Tahukah Anda jika dunia internasional memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day pada 21 Februari? Meski sama-sama diperingati di bulan Februari, namun tampaknya belum banyak yang mengenal hari itu, dibandingkan hari Valentin.
Pertama kali diumumkan oleh UNESCO (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada November 1999 namun baru secara resmi dicanangkan pada 2008 bersamaan dengan penetapan tahun 2008 sebagai Tahun Bahasa Internasional (International Year of Languages). Hari Bahasa Ibu Internasional ini dicanangkan karena setidaknya 43% dari sekitar 6000 bahasa yang digunakan di dunia terancam punah.
Di Indonesia sendiri, penelitian yang dilaksanakan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pemetaan bahasa di Indonesia dilakukan sejak 1991 hingga 2019. Dari penelitian tersebut didapatkan, bahasa daerah (tidak termasuk dialek dan subdialek) di Indonesia yang telah diidentifikasi dan divalidasi sebanyak 718 bahasa dari 2.560 daerah pengamatan. Namun demikian, menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu 2019 menyampaikan bahwa terdapat 11 bahasa yang dikategorikan punah, empat bahasa kritis, 22 bahasa terancam punah, dua bahasa mengalami kemunduran, 16 bahasa dalam kondisi rentan (stabil, tetapi terancam punah), dan 19 bahasa berstatus aman.
Terlepas dari kondisi beberapa bahasa ibu dunia yang terancam punah, bahasa ibu sangat penting bagi perkembangan seorang anak.
Apakah bahasa Ibu?
Bahasa Ibu atau mother language atau native language atau mother tongue adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak. Di mana pun anak itu lahir, saat ia memperoleh atau menguasai bahasa pertamanya maka bahasa yang dikuasai itu merupakan bahasa Ibu. Umumnya, bahasa pertama yang dikuasai seorang anak adalah bahasa Ibu (bahasa daerahnya) bukan bahasa Nasional atau Internasional.
Mengapa bahasa ibu sangat penting?
Profesor Jim Cummins dari University of Toronto menunjukkan bahwa bahasa ibu memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan keseluruhan anak-anak. Ketika anak-anak mengembangkan keterampilan dalam dua atau bahkan tiga bahasa, mereka mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana membentuk kalimat dan ungkapan dan menggunakan bahasa-bahasa tersebut secara lebih mudah dan efektif.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa keterampilan dan konsep apa pun yang diperoleh dalam bahasa Ibu, tidak harus diajarkan kembali ketika mereka berpindah pada bahasa kedua. Keterampilan tersebut dapat ditransfer ke dalam pendekatan pembelajaran bahasa lain, sehingga jika seorang anak harus memikirkan cara menyampaikan kalimat dan kapan menggunakannya, identitas budaya mereka juga dapat dengan mudah diadaptasi.
Ini artinya, semakin kuat bahasa ibu anak-anak, semakin mudah bagi mereka untuk mempelajari bahasa baru. Anak-anak yang memiliki dasar bahasa ibu yang kuat, akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan literasi (melek huruf) yang lebih baik dalam bahasa lain yang mereka pelajari. Keterampilan inilah yang mereka bawa ke dalam pendidikan formal.
Lebih jauh lagi, literasi dapat diartikan sebagai kualitas atau kemampuan melek huruf atau aksara seseorang yang meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pentingnya literasi yang memadai pada seorang anak, pada akhirnya saat dia dewasa akan lebih mampu menjaga kesehatan pribadi karena kemampuannya memahami dan menafsirkan informasi kesehatan, mengadopsi praktik kesehatan preventif dan mendeteksi masalah sehingga mereka dapat dirawat lebih awal, atau membuat pilihan yang tepat di antara begitu banyak opsi perawatan kesehatan, menurut Project Literacy Central Okanagan Society.
Oleh karena itu, Cummins menyampaikan betapa pentingnya orang tua berbicara dan mengajarkan bahasa ibu mereka sendiri kepada anak-anak mereka. Namun demikian, mengajarkan bahasa kedua di rumah juga merupakan pendekatan yang sehat untuk pembelajaran bagi orang tua dan juga mengembangkan penggunaan bahasa dan ekspresi pada anak.
Ketika suatu bahasa semakin memudar, keanekaragaman budaya pun lambat lain akan punah. Kita tahu, bahasa adalah instrumen paling kuat untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya baik yang berwujud dan tidak berwujud. Entah bahasa Ibu maupun bahasa Nasional, selain digunakan untuk berkomunikasi, juga memiliki banyak fungsi sosial dan kultural, seperti untuk menandakan identitas suatu kelompok, stratifikasi sosial dan hiburan, dan sebagai pengantar dalam pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, karena proses globalisasi, banyak bahasa daerah yang kemudian terancam rentan, punah, atau bahkan menghilang. (NTDindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
