Menjadi orang tua umumnya adalah suatu berkah bagi setiap pasangan. Namun demikian, “menjadi orang tua” yang baik adalah hal yang berbeda. Ini merupakan proses pembelajaran sekaligus juga tantangan tersendiri bagi orangtua.
Beberapa orangtua berpendapat jika proses parenting sesungguhnya seperti trial dan error. Karena setiap anak dilahirkan dengan karakter dan pribadi yang berbeda, maka proses parenting bagi setiap anak juga tidak sama.
Namun dengan banyaknya informasi yang tersedia dan berkonsultasi pada sumber-sumber yang tepat, proses yang dianggap sebagai trial dan error mungkin lebih dapat diminimalisir.
Seorang anak, berapapun usianya adalah suatu pribadi yang utuh dan lengkap. Secara alami mereka telah memiliki karakter bawaan masing-masing. Namun demikian, proses pembentukan karakter, umumnya terjadi di dalam keluarga. Bahkan proses pembelajarannya sudah dapat dimulai sejak anak semuda 18 bulan. Di usia ini umumnya anak mulai memiliki keingin-tahuan yang tinggi dan ingin mengekplorasi banyak hal. Maka saat anak memasuki usia toddler atau batita (bawah tiga tahun) ini, dianggap saat yang tepat untuk mulai mengenalkannya regulasi emosi.
Apakah Regulasi Emosi?
Apakah regulasi emosi? Menurut laman psychologytoday.com regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kontrol atas kondisi emosinya sendiri. Pengenalan awal tentunya dilakukan oleh orangtua.
Karena pada usia dini, anak masih belum dapat mengenali emosinya sendiri. “Saat anak memasuki usia 1,5 tahun, kira-kira sudah mulai menunjukkan tanda-tanda tantrum, karena pada usia tersebut anak belum dapat atau tidak bisa menyampaikan apa yang dia rasakan” jelas Anggita Hapsari, M.Psi, seorang psikolog klinis anak dan remaja pada diskusi live Instagram @smartkidclinic. “Nah, antara usia 18 ? 16 bulan atau di saat batita itulah saat yang tepat untuk mengenalkan anak pada regulasi emosi. Karena anak yang tantrum sebenarnya sedang melakukan protes untuk mendapatkan atensi orangtua. Maka orang tua perlu membantu anak untuk mengenali emosi-emosi yang timbul.”
Lebih lanjut Ghea, panggilan Anggita Hapsari, menjelaskan jika cara yang dapat dilakukan saat anak tantrum adalah dengan menunggu beberapa saat. Mungkin sekitar 1 menit, hingga emosinya sedikit mereda. Kemudian barulah orangtua dapat membantu anak mengidentifikasi emosinya sendiri. Seperti misalnya, “Adek marah ya?” atau “Kakak bosan ya?” atau “Sedih ya, nak?” dan lain sebagainya.
Orang tua dapat mencoba “menebak” apa yang membuat anak tantrum, kemudian perlahan mulai menenangkannya dan ditutup dengan pelukan. Tindakan terakhir ini adalah hal yang penting dilakukan, karena pelukan adalah salah satu cara untuk menunjukkan pada anak, bahwa apapun yang dilakukan oleh orangtua -yang membuatnya marah atau kecewa- sebenarnya dilakukan karena menyayanginya.
Pentingkah Regulasi Emosi?
Apakah regulasi emosi penting? Sangat penting, karena kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya tidak hanya akan terbawa saat usia sekolah, namun terus hingga dia dewasa dan berbaur dalam kehidupan bermasyarakat. Pada saat anak beranjak dewasa, dia diharapkan telah mampu mengelola emosinya sendiri ?terutama kecemasan dan kemarahan ? dengan cara yang dapat diterima secara sosial.
Namun demikian, mungkin tidak semua orangtua memahami tentang regulasi emosi, dan terlambat mengenalkan pada anak. Lantas bagaimana? Orangtua tetap dapat mencoba melakukan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan pada anak usia dini. Bedanya, orangtua dapat menambahkan dengan kata-kata dukungan dan menunjukkan empati, serta tidak langsung menghentikan reaksinya. Karena sebenarnya anak usia 6 ? 8 tahun telah memiliki lebih banyak perbendaharaan kata-kata dan semestinya perkembangan emosinya sudah lebih stabil.
Orangtua tetap dapat mencoba menebak kemana arah emosi anak pada saat itu. Apakah dia sedang marah, kecewa, atau sedih. Sampaikan padanya jika dia merasa marah atau benci atau apapun, lebih baik disampaikan pada pengasuh yang ada bersamanya saat itu. Mungkin agak sulit bagi anak untuk menyampaikan alasan mengapa dia marah atau benci. Maka orangtua dapat membantunya mengenali, apakah dia sedang kecewa atau marah. Apakah dia kecewa karena dilarang melompat-lompat di tempat tidur? Ataukah dia marah karena mainannya dipindahkan? Orangtua dapat mencoba menunjukkan rasa empati padanya.
“Berempati adalah kuncinya,” kata Ghea dalam diskusi berjudul “Tips dan trick memahami emosi anak” itu. Adalah penting bagi orangtua dari anak usia berapapun untuk berempati pada emosi anak. Mengapa? Karena, saat orangtua berusaha memahami perasaan anak dan lebih menjadi “supporter” daripada “stopper,” maka orangtua akan dapat berpikir logis dan lebih mudah menyampaikan alasan untuk menenangkannya. Jika tidak, orangtua akan lebih cepat merasa kesal, dan menjadi mudah terpancing oleh emosi anak. Hasilnya pun tidak akan maksimal.
Lebih lanjut, dijelaskan dalam laman psychologytoday.com mengapa regulasi emosi penting. Saat orang dewasa gagal mengontrol emosinya, mereka akan mengatakan atau melakukan hal-hal yang akan disesali di kemudian hari. Dan jika hal ini sering terjadi maka, seiring waktu, akan berdampak negatif pada kesehatan pribadi dan hubungan sosial seseorang.
Maka, belum terlambat untuk mulai berempati pada emosi anak saat ini. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

