Keluarga

Matematika Pada Anak: Matematika dan Permainan

Engklek
Engklek. @Wikimedia

Anak-anak sangat suka bermain. Mereka bergerak sepanjang hari. Berkejar-kejaran, berlarian, berlompatan tanpa terasa kelelahan.

Saat berada di sekolah pun, seolah mereka tidak sabar menantikan jam istirahat untuk kembali “bergerak” setelah beberapa jam duduk di kursi kelas.

Energi yang melimpah ini jika dapat dialokasikan untuk peningkatan nilai akademik tentu akan sangat bermanfaat. Berdasarkan pemikiran semacam ini, beberapa ahli dan edukator kemudian melakukan studi yang mengaitkan peningkatan akademik melalui aktivitas gerak yang disukai anak-anak tersebut. Salah satu studi menemukan bahwa matematika akan dipelajari paling baik ketika anak-anak bergerak.

Studi dari University of Copenhagen’s Department of Nutrition, Exercise and Sports menuliskan bahwa partisipasi dalam pelajaran matematika yang berfokus pada integrasi aktivitas motorik kasar dapat berkontribusi positif terhadap prestasi matematika pada anak praremaja. Disini dapat disimpulkan bahwa anak-anak meningkat dalam pelajaran matematika ketika instruksi melibatkan tubuh mereka sendiri.

Studi tersebut juga menyampaikan dari perspektif praktis, guru dan personel terkait harus mempertimbangkan untuk mengintegrasikan aktivitas motorik kasar dalam aktivitas pembelajaran yang relevan dengan kurikulum akademik sebagai cara yang menjanjikan untuk melibatkan anak-anak dan meningkatkan prestasi akademik. Penelitian itu juga mendokumentasikan jika anak-anak memerlukan strategi pembelajaran yang bersifat individual.

Selaras dengan temuan tersebut, jika dilihat dari sisi neurosains, menurut Irene Phiter dalam Brainfit Talks, bagian otak yang mengenali simbol berada di bagian visual, sementara bagian otak yang mengenali jumlah atau quantity terletak pada penyeberangan antara visual dan parietal lobe. Parietal lobe sendiri merupakan bagian otak yang mengurus gerakan atau motorik. Maka untuk membangun matematika pada anak2 nursery, terutama yang berkaitan dengan numeracy atau berhitung, perlu dimulai dari motorik, karena memiliki brain region yang sama.

Maka, bagi para orang tua yang ingin meningkatkan kemampuan matematika putra-putrinya, terutama yang di usia kanak-kanak, dapat memulainya dengan melakukan gerakan motorik yang mudah diingat oleh anak-anak. Mungkin ada yang meragukan apakah anak-anak dapat dengan mudah mengingatnya saat melakukan gerakan motorik? Menurut artikel Using Activities with Movement to Teach Math, seperti saat Anda mengendarai sepeda, mungkin Anda tidak dapat menjelaskan pada orang lain bagaimana saat awal mempelajarinya. Namun otot Anda dapat mengingatnya, bahkan setelah lama Anda tidak menaikinya. Demikian juga dengan rutinitas fungsi motorik.

Menurut artikel yang dimuat di study.com tersebut, hal yang sama juga berlaku untuk rutinitas fungsi motorik berulang yang terkait dengan keterampilan matematika. Tindakan mengulangi gerakan tangan atau gerakan tubuh yang sama sebenarnya mengikat fakta matematika dengan gerakan itu, sehingga ketika anak bertepuk tangan atau mengetuk jari kaki, informasi itu secara otomatis tersedia.

Beberapa contoh gerakan motorik yang dapat dikaitkan dengan matematika, terutama untuk kanak-kanak antara lain:

• Engklek (permainan dengan melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah): Tuliskan angka di setiap petak dan anak-anak harus melompat dari angka 1 ke angka 10 secara berurutan.

• Tepuk tangan (permainan tepuk tangan dengan ritme tertentu): Anak-anak melakukan permainan tepuk tangan secara bersamaan dan secara bergiliran masing-masing anak mengucapkan angka yang ditargetkan. Permainan ini dapat dilakukan untuk mempelajari tabel perkalian secara berurutan. Tentukan berapa kelipatannya. Bisa dimulai dari angka 2, setelah menguasai bisa dilanjutkan dengan angka 5, kemudian 10, dan seterusnya.

• Berdiri dan duduk: Permainan ini bisa dilakukan untuk menentukan ganjil atau genap, lebih besar atau lebih kecil, dan sebagainya.

• Lempar bola (atau benda apapun): Siapkan beberapa wadah atau kontainer dan sematkan tulisan ratusan, puluhan dan satuan. Minta mereka melempar bola ke dalam wadah tersebut sesuai nilai angka yang Anda sebutkan

Tentu masih banyak permainan sehari-hari atau permainan tradisional lain yang dapat Anda “pinjam” untuk mempelajari matematika. Kunci untuk menjaga minat dan fokus putra-putri Anda saat Anda memasukkan gerakan ke dalam pelajaran matematika, selain mengenali karakter mereka juga adalah kreativitas. Jangan lupakan alat-alat bantu seperti dadu, kapur, krayon, evamat warna-warni, atau apapun yang dapat mendorong putra-putri Anda untuk bergerak. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI