Keluarga

Mengapa Orang Saling Berteriak Saat Marah

@freepik

Kemarahan adalah zat asam yang lebih banyak menyebabkan kerusakan pada wadahnya dibandingkan tempat dia dituangkan.” – Mark Twain

Berteriak pada konteks tertentu merupakan indikasi dari kemarahan. Bagi sebagian orang, mungkin ini satu-satunya ekspresi agar pendapatnya didengar. Namun bagi lainnya, ini menyebabkan stress, menakutkan, dan merusak.

Jadi, apa yang sebenarnya membuat orang marah?

Kemarahan timbul tergantung pada bagaimana kita menafsirkan situasi tertentu dan bereaksi terhadapnya. Meskipun setiap orang mempunyai pemicu yang berbeda-beda, namun beberapa pemicu yang umum antara lain ketidakadilan, kehilangan kesabaran, dan perasaan jika pendapatnya tidak dianggap atau dihargai.

Namun demikian, niat baik, simpati, dan persahabatan yang sudah langka di masa kini, membuat kita lebih mudah terpancing untuk marah dan berteriak daripada berbicara baik-baik.

Jarak Kedua Hati

Untuk menggambarkan fenomena “saling berteriak” ini, kiasan tentang jarak antara dua hati memberi gambaran seberapa panjang jarak emosional yang diciptakan oleh kemarahan.

Bagi dua orang yang sedang bertengkar, jarak antara kedua hati, baik secara harfiah maupun kiasan, tercipta sangat jauh. Mereka tidak saling sinkron dan responsif secara emosional. Supaya kata-kata mereka dapat melintasi “jarak” tersebut, mereka harus saling berteriak agar dapat didengar. Ketika dua hati “menjauh” mereka mengatasinya dengan saling berteriak.

Berteriak, seringkali membangkitkan kemarahan yang lebih besar pada lawan bicara. Saat kedua belah pihak saling berteriak, jarak diantara mereka semakin menjauh sehingga mereka harus berteriak semakin keras.

Ilustrasi (Image: freepik)

Namun bagi dua orang yang saling mengasihi, hati mereka secara harfiah maupun kiasan saling berdekatan. Mereka saling memahami, maka cukup berbicara dengan lembut tanpa berteriak.

Orang umumnya mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan mereka secara konstan. Meski ekspresi wajah, tingkah laku, dan kata-kata yang dipilih memainkan peranan penting, namun yang terpenting adalah nada dan volume suara.

Dua orang yang mempunyai hubungan dekat, baik sebagai teman, pasangan hidup, atau rekan kerja, tidak kesulitan menyampaikan perasaan mereka, tidak seperti halnya pada orang asing. Mereka merasa dipahami oleh lawan bicaranya sehingga berbicara lembut karena tahu mereka tetap didengar.

Namun pada saat kemarahan terjadi, ketika jarak kedekatan antara dua orang itu mulai menghilang untuk sementara. Pihak yang marah merasa kurang dipahami oleh pihak lain, rasa frustasi akan menghalangi perasaan-perasaan lainnya. Maka orang ini merasa perlu meninggikan suaranya agar dapat didengar.

Berteriak adalah sesuatu yang menjerumuskan

Kombinasi antara nada, volume, dan kejernihan suara memberikan petunjuk pada pendengar tentang bagaimana pesan perlu ditafsirkan. Menyampaikan masalah dengan suara yang keras, seringkali lebih terlihat perilaku agresifnya daripada pesan didalamnya.

Perilaku agresif ini dapat dengan mudah membuat orang terjerumus untuk menguasai secara verbal dan bahkan kekerasan fisik. Belum lagi, penerimaan pendengar akan terganggu oleh semua teriakan penuh amarah. Akhirnya mereka menunggu giliran untuk membalas serangan dengan kata-kata penuh amarah juga.

Dr. Asa Don Brown, seorang penulis internasional dan pembicara terkemuka, menekankan bahwa: “Sebagai manusia, kita dikendalikan secara emosional, impulsif, konfrontatif, dan secara fundamental dipengaruhi oleh lawan bicara kita. Meskipun kita dikendalikan oleh lawan bicara kita.” Lanjutnya, “Berteriak dan konfrontasi verbal jarang menginspirasi atau memotivasi orang lain secara positif.”

“Apabila kita memotivasi melalui pendekatan positif, memberi semangat dan persuasif,” saran Brown, “kita cenderung dapat menciptakan suatu lingkungan yang positif.”   

Dengan menahan diri agar tidak berteriak, kita melatih pengendalian diri, kecakapan, dan tata krama. Dan hal yang terbaik adalah kita memiliki kesempatan yang lebih baik untuk didengar. Tetapi bagaimana mencapai hal ini?

Ilustrasi (Image: freepik)

Cara Menahan Diri agar Tidak Berteriak

Periksa diri sendiri: Apabila Anda merasa sedang diliputi kemarahan dan mulai berteriak, segera hentikan percakapan ditengah-tengah kalimat. Ubah pemikiran Anda dan pertimbangkan apakah maksud Anda sudah jelas dan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikannya.

Berlatih teknik menenangkan diri: Meskipun godaan untuk meluapkan amarah sulit ditolak, namun siapapun yang tidak tahan dan ingin berteriak, cobalah menarik napas dalam-dalam. Cara ini memiliki efek menenangkan. Tarik napas melalui lubang hidung, tahan selama beberapa detik lalu buang napas secara perlahan melalui mulut. Berhitung sampai sepuluh juga memiliki efek yang sama.

Tinggalkan tempat terjadinya konflik: Katakan pada diri sendiri dan lawan bicara Anda, “Saya perlu waktu.” Lantas, pergilah ke tempat lain, berjalan-jalan berkeliling gedung atau berdiri di luar dimana anda dapat melihat pemandangan alam. Fokuskan perhatian Anda pada suasana dan suara-suara di sekitar Anda. Pengalihan ini akan mengurangi dorongan untuk berteriak.

Lakukan aktivitas fisik: Daripada berteriak, lepaskan energi yang terpendam dengan berlari di tempat, menggoyang-goyangkan lengan, meregangkan kaki, atau bahkan memukul bantal untuk menyalurkan kemarahan dengan cara yang tidak melukai orang lain.


Permintaan maaf yang tulus akan memberikan ruang untuk berdiskusi secara rasional dan terhormat. (Image: freepik)

Jangan takut untuk meminta maaf: Permintaan maaf yang tulus atas kemarahan Anda akan mengubah nada percakapan secara drastis, serta memberikan ruang untuk berdiskusi secara rasional dan terhormat.

Juga, ingatlah ketika amarah kita bangkit, berteriak bukan satu-satunya jalan untuk menyampaikan pendapat. Dengan mempraktekkan komunikasi yang penuh belas kasih, akan dapat mengurangi jarak dua hati secara berlipat-lipat. (louisebevan/epochtimes/sia/feb)