Keluarga

Mengenalkan Arsitektur pada Anak

Anak bermain balok susun (Tatiana syrikova @pexels)
Anak bermain balok susun (Tatiana syrikova @pexels)

Tanggal 18 Maret 2022, Indonesia merayakan Hari Arsitektur Indonesia. Arsitektur, jika tidak dikatakan memiliki peranan penting, setidaknya berkontribusi besar pada perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari peninggalan-peninggalan bangunan bersejarah seperti candi, istana, gaya arsitektur, dan lain sebagainya.

Karena umumnya karya arsitektur, entah dalam bentuk bangunan atau struktur, digunakan sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan budaya pada peradaban di masa itu. Kemudian kelak di masa depan, karya arsitektur itu akan dianggap sebagai simbol kultural dan menjadi karya seni di masa itu. Oleh karena itu peradaban di suatu periode terkadang diidentifikasikan melalui pencapaian-pencapaian arsitektur dari peninggalan yang tersisa.

Mengenalkan arsitektur khas daerah setempat pada anak-anak kita adalah salah satu cara kita mulai mengenalkan budaya kita pada mereka. Tentu saja budaya bisa dikenalkan melalui banyak cara. Namun mengenalkan arsitektur khas daerah setempat sama juga mengenalkan gaya arsitektur vernakular yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal, menggunakan bahan bangunan lokal yang mudah didapatkan, dan mencerminkan tradisi lokal.

Meskipun mungkin saat ini tidak mudah menemukan arsitektur vernakular, namun orang tua dapat mencari info di mana tempat-tempat yang terdapat bangunan vernakular dan mengunjunginya langsung atau melalui virtual.

Lebih jauh lagi, mengajarkan arsitektur pada anak juga dapat membantunya mengenali bentuk sekaligus budaya berbagai bangsa. Kita dapat mengenalkan bentuk piramid dari Piramida Giza di Mesir, mengenalkan kerucut dari ujung stupa candi borobudur, mengenalkan silinder dari kolom-kolom Petra di Jordania, atau mengenalkan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Pengenalan ini cukup sederhana, namun dapat membuat anak-anak memahami bentuk yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari berbagai budaya yang dibawa oleh suatu bangunan, mengenalkan arsitektur sejak dini, dengan sendirinya juga mengenalkan anak-anak pada karakter bahan bangunan sekaligus meningkatkan kepekaan akan lingkungan sekitarnya. Juga mengajarkan mereka tentang matematika, geografi, seni merancang, dan lain sebagainya. Banyak hal yang akan mereka dapatkan.

Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan arsitektur pada anak-anak tanpa mereka “merasa” sedang diajari. Belajar sambil bermain dan beraktivitas adalah kuncinya.

Merancang bangunan dengan balok susun.

Minta anak-anak membuat sebuah rumah, gedung, atau bangunan apapun. Biarkan mereka membuat bangunan sesuai imaginasinya dengan balok-balok yang ada. Perhatikan saat mereka menyusun balok. Terkadang balok akan terjatuh karena mereka belum paham bagaimana menyusun balok dengan benar.

Saat jatuh berantakan, sampaikan padanya bahwa semua bangunan perlu memiliki dasar yang kuat untuk berdiri dengan tegak. Juga berikan pujian bahwa mereka telah membuat dasar yang kuat saat mereka berhasil “membangun” sebuah bangunan tanpa terjatuh. Ini adalah pelajaran konstruksi awal.

Membuat prototipe sederhana.

Melukis, menggambar, memotong, atau merekatkan adalah keterampilan penting dan tidak bisa dilupakan karena sangat berguna dalam proses merancang. Meski saat ini banyak aplikasi virtual yang dapat digunakan, namun merasakannya langsung, adalah pelajaran terbaik.

Pada anak yang lebih kecil, mintalah mereka membuat bangunan dalam bentuk dua dimensi. Sedangkan pada anak yang lebih besar, kita dapat meminta mereka membuat bangunan tiga dimensi dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita.

Bermain ukuran dengan tubuh mereka.

Desain dan arsitektur dibuat untuk digunakan manusia. Minta mereka mengukur benda-benda di sekitar kita dengan tangan, kaki, tinggi badan mereka. Nenek moyang kita telah menggunakan ukuran ini di masa lalu. Inch, feet, yard atau depa, pecak, kilak adalah contoh beberapa ukuran dari kebudayaan yang berbeda yang menggunakan tubuh manusia. Ini karena proporsi dan skala manusia sangat penting untuk merancang objek, perabot, rumah, maupun bangunan.

Dengan demikian, selain mengenalkan pengukuran menggunakan skala manusia, ini adalah cara yang bagus untuk belajar bagaimana menerapkan matematika dalam kehidupan nyata. Perkalian, pembagian, area, metrik, dan lain sebagainya. Arsitek menggunakan konsep ini setiap hari.

Bermain role play dengan presentasi.

Terakhir namun tidak kurang pentingnya adalah presentasi. Seorang arsitek pada akhirnya harus mempresentasikan rancangannya di depan klien dan perlu meyakinkan kliennya jika rancangan yang dia buat adalah yang terbaik dan paling sesuai dengan keinginan klien. Minta anak Anda mempresentasikan rancangan bangunan yang telah dia buat.

Mengapa mereka memilih bentuk tersebut, apa kelebihan dari rancangan yang mereka buat, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarah pada rancangannya. Dengarkan apa yang mereka sampaikan dan berilah penghargaan atas usaha mereka, apapun hasilnya.

Terlepas dari semua itu, design thinking atau proses merancang adalah proses untuk memecahkan masalah secara kreatif. Salah satu keterampilan terpenting yang dapat diajarkan pada anak-anak adalah belajar bagaimana menyaring informasi, memahami informasi, menciptakan solusi inovatif, menguji, bereksperimen, atau membuat prototipe.

Tidak ada benar atau salah di sini, tidak ada jawaban mutlak. Karena apa yang dilakukan mengarah pada eksperimen dan pemikiran kritis. Ini merupakan ketrampilan penting dalam kehidupan mereka kelak.

Selamat Hari Arsitektur Nasional! (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI