Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, menyisakan hitungan hari untuk merayakan datangnya Natal. Pusat-pusat perbelanjaan telah mendekorasi interiornya untuk menyemarakkan hari besar bagi umat Kristiani ini. Di rumah pun tidak kalah meriahnya. Mendekorasi ruangan dengan pernak-pernik Natal, memasang lampu-lampu kecil pada pohon Natal, atau membungkus kado-kado menambah keceriaan di musim perayaan.
Pohon berbentuk piramida yang dikenal sebagai pohon Natal ini seolah telah menjadi elemen yang melekat saat perayaan Natal. Laman history.com menyebutkan Jerman dipercaya sebagai negara yang memulai tradisi pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang ini ketika umat Kristiani membawa pohon hias ke rumah mereka. Kemudian dilanjutkan tradisi menghias pohon Natal dengan lilin yang dikenalkan oleh Martin Luther, pada abad ke-16.
Makna sebuah pohon mungkin berbeda satu sama lainnya. Bagi sebagian orang, pohon Natal bukan hanya sebagai penghias, namun juga sebagai bagian dari tradisi perayaan yang telah dilakukannya selama ini. Seorang kerabat jauh, wanita lansia yang telah ditinggalkan pasangannya bertahun-tahun lalu, menganggap pohon Natal sebagai bagian dari kenangan Natal bersama suami tercintanya. Kerabat lain yang tahun ini memutuskan untuk melaksanakan misa Natal secara daring di rumah, menjadikan pohon Natal beserta pernak-perniknya di rumah, sebagai pengganti suasana Natal di gereja dalam versi yang lebih sederhana. Dalam hal ini, pohon Natal melambangkan cinta, kesetiaan dan penghormatan yang berperan penting dalam mendukung serangkaian prosesi Natal.
Martin Luther yang terpesona oleh kecemerlangan bintang yang berkelap-kelip di tengah pepohonan hijau, membuatnya berhasil menciptakan ide untuk menyematkan lilin menyala pada ranting-ranting pohon yang didirikan di rumahnya. Bagi orang lain, kehadiran bintang-bintang di malam hari mungkin hanya fenomena alam biasa, namun bagi Luther, pemandangan itu begitu istimewa sehingga dia ingin menangkap kembali pemandangan itu serta membagikannya pada keluarganya. Disini pohon Natal mewakili sebuah harapan dan kelahiran kembali.
Selanjutnya, pohon cemara dipilih sebagai pohon yang paling umum dibawa ke dalam rumah karena keberhasilannya mempertahankan hijau daunnya diantara “dormacy” tanaman-tanaman lain di musim dingin. Pilihan populer lainnya biasanya jatuh pada pohon pinus atau cedar. Namun, satu kesamaan dari semua pohon-pohon Natal ini, baik cemara, cedar, atau pinus ? semuanya evergreen ?berwarna hijau. Memaknai pohon Natal dalam kehidupan suatu individu, dapat diibaratkan sebagai seseorang yang dapat menjaga pikiran jernih dan lurusnya di tengah carut marut kehidupan dunia. Dia melambangkan suatu keteguhan dan keabadian.
Terlepas dari pro dan kontra yang pernah mengikutinya, saat ini banyak umat Kristiani yang memasang dan mendekorasinya seperti yang dilakukan profesor teologi kebangsaan Jerman tersebut. Mengapa? Karena menghias pohon natal, mendekorasi ruangan dengan pernik-pernik natal, memasang lampu-lampu natal, maupun membungkus kado-kado untuk diletakkan di bawah pohon natal terasa sangat menyenangkan saat dilakukan bersama anggota keluarga. Ada kerinduan, kekeluargaan, dan kebersamaan yang hadir disana. Selamat menantikan Hari Natal. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

