Sosok ibu mertua banyak dikisahkan sebagai karakter antagonis dalam sebuah cerita, baik sinetron maupun novel. Meski begitu, peran ibu mertua merupakan salah satu peran terpenting untuk menjaga dinamika keluarga yang sehat.
Pada kenyataannya, berperan sebagai ibu mertua memang sedikit unik (jika tidak ingin dikatakan rumit). Setelah bertahun-tahun berperan sebagai ibu dari putra-putri Anda, keahlian Anda akan diuji dengan peran baru sebagai ibu mertua.
Inilah titik penting untuk selangkah lebih maju dalam hidup Anda dan putra-putri Anda. Mungkin Anda perlu sedikit keleluasaan hati, sedikit perhatian, dan menambah pandangan agar dinamika keluarga tetap berjalan baik dan sehat.
Mengapa Menjadi Ibu Mertua dari Menantu Wanita, Sungguh “Unik”?
Dalam artikel “How to Be a Good Mother-in-Law and Grandmother,” Susan Adco menuliskan bahwa meskipun jaman telah berubah, namun perempuan masih tetap bertanggung jawab atas pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, dan urusan rumah tangga lainnya. Oleh karena itu, ego perempuan cenderung terikat dalam hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab tersebut. Para menantu wanita menanggapi kritik dengan sangat serius, entah kritik itu terbuka atau hanya tersirat.
Selain itu, V Warrier dan kolega dalam risetnya “Genome-wide meta-analysis of cognitive empathy: heritability, and correlates with sex, neuropsychiatric conditions and cognition” mendapatkan bahwa wanita lebih intuitif dan berempati dibandingkan pria. Mereka mungkin lebih bisa menangkap perilaku yang secara halus meremehkan yang mungkin terlewatkan oleh pria.
Namun, betapapun unik maupun rumitnya menjadi ibu mertua, ini adalah peran yang tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu Anda perlu belajar kembali seperti layaknya dulu Anda belajar menjadi orang tua baru. Memang bukan perkara yang mudah untuk menjalin hubungan dengan pasangan dari putra-putri Anda (yang sebelumnya sangat dekat dengan Anda), namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Berikut beberapa hal yang mungkin dapat dipertimbangkan agar tetap dekat dengan putra-putri Anda sekaligus dapat menjalin hubungan baik dengan pasangannya.
Menyadari peran baru
Perlu disadari bahwa peran Anda akan berkurang begitu putra-putri Anda menikah. Sebelumnya, mungkin Anda adalah orang terpenting dalam kehidupan putra-putri Anda. Namun, begitu mereka menikah, pasangan mereka akan mengambil posisi itu. Menerimanya dengan lapang dada akan membawa langkah besar menuju hubungan yang sehat.
Jangan menganggap pasangan putra-putri Anda sebagai saingan. Dalam hal ini, para ibu harus berusaha keras untuk tidak menempatkan putra-putrinya dalam posisi harus memilih antara dia atau pasangannya, bahkan dalam hal-hal yang paling sepele sekalipun. Ini bukanlah ajang pertempuran.
Anggap sebagai keluarga
Dr. Christy Rittenour, dari west virginia university, dalam risetnya “Communicative and relational dimensions of shared family identity and relational intentions in mother-in-law/daughter-in-law relationships,” mendapatkan bahwa menganggap menantu sebagai keluarga (bukan sebagai menantu), akan membangun ikatan yang kuat. Ini mungkin akan membantu Anda menjalin hubungan baik dengan putra-putri Anda dan pasangannya. Konsep “keluarga” akan membangun ikatan yang kuat dalam loyalitas, harmoni, dan komitmen.
Memperkenalkan menantu Anda sebagai “anak” alih-alih “menantu” meskipun tampaknya sederhana, akan membuat perbedaan yang besar. Ini akan menimbulkan “perasaan” dekat yang dibutuhkan untuk saling mendengarkan masalah masing-masing (dan tidak memberi nasehat kecuali diminta), mengajak satu sama lain untuk mengikuti kegiatan keluarga, dan tetap merangkulnya meski mereka memiliki hal-hal yang berbeda seperti agama, latar belakang budaya, atau pandangan hidupnya. Hal-hal ini akan dapat menguatkan dan menjalin komunikasi dengan lebih baik.
Berlaku adil
Berusahalah untuk berlaku adil pada menantu dan putra-putri Anda. Adil bukan berarti sama persis, namun memberikan nilai dan rasa yang sama pada mereka, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Terkadang perlakuan adil juga melibatkan kakak atau adik putra-putri Anda. Ketika Anda telah menganggap menantu Anda sebagai keluarga, istilah “ipar” baginya sudah semakin menipis bahkan hilang. Hanya ada istilah keluarga besar.
Selain itu Anda juga perlu menghindari untuk memihak salah satu. Saat putra-putri Anda dan pasangannya sedang berselisih, biarkan mereka menyelesaikan perselisihan sendiri, jangan ikut campur. Karena bagamanapun juga pasti Anda akan selalu berada di tim anak Anda, jika ikut melibatkan diri.
Simpan opini Anda
Fakta tentang “tidak ada dua raja dalam satu rimba” memang benar adanya. Ketika putra-putri Anda telah berumah tangga, mereka memiliki “otonomi” untuk memutuskan segala hal yang berkaitan dengan keluarga kecil mereka.
Maka, meskipun ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan Anda, dalam rumah tangga putra-putri Anda, sebaiknya tetap simpan opini Anda, kecuali mereka meminta pendapat Anda. Sampaikan pendapat Anda sebagai saran atau referensi, bukan untuk dipatuhi. Kembali lagi, segala keputusan tetap berada di tangan mereka.
Sebaliknya, jika ada hal buruk yang tidak seharusnya dilakukan oleh menantu Anda, sampaikan dengan baik dan bijak, untuk kebaikannya sendiri. Namun perlu diingat untuk tidak mengkritisinya terang-terangan di hadapan banyak orang. Ini akan membuatnya merasa “diserang” dan meminta pasangannya untuk membelanya. Bagaimanapun juga, sebagai orang yang lebih tua, Anda lebih berpengalaman dan lebih dapat melihat dari perspektif berbeda yang belum pernah dilihat oleh menantu Anda.
Pada akhirnya, betapapun unik maupun rumitnya peran baru Anda, bagaimanapun juga menantu Anda adalah pasangan hidup putra-putri Anda, yang telah berjanji untuk saling mendampingi selama sisa hidup mereka, maka peluklah dan terimalah mereka semua apa adanya. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

