Keluarga

Mengenali Baby Blues Sindrome Pada Ayah

Sindrome baby blues pada ayah
Ayah yang mengalami depresi umumnya kurang berinteraksi dan bermain bersama anaknya (Image: Zach Vessels/Unsplash)

Kelelahan, kekhawatiran, dan kegelisahan merupakan gejala baby blues syndrome yang banyak dialami ibu setelah melahirkan. Namun, belakangan diketahui, tidak hanya ibu yang mengalaminya. Rupanya banyak ayah yang mengalami juga. Menurut buletin MCPAP, edisi Mei 2017, yang dikeluarkan oleh The Massachusetts Child Psychiatry Access Program, sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders pada 2016 meneliti 74 studi dengan 41.480 peserta dan menemukan bahwa 8,4 persen ayah mengalami depresi pascapersalinan.

Buletin itu juga menyebutkan sebuah meta-analisis 2010 sebelumnya dalam Journal of American Medical Association menilai 43 studi dari 28.000 ayah dan menemukan bahwa rata-rata 10,4 persen menderita depresi antara trimester pertama kehamilan pasangan mereka dan ulang tahun pertama anak.

Berbeda dengan ibu yang mengalami baby blues syndrome utamanya akibat perubahan hormonal, baby blues syndrome pada ayah atau lebih dikenal dengan Paternal Postnatal Depression lebih pada perbedaan ayah dalam menghadapi tekanan itu sendiri. Ayah, pada umumnya cenderung tidak mengekspresikan emosinya, kesulitan mengakui adanya kerentanan, dan menarik diri. Kondisi umum ini justru semakin memperparah depresi ayah. “Depresi pascapersalinan pada pria adalah nyata dan perlu diidentifikasi dan ditangani,” kata Michael Yogman, MD, seorang dokter anak Cambridge dan penulis bersama laporan klinis American Academy of Pediatrics (AAP).

PPND (Paternal Postnatal Depression) adalah kondisi umum di antara pria setelah kelahiran anak. Sebanyak 1 dari 4 ayah dari bayi baru lahir mengalami PPND, menurut laman postpartummen.com dalam artikel “Helping Men Beat The Baby Blues And Overcome Depression“. PPND adalah kondisi yang sangat serius, namun sangat bisa diobati. Jika tidak ditangani, PPND dapat mengakibatkan konsekuensi jangka panjang yang merusak si ayah sendiri, anak, dan keluarga secara keseluruhan.

Ayah yang mengalami depresi umumnya kurang berinteraksi dan bermain bersama anaknya. Keduanya akan kesulitan membentuk ikatan yang kuat, dan memiliki kemungkinan empat kali lebih besar, ayah memukul anaknya. Anak yang tidak mendapatkan manfaat dalam hubungan ayah, dapat menyebabkan peningkatan masalah perilaku anak pada usia tiga dan lima tahun, gejala internalisasi anak dan remaja, dan risiko psikopatologi yang lebih tinggi secara keseluruhan, terutama pada anak laki-laki. Lebih lanjut Dr. Yogman menyebutkan, “Depresi pada ayah adalah masalah yang sangat serius bagi pria dan keluarga. Ini meningkatkan risiko keretakan perkawinan dan penyakit mental pada anak-anak.”

Lantas, bagaimana cara mengenali apakah seorang ayah, sedang mengalami PPND? Hampir sama dengan evaluasi depresi pada ibu, evaluasi depresi pada ayah juga menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Ini adalah langkah pertama dalam mengenali adanya masalah dan sangat penting dilakukan jika ayah memiliki riwayat depresi. Evaluasi ini paling banyak digunakan untuk depresi dan kecemasan pascapersalinan dan telah diuji dan terbukti efektif pada pria.

Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dapat dilihat atau diunduh pada laman http://postpartummen.com/postpartum-depression. Dalam penilaian tersebut, dapat dikategorikan dalam dua tingkat. Skor 5 hingga 8, dikategorikan sebagai gangguan kecemasan dan skor 9 hingga 10, dikategorikan sebagai menderita depresi. Skor lebih dari 5, disarankan untuk melakukan penilaian lebih lanjut pada profesional kesehatan mental. (NTDindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI