Keluarga

Melepaskan Sifat Perfeksionisme

Bercermin (Screenshot @Storyblocks)
Bercermin (Screenshot @Storyblocks)

Baru-baru ini saya mulai menyadari bagaimana sifat perfeksionisme dapat menyabotase dan merintangi diri sendiri. Perfeksionisme seolah terdengar bagus. Lagi pula, apa salahnya berjuang untuk mencapai kesempurnaan?

Namun, bukan begitu cara perfeksionisme diukur. Pada perfeksionisme, standar kesempurnaan tidak akan pernah terwujud. Maka, alih-alih berusaha sedekat mungkin mencapai standar, seseorang justru memproteksi diri dari rasa malu dan kekecewaan akibat gagal mencapai target dengan menghindari pekerjaan, usaha, maupun mimpi sekalipun. Tindakan menghindar itu cenderung termanifestasi dalam bentuk penundaan, gelisah, kemalasan, tidak bisa berpikir jernih, atau bahkan menyibukkan diri dengan pekerjaan lain yang kurang bermakna.

Akibat buruk dari sifat perfeksionisme adalah bakat terpendam, talenta, dan potensi terbesar seseorang tidak pernah terungkap, semua itu disia-siakan demi penyelamatan diri. Tidak ada yang sempurna tentang hal tersebut.

Jadi, apa yang harus dilakukan seorang perfeksionis?

Melihat ke Dalam Diri Sendiri

Melepaskan sifat perfeksionisme harus dimulai secara jujur dari dalam diri sendiri. Ketakutan-ketakutan karena tidak memenuhi standar diri sendiri, ketakutan akan dihakimi oleh orang lain, dan  menghadapi keterbatasan hidup di dunia ini, perlu dikenali. Melihat ke dalam diri sendiri untuk mencari keterikatan dan gagasan yang menghambat kemajuan, seperti – baik secara sadar atau tidak sadar – menganggap tindakan menghindar adalah suatu jalan keluar.

Mendefinisikan Kesempurnaan

Ada perbedaan besar antara kesempurnaan dan perfeksionisme. Perfeksionisme itu merintangi, sedangkan kesempurnaan adalah sebuah cita-cita dari potensi yang tak terbatas. Cita-cita apa yang dituju seseorang yang dapat menentukan lintasan hidup seseorang.

Apakah cita-cita itu berupa karakter moral, usaha kreatif, atau pelayanan kepada orang lain, semua itu berguna, menginspirasi, dan memotivasi visi dari cita-cita tersebut.

Fokus pada Kemajuan

Meskipun seorang perfeksionis terlalu terobsesi setelah membayangkan cita-cita mereka, tetapi mereka diam di tempat. Mereka pernah mengalami kekecewaan sebelumnya karena tidak dapat mewujudkan visi yang sempurna dalam pikiran mereka, sehingga mereka seolah terjebak dalam inersia, mereka lebih memilih melihat-lihat Instagram, atau menata ulang laci kaus kaki mereka.

Cara untuk mencegah tindakan menghindar ini dengan fokus hanya pada kemajuan, bukan mencapai kesempurnaan. Seorang perfeksionis bahkan boleh mengafirmasi dirinya jika cara paling sempurna untuk memulai adalah dengan membuat sedikit kemajuan dan merayakannya di setiap langkah.

Hidup itu panjang dan tidak sempurna, tetapi mengarah kepada cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan adalah berharga. Cara untuk mewujudkannya adalah dengan membuat kemajuan yang konsisten dari waktu ke waktu. Digarisbawahi sekali lagi: fokus pada kemajuan, bukan kesempurnaan. Seseorang dapat mengarah pada konsep kesempurnaannya saat ini tanpa pernah membutuhkan atau mencapai kesempurnaan. Caranya adalah dengan fokus pada kemajuan.

Tetap Fleksibel

Ketika seseorang mengarah pada cita-citanya, dia diharapkan dapat belajar di sepanjang perjalanan, mendapatkan suatu kebijaksanaan dan perspektif baru. Pemahaman seseorang tentang kesempurnaan kemungkinan besar akan berubah, hal ini dapat membawa kenyamanan bagi seorang perfeksionis yang sedang “memulihkan diri”.

Ketika seseorang mengambil tindakan yang konsisten, merayakan peningkatan bertahap sepanjang perjalanan, tetap terbuka terhadap ide-ide dan kemungkinan baru serta mempertahankan fleksibilitas juga dapat memerangi kecenderungan menuju sifat perfeksionisme yang keras kepala.

Menghargai Setiap Langkah

Akhirnya, pengakuan rendah hati seorang manusia yang tidak mungkin mencapai kesempurnaan karena keterbatasan manusiawinya, dapat menjadi penghiburan besar bagi seorang perfeksionis. Daripada meratapi keterbatasan, kita dapat menghargai setiap jengkal langkah menuju cita-cita tertinggi yang dapat kita miliki dan sebagai gantinya kita dapat bertumbuh serta mendapatkan pencerahan.

Seorang perfeksionis adalah seseorang yang terjebak, tidak mau berubah, dan tidak mau mencoba agar terhindar dari penderitaan. Ketika dia menyadari dapat menuju kesempurnaan, tidak pernah mencapainya, namun masih menemukan kepuasan yang luar biasa sebagai hasilnya, sifat perfeksionisme itu akan dapat disingkirkan. (barbaradanza/theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI