Keluarga

Mengajarkan Sopan Santun Sejak di Usia Dini

Keluarga
Keluarga. @Pexels

Di tengah dunia yang serba cepat ini, mengajarkan anak-anak untuk bersikap sopan adalah suatu hal yang lebih penting dibanding masa-masa sebelumnya. Sebagai generasi alpha, anak-anak ini telah dikelilingi oleh teknologi digital sejak lahir. Meski mereka jauh lebih mudah dan lebih cepat beradaptasi dengan teknologi tercanggih sekalipun dibandingkan generasi lainnya, namun, di sisi lain, sebagai orang tua, tentunya tidak ingin anak-anaknya hanya mahir di bidang teknologi saja. Mereka tetap merasa perlu untuk membekali anaknya dengan karakter yang kuat sebagai penyeimbang agar nantinya akan menjadi individu yang bermartabat.

Salah satu hal yang mendukung pengembangan karakter adalah kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, mereka perlu diajarkan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan santun sebagai bekal dalam kehidupan mereka di masa mendatang. Namun, mengenalkan konsep sopan santun pada anak ini tidak dapat dilakukan sesekali, harus dimulai sejak anak masih berusia dini. Tentu saja tahap-tahap perkenalan disesuaikan dengan usia anak dan dimulai dari hal-hal yang bersifat mendasar terlebih dahulu.

Beberapa hal mendasar yang dapat diajarkan pada anak-anak sejak usia dini, antara lain:

Mengenalkan konsep “Hai” dan “Selamat tinggal.”

Bahkan sebelum anak dapat berbicara, dorong si kecil untuk melambaikan tangan saat bertemu dan mengucapkan selamat tinggal pada seseorang. Ini adalah langkah pertama mengajarkannya cara mengenali dan menyapa orang, kata Sheryl Eberly, penulis 365 Manners Kids Should Know. “Salah satu cara untuk berlatih  yakni dengan mengucapkan “selamat pagi” satu sama lain setiap hari,” tambahnya. Dan jangan lupa, Anda juga harus selalu mempraktikkannya pada pasangan dengan riang saat dia pulang dari kerja.

Mengajarkan anak menyampaikan “Tolong” dan “Terima kasih.”

Langkah kedua, ajarkan anak menyampaikan kata “terima kasih” setiap kali mereka menerima sesuatu atau menerima bantuan dari orang lain dan mengucapkan permintaan “tolong” setiap kali akan meminta bantuan dari orang lain, bahkan pada kerabat terdekat sekalipun seperti pada kedua orang tua maupun pada kakak dan adik. Dua kata santun ini juga dapat dikenalkan sedari usia dini.

Mungkin bayi Anda belum sepenuhnya memahami arti dari “tolong” dan “terima kasih” hingga dia sedikit lebih besar. Namun membiasakan dia untuk menggunakannya sejak usia dini akan memudahkannya terbiasa mengatakannya di saat telah dapat berbicara.

Anda dapat menggunakan baby sign languange untuk mengajarkannya bersamaan dengan mengajarkannya “meminta minum air putih” atau “meminta lagi.” Selain dapat memahami apa yang ingin disampaikan bayi, orang tua mendapatkan bonus mengajarkan sopan santun sedari dini.

Mengajarkan anak untuk merespon saat disapa.

Bahkan terkadang pada anak yang percaya diri sekalipun masih dihinggapi rasa malu saat disapa oleh teman barunya atau teman orang tuanya. Merespon sapaan adalah cara dasar sederhana bersikap sopan saat bersosialisasi. Dorong anak untuk membalas sapaan atau saat berkenalan dengan cara yang tepat. Jika perlu, peragakan padanya bagaimana cara menjabat tangan dengan kuat dan membalas sapaan. Seperti misalnya, menyebut kembali nama orang yang menyapa dengan: “Halo, Bu Widi, ” atau menyebutkan nama kita dengan tegas saat berkenalan, “Nama saya, Ajeng.”

Mengajarkan anak untuk tidak memotong pembicaraan.

Seiring dengan bertambahnya usia, ajarkan pada anak untuk tidak memotong pembicaraan. Baik saat orang tuanya berbicara maupun saat dia ingin menyampaikan sesuatu. Ini adalah salah satu masalah yang banyak dialami anak-anak, terutama anak-anak di usia preschool. Karena secara alami, saat masih kanak-kanak mereka cenderung egois, oleh karena itu, jika mereka memiliki suatu hal yang dipikirkan, mereka cenderung ingin segera mengungkapkan pikirannya.

Kabar baiknya, anak usia 5 dan 6 tahun lebih memiliki kemampuan untuk menunggu giliran berbicara, kata Jodi Stoner, Ph.D., psikoterapis klinis dan salah satu penulis “Good Manners Are Contagious,” seperti ditulis oleh Michelle Crouch dalam artikel berjudul “How to Teach Good Manners.” Mereka hanya perlu diajari dan diingatkan. Anda dapat menggunakan kode atau isyarat seperti kedipan mata, untuk mengingatkan mereka agar menunggu saat Anda sedang berbicara dengan seseorang.

Sebagai imbalannya, saat mereka telah sabar menunggu, pastikan agar Anda segera memberikan perhatian padanya. “Jangan membuatnya menunggu terlalu lama, karena dia akan menganggap Anda tidak menghormatinya,” lanjut Dr. Stoner. “Anak seusia ini tidak dapat duduk diam selama lebih dari lima menit – terutama jika dia menunggu Anda berbicara dengan saudara kandungnya. Pastikan bahwa Anda juga memperhatikannya, mungkin Anda dapat meliriknya dengan senyuman, yang mengatakan bahwa dia telah melakukan hal yang benar.” (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI