Keluarga

Matematika di Mata Anak: Dari ” Momok” Menjadi Sahabat

Matematika @Pexels
Matematika @Pexels

Meskipun banyak orang yang tahu jika matematika itu penting dalam segala aspek kehidupan, namun mungkin kita tidak asing mendengar keluhan beberapa anak yang menganggap pelajaran matematika sebagai salah satu momok yang menakutkan baginya.

Menurut mereka, hanya mendengar kata matematika saja, terkadang perut sudah terasa mual. Namun perasaan ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh para siswa sekolah, terkadang bagi orang dewasa pun, dalam beberapa hal, apa yang mereka rasakan juga masih dialami.

Lantas, mengapa bagi sebagian orang, matematika begitu menakutkan? Apakah karena genetika? Menurut Irene Phiter, ada dua kemungkinan mengapa seorang anak mengalami ketakutan pada matematika:

1. Mental block

Banyak yang beranggapan “kelemahan” pada matematika diturunkan dari orangtuanya. Sebenarnya bukan karena genetika, namun lebih pada mental block-nya atau ketakutannya yang diturunkan.

Karena pada dasarnya otak memiliki kemampuan neuroplastis yang mampu berubah dan beradaptasi melalui pertumbuhan dan reorganisasi.

Tergantung anak tersebut terekspos terhadap apa. Jika pekerjaan orangtuanya berkaitan dengan matematika, secara tidak langsung dia akan menyampaikan pada anaknya, matematika adalah hal yang tiap hari dia temui.

2. Cara belajar

Mungkin saat awal berkenalan dengan matematika anak kita menggunakan cara belajar atau pendekatan yang kurang tepat, sehingga tidak memahami materi yang disampaikan, yang pada akhirnya mengakibatkan kegagalan.

Sebenarnya tanpa disadari kita telah menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kita dikelilingi oleh matematika saat harus membayar belanjaan di supermarket. Atau kita perlu membandingkan berapa uang yang akan kita hemat jika membeli barang berdiskon 20% atau membeli 2 gratis 1 saat akan memutuskan membeli barang di acara gebyar diskon. Atau kita perlu memperkirakan waktu berangkat dari rumah ke lokasi yang kita tuju jika jarak yang kita tempuh sekitar 55 km.

Semua itu hanyalah sebagian kecil dari matematika dalam kehidupan sehari-hari. Tidak benar jika kita memandang matematika hanya sebagai perkalian, pembagian, atau sin cos. Pengumpulan data, estimasi, prediksi, menghitung ruang, menghitung waktu, dan masih banyak lainnya juga adalah matematika.

Maka ada beberapa sekolah pendidikan usia dini yang mengenalkan matematika pada siswa-siswinya dimulai dengan mengajarkan konsep besar – kecil, banyak – sedikit, ataupun panjang – pendek sebelum masuk pada angka itu sendiri.

Nah, setelah kita memandang matematika sebagai hal yang biasa kita temui, persepsi “momok” yang tertanam mungkin akan berangsur-angsur menghilang Seperti  kata pepatah “Tidak kenal maka tidak sayang,” demikian juga dengan matematika. Kita perlu mengenal atau memahaminya terlebih dahulu agar dapat menghargainya. Siapa tau setelah mengenal dan memahaminya, kemudian berubah menjadi “sahabat.”

Namun demikian, bagaimana jika seorang anak sudah telanjur menganggapnya sebagai momok? Lebih lanjut parent coach, certified play therapist, dan master trainer dari BrainFit Indonesia tersebut menyebutkan dua hal yang perlu diperhatikan:

1. Hilangkan mental block

Jika kita sebagai orangtua menyadari bahwa kita secara tidak sadar memiliki ketakutan tersebut, segera hilangkan pemikiran tersebut. Bagaimanapun juga anak akan mencontoh kita.

Jika ketakutan itu tidak kita hilangkan, secara tidak langsung kita akan menurunkan pada anak kita. Maka, hal pertama yang perlu disadari dari orangtua adalah awareness akan mental block tersebut.

2. Cari bantuan

Jika kita mengetahui anak kita pernah mengalami kegagalan dan kita sebagai orangtua tidak memiliki kemampuan untuk mengajarinya, carilah bantuan dari pihak ketiga. Carilah info sebanyak-banyaknya dan pilih yang menurut kita paling cocok mengajar anak kita. Mintalah pengajar tersebut mengajarkan mulai dari nol. Dengan demikian anak kita belajar konsep matematika dari perspektif yang baru.

Terlepas dari semua itu, satu hal penting yang dapat kita lakukan sebagai orangtua adalah mendorong anak kita menerima persepsi baru, tidak mengecapnya dengan “tidak bisa matematika,” serta lebih mengenali bidang mana dalam matematika yang lebih dia kuasai. Karena matematika memiliki aspek yang sangat luas.

Mungkin dia tidak bagus dalam perhitungan, namun dia bagus dalam hal ruang atau waktu. Dengan mengenali aspek-aspek yang dia kuasai, kita dapat melatih aspek-aspek mana saja yang perlu dia ditingkatkan. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI