Keluarga

Mengajarkan Anak Lebih Sadar Lingkungan

@Unsplash

Dewasa ini, sadar lingkungan bukan lagi suatu pilihan, namun telah menjadi keharusan bagi setiap individu. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga perlu dikenalkan sedari kecil. Karena merekalah yang nantinya akan meneruskan perhatian dan kecintaan pada lingkungan ini agar generasi yang akan datang tidak semakin “memperberat” beban planet tercinta ini.

Seperti diketahui isu global warming sudah banyak dilontarkan dari berbagai pihak dari beberapa tahun belakangan ini. Pada kenyataannya, Bumi memang semakin menghangat dibandingkan beberapa dekade lalu. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kenaikan suhu global Bumi sekitar 1 derajat Celcius (2 derajat Fahrenheit) sejak 1880. Data ini diungkapkan oleh riset yang dilakukan  oleh beberapa badan yang berbeda, seperti  GISTEMP dan Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua NASA.

Belum lagi masalah pembuangan sampah akhir. Meskipun di beberapa negara telah melakukan tindakan preventif seperti pelarangan penggunaan plastik atau pada tingkat “sedang” mempertimbangkan penggunaan plastik, mewajibkan pengolahan limbah sebelum masuk pembuangan sampah, atau menerapkan larangan dan menetapkan pajak pada sampah-sampah yang masuk dalam kategori berbahaya, namun belum semua negara mampu dan bisa menerapkannya.

Adalah kewajiban negara untuk menetapkan kebijakan yang lebih ramah lingkungan, namun demikian kesadaran akan lingkungan tetap dimulai dari diri masing-masing individu. Terutama pada anak-anak, akan lebih baik jika mengenalkan sadar lingkungan sedari kecil, karena hal tersebut akan terbawa dalam karakternya hingga dewasa. Sebagai orang tua, tentu ingin mengajarkan yang terbaik pada anak-anaknya. Namun demikian, mengajar anak agar lebih sadar lingkungan seolah-olah sulit dilakukan, namun sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

  • Mengenalkan pada alam

Memperkenalkan pada alam adalah cara paling sederhana untuk mengenalkan konsep sadar lingkungan pada anak. Daripada berjalan-jalan ke mal atau tempat hiburan lainnya, cobalah sesekali mengajak anak berwisata alam seperti ke sawah, hiking, berkemah, atau hanya bersepeda berkeliling –mengenalkan anak untuk menggunakan transportasi tanpa mesin. Dengan mengenalkan alam, lambat laun anak akan merasa nyaman dan menyukainya. Jika dia sudah menikmati, dengan sendirinya akan timbul rasa hormat dan mencintai alam.

  • Menanamkan kebersihan dan kesadaran akan sampah

Menanamkan pola kebersihan pada diri anak dapat dimulai dengan “jangan membuang sampah sembarangan”. Tentu saja, mengajarkan pola kebersihan pada anak memerlukan contoh dari orang tua. Seperti misalnya, saat berjalan-jalan, ajarkan pada anak untuk “menyimpan” sampahnya sampai menemukan tempat untuk membuang sampah. Selain itu, ajarkan pada anak untuk mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak dapat diurai oleh alam. Seperti mengurangi penggunaan kantong plastik atau membatasi pembelian minuman berkemasan botol plastik. Alih-alih membeli botol kemasan, lebih baik membawa botol air sendiri dari rumah.

  • Memilah sampah

Ajarkan pada anak untuk memilah sampah dan berikan alasannya mengapa perlu memisahkan sampah organik dan non-organik. Biarkan anak mengerti jika setiap individu dapat mengurangi sampah di dalam rumahnya, setidaknya sedikit mengurangi sampah di pembuangan akhir. Bayangkan jika setiap rumah tangga menerapkan hal ini, berapa banyak sampah yang dapat dihemat. Anda dapat menyediakan dua tempat sampah di rumah, agar anak langsung dapat mempraktekkannya. Untuk sampah organik, Anda dapat mengolahnya menjadi kompos dan menggunakannya saat berkebun. Biarkan anak melihat saat Anda melakukannya.

  • Berkebun bersama

Sisihkan waktu untuk menanam tanaman bersama anak-anak. Bisa berupa tanaman obat yang dapat dipanen rimpang atau daunnya, atau tanaman berbunga. Anda dapat menanyakan pada anak, mana yang dia sukai. Juga berikan tanggung jawab pada anak untuk menyiram dan mengolah tanahnya. Tentu saja Anda tetap perlu mendampingi saat anak melakukannya.

  • Menghemat air dan makanan

Konsep 3R dalam hirarki sampah, reuse-reduce-recycle ini masih tetap relevan hingga saat ini, meski gaungnya sudah dimulai sejak dua dekade lalu. Kata “sampah” disini bukan hanya botol bekas atau wadah bekas, namun juga air dan makanan itu sendiri. Menghemat air dapat dimulai dengan tidak membuang-buang air untuk hal yang tidak perlu. Misalnya, saat menyikat gigi, jangan biarkan air mengucur dari keran. Untuk makanan, kenalkan konsep kadaluarsa, agar anak dapat memilah saat akan membeli makanan. Ajarkan juga untuk melihat isi lemari sebelum membeli makanan baru, agar makanan yang sudah ada tidak dibuang percuma.

  • Daur ulang

Ajarkan anak untuk mendaur ulang sampah yang tidak dapat diurai oleh alam seperti plastik. Selain membangun kreativitas, juga membantu mengurangi sampah pada pembuangan sampah akhir. Selain itu, Anda juga dapat mengikuti beberapa kegiatan yang berkaitan dengan daur ulang. Saat melakukan bersama komunitas, anak secara tidak langsung akan membangun kesadarannya akan lingkungan.

Ini beberapa kiat yang dapat Anda lakukan untuk mengenalkan anak akan sadar lingkungan. Anda dapat mencari informasi secara daring mengenai cara-cara melakukan daur ulang, mengolah sampah menjadi kompos, memilih tanaman mana yang membutuhkan banyak air dan mana yang tidak, termasuk bagaimana mengajarkan semua itu dengan cara yang disukai anak. Namun yakinlah, ini adalah cara terbaik untuk membantu anak ikut menjaga lingkungan di kemudian hari. (NTD Indonesia/ averiani)