Kebanyakan orang tua pasti setuju jika kepercayaan adalah salah satu pondasi dalam membangun hubungan dekat dengan anak-anak. Saat anak telah menaruh kepercayaan pada orang tuanya maka dia menyadari sedang menyandarkan kebahagiaannya tanpa rasa takut pada orangtuanya
Kepercayaan dapat terjalin dari berbagai bentuk dan interaksi. Semua orang tua pasti berusaha untuk membangunnya. Namun ada kalanya mereka juga merasa kesulitan, karena banyaknya interupsi dari luar baik dari internet, game, teman, atau hal-hal lainnya. Pola pengasuhan telah jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelum gawai mulai mengambil alih.
Berikut beberapa tips agar orang tua tetap dapat berpegang pada bagaimana membangun hubungan dengan anak-anak generasi masa kini.
1. Role mode
Studi lanjutan Eksperimen Marsmallow.
Sebuah penelitian yang mempelajari tentang gratifikasi tertunda atau delayed gratification (kemampuan menahan diri untuk mendapatkan kepuasan) pada anak-anak, menetapkan bahwa kemampuan untuk menunda kepuasan tersebut berkaitan dengan kesuksesan dalam hidup anak-anak kelak.
Studi lanjutan lain dari The University of Rochester menemukan bahwa kelompok anak yang diberikan hadiah sesuai janji, setelah berhasil menahan diri, melakukan dengan lebih baik, dibanding kelompok anak yang tidak diberikan hadiah sesuai yang dijanjikan.
Ini menjadi tolok ukur yang jelas bagi para orang tua, bahwa menepati janji adalah hal yang penting untuk membangun kepercayaan dan sekaligus melatih anak menjadi lebih baik. Jangan membuat janji yang sekiranya Anda akan kesulitan menepatinya. Jika terpaksa Anda tidak dapat menepati janji, jelaskan alasannya kepada anak-anak dan buatlah rencana lain untuk menebusnya.
2. Percaya pada anak
Salah satu cara membangun kepercayaan anak pada orang tua yakni dengan mulai percaya padanya. Semua orang tua pasti sangat ingin mempercayai anak-anak mereka, tetapi kadang-kadang anak-anak membuatnya lebih sulit dengan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua,
Mulailah dengan memberikan tugas-tugas sederhana pada anak dan percayakan tugas itu sepenuhnya. Sebagai contoh, menyiram tanaman. Berilah kesempatan padanya untuk melakukannya. Saat dia lupa, orang tua hanya perlu mengingatkannya, sebaiknya jangan menggantikannya. Ketika mereka telah terbiasa dalam satu tugas kecil, orang tua dapat menambahkan tugas lain yang lebih besar.
3. Menjadi Teman dan Bersikap Responsif
Jadilah temannya. Siapkan diri Anda untuk untuk mendengarkan, bertukar pikiran, dan berkompromi. Ini akan memberi anak Anda ruang dan kepercayaan untuk membangun kemandiriannya.
Jangan berharap terlalu tinggi, karena mungkin akan menimbulkan kekecewaan Anda saat anak-anak tidak melakukan sesuai harapan. Kemudian hal ini akan membuat keraguan pada diri anak-anak sendiri. Alih-alih berharap terlalu tinggi, bimbing anak-anak tanpa menghakimi saat mereka belajar mengambil keputusan dan kesalahan.
4. Mengancam Tanpa Tindak Lanjut
Sama halnya dengan menjanjikan suatu hal yang tidak masuk akal. Memberikan ancaman tanpa menerapkannya, sama saja dengan membuat ultimatum yang “tidak akan pernah terjadi.” Alih-alih mengatakan “tidak dperbolehkan makan snack ‘seumur hidup’” lebih baik menerapkan “tidak diperbolehkan makan snack selama belum merapikan mainannya.”
Menerapkan sanksi setelah melakukan kesalahan mutlak dilakukan untuk menunjukkan ketepatan “janji” orang tua dalam menerapkan hukuman sekaligus mengenalkan pada anak-anak akan konsekuensi suatu perbuatan yang tidak sesuai kesepakatan.
Memiliki sifat yang dapat dipercaya penting untuk dimiliki seorang anak karena nantinya akan membantu mereka membangun ikatan, mengajarkan mereka bagaimana bentuk bekerja sama, dan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Oleh karena itu, membangun kepercayaan antara orang tua dan anak sedari kecil diharapkan dapat menjadi pondasi yang tepat. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
