enam tahun. Di usia dewasa, kegiatan ini dilanjutkan dengan berbagai permainan seperti bermain bola (baseball, softball, sepak bola, atau bola basket), bermain kartu, dan permainan papan. Seiring dengan meningkatnya keterampilan kognitif seorang anak, permainan menjadi lebih kompleks. Misal permainan Go Fish atau Old Maid berganti menjadi poker atau bridge; Candy Land atau Uncle Wiggily berubah menjadi Monopoli atau catur. Orang dewasa bermain dengan kognitif yang lebih canggih. Termasuk diantaranya bermain kata-kata dan lelucon yang melibatkan manipulasi linguistik dan retorika. Permainan anak-anak seperti koboi-koboian atau polisi dan maling diterjemahkan ke dalam bentuk permainan orang dewasa seperti paintball (Garry Chick Careen Yarnal Andrew Purrington dalam jurnal “Play and Mate Preference Testing the Signal Theory of Adult Playfulness.”)

Dalam hubungannya dengan dunia orang dewasa pada dasarnya kebutuhan bermain berkaitan dengan tiga hal, yakni pekerjaan atau karier, hubungan sosial, dan keluarga. Berikut diulas bagaimana bermain dapat meningkatkan tiga hal yang dibutuhkan orang dewasa.

Pekerjaan atau karier

Banyak perusahaan telah mengenali keterkaitan produktivitas karyawan dengan lingkungan menyenangkan di tempat kerja. Mungkin ada sebagian perusahaan yang berpikir jika cara terbaik untuk mengatasi beban kerja yang terus meningkat dengan mendorong karyawan untuk bekerja lebih lama dan lebih keras. Namun, tanpa jeda yang menyenangkan, kemungkinan besar karyawan akan merasa sangat kewalahan dan jenuh. Sebaliknya melalui kegiatan yang menyenangkan dapat mendorong karyawan mengambil risiko yang lebih kreatif dan menciptakan suasana kerja yang lebih ringan.

Pada umumnya perusahaan kemudian menawarkan berbagai ruang yang dapat mewadahi “kebutuhan bermain” bagi karyawannya. Menurut Proyer, kebutuhan untuk bermain dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk bersantai, menghibur diri sendiri, mencari pengalihan, dan mencari hiburan, tertawa, bercanda, dan bergembira. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para manager dan pengusaha, seperti dilansir dari artikel “The Benefits of Play for Adults” karya Lawrence Robinson, Melinda Smith, M.A., Jeanne Segal, Ph.D., and Jennifer Shubin, antara lain:

  • Memberikan peluang pada para karyawan untuk berinteraksi sosial. Tawarkan beberapa permainan di sela-sela kepadatan kerja. Pasang ring basket di tempat parkir, atur turnamen golf miniatur, atau buatlah sayembara perburuan harta karun di kantor.
  • Dorong pemikiran kreatif. Cukup dengan “meringankan” suasana rapat, misalnya dengan menyimpan puzzle di meja ruang konferensi.
  • Dorong pekerja untuk beristirahat secara teratur. Biarkan mereka menghabiskan beberapa menit untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti sudoku atau permainan kata.

Hubungan sosial

Bercanda dan tertawa bersama memainkan peran penting dalam membangun hubungan yang kuat dan sehat. Menciptakan ikatan yang lebih positif, merekatkan pertemanan, sekaligus membangun jembatan dalam penyelesaian konflik dan ketidaksepakatan. Sedangkan dalam hubungan yang baru, bercanda dapat menjadi alat yang efektif untuk menarik pihak lain sekaligus mengatasi kecanggungan saat berkenalan.

Selain itu, salah satu bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh orang dewasa, dengan berolahraga. Selain menyehatkan, olahraga juga digunakan sebagai sarana “bermain” dan bersosialisasi. Beberapa pertimbangan yang mungkin dapat Anda lakukan berkenaan dengan olahraga seperti dilansir dari artikel “Staying Young at Heart: Why Adults Should be Playing More” tulisan Caileigh Flannigan, antara lain:

  • Jangan terlalu serius. Anda bukan atlet. Alih-alih menargetkan sesuatu, jadikan olahraga sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Sesekali singkirkan GPS atau penghitung langkah Anda. Tentu saja, bagi Anda yang penggemar berat olahraga, target adalah satu hal yang akan menjadi dorongan.
  • Berganti-ganti. Tidak ada salahnya mencoba beberapa jenis olahraga. Selain menghindari rasa bosan yang timbul, aktivitas ini dapat menarik dan memotivasi Anda.
  • Lepaskan naluri bermain. Cobalah aktivitas fisik yang biasa dilakukan anak-anak. Hoola hoop, lompat tali, main ayunan, jumping jacks, misalnya. Anda dapat mencoba aktivitas menyenangkan namun tetap berlatih kardio.
  • Ajak teman atau anak Anda. Berkumpul bersama teman atau keluarga melalui olahraga seperti “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Keluarga

Bermain sangat penting untuk perkembangan keterampilan sosial, emosional, kognitif, dan fisik anak. Oleh karena itu, bermain bersama anak, selain membantu perkembangan anak juga memperkuat ikatan orangtua-anak. Meski anak-anak membutuhkan waktu untuk bermain sendiri atau bermain bersama teman-temannya, bermain dengan orang tua juga penting. Saat kebutuhan bermain terpenuhi, kedua belah pihak akan terhindar dari tekanan yang serius. Robinson memberikan beberapa tips yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk bermain bersama anak. Ingatlah bahwa bermain bersama akan menguntungkan Anda berdua.

  • Tetapkan waktu bermain secara rutin. Mungkin Anda dapat menyisihkan waktu sekitar dua puluh menit sebelum makan malam atau setiap Sabtu pagi, misalnya. Berikan perhatian penuh pada anak. Matikan TV dan ponsel Anda dan luangkan waktu tanpa gangguan.
  • Sesuaikan dengan level anak. Mungkin ini berarti Anda perlu berlutut atau duduk di lantai. Sesuaikan dengan intensitas anak selama bermain, misalnya saat anak berteriak lantang dan energik, Anda juga demikian.
  • Bersabarlah dengan pengulangan. Bagi Anda melakukan permainan yang sama setiap hari, mungkin terasa membosankan, tetapi tidak bagi anak Anda. Anak-anak belajar melalui pengulangan. Biarkan anak Anda memainkan permainan yang sama berulang-ulang, hingga mereka siap berganti permainan yang lain.
  • Biarkan anak-anak yang memimpin. Jadilah bagian dari permainan mereka. Dalam permainan imajinatif (pretend play), biarkan anak menirukan suara tembakan, membuat aturan, dan menentukan kecepatan permainan. Ajukan pertanyaan dan ikuti. Tidak seberapa lama, mungkin Anda akan ditarik masuk ke dunia imajinatif yang menyenangkan bagi Anda juga. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor