Keluarga

Menjelajah Takdir – Apakah Pernikahan Anda Sudah Diatur?

Pasangan suami istri (Mart Production @ Pexels)
Pasangan suami istri (Mart Production @ Pexels)

Sepanjang hidup, kita memiliki kenalan yang tak terhitung jumlahnya, teman yang datang dan pergi, dan sedikit orang spesial yang membentuk hubungan yang kuat.

Lantas apa yang menentukan siapa yang akan menjadi teman dekat kita, lawan kita, atau pasangan hidup kita? Ilmu pengetahuan modern tidak memiliki cara untuk menjelaskannya, jadi kita hanya bisa menyebutnya sebagai “takdir”.

Tapi apakah takdir itu? Dan bagaimana ikatan pernikahan bisa ditentukan sebelumnya? Beberapa orang telah menemukan jawaban melalui terapi regresi kehidupan masa lalu.

Semakin populer, terapi regresi kehidupan masa lalu digunakan dalam menggali kehidupan masa lalu untuk menemukan akar permasalahan kehidupan di saat ini. Dalam keadaan terhipnosis, subjek seolah “kembali” ke masa lalu.

Dengan cara yang nyata dan koheren secara logis, jauh melampaui kenyataan yang dibayangkan. Ketika orang dengan penyakit mental atau sakit kronis dapat mengalami kembali konflik mereka dari kehidupan di masa lalu, dan akhirnya memahami hubungan sebab dan akibat dengan tindakan di masa lalu, pemulihan yang ajaib seringkali terjadi.

Dr. Weiss, penulis buku terlaris “Many Lives, Many Masters,” telah menjadi penjelajah yang berani di bidang ini. Dalam bukunya yang lain, “Only Love Is Real: A Story of Soulmates Reunited,” Dr. Weiss menceritakan sebuah kasus takdir yang terbentang di depan matanya “saat itu juga.”

Seorang pria dan wanita yang belum pernah bertemu sebelumnya, mendatangi Dr Weiss pada waktu yang sama untuk sesi regresi. Mereka masing-masing, secara terpisah, mengingat kembali kehidupan masa lalu yang sama di Yerusalem 2.000 tahun yang lalu, ketika itu mereka adalah ayah dan anak. Sang ayah disiksa oleh tentara Romawi dan meninggal dalam pelukan putrinya.

Keduanya baru saja bertemu di klinik Weiss, tetapi karena disiplin profesi, dokter tidak dapat memberitahukan pada mereka tentang memori mereka satu sama lain. Namun, di akhir sesi, “tangan takdir” menyingkap rencananya yang cerdik – keduanya bertemu “secara kebetulan” dalam penerbangan pulang yang sama dan akhirnya jatuh cinta.

Sementara banyak orang mungkin berpikir bahwa mereka bertemu pasangan mereka semata-mata karena kebetulan, cerita di atas menunjukkan bahwa perkenalan dua orang yang “secara tidak disengaja” bisa jadi adalah pemenuhan takdir yang dimulai 2.000 tahun yang lalu.

Para peneliti telah menemukan, dengan mempelajari banyak kisah regresi kehidupan masa lalu, bahwa umumnya pasangan di dalam kehidupan saat ini memiliki berbagai ikatan kasih sayang di banyak kehidupan mereka sebelumnya.

Terlepas dari dinamika situasi yang mereka hadapi saat ini, mereka tampaknya telah disatukan kembali sehingga kedua belah pihak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan hutang piutang karma mereka.

Jika mereka melakukannya dengan baik, dapat membawa pertumbuhan spiritual, seiring tumbuhnya belas kasih dan berkurangnya rasa egoisme.

Sebuah contoh ditunjukkan dalam satu kasus yang ditemukan dalam buku Gina Cerminara “Many Mansions: The Edgar Cayce Story on Reincarnation.”

Buku itu menceritakan tentang seorang wanita cantik yang telah menikah pada usia 23 tahun. Suaminya adalah seorang pengusaha sukses, tetapi selama 18 tahun pernikahan, dia impoten. Sang Wanita, yang menjaga kecantikannya, mencintai suaminya dan tidak menceraikannya, meskipun hukum modern mengizinkannya.

Pada tahun-tahun awal pernikahan mereka, wanita itu tersiksa oleh hasrat, dan berselingkuh dengan pria lain. Dimana secara bertahap dia mengatasinya melalui studi keagamaan dan meditasi, dan tahun-tahun berlalu dengan tenang. Kemudian suatu hari, orang yang dahulu pernah melamar dia datang kembali ke dalam hidupnya.

Pria ini mencintainya saat masih remaja, tetapi pada saat dia telah mampu secara finansial untuk membangun rumah tangga, si wanita sudah menikah. Dipertemukan kembali, keduanya hampir tidak bisa menahan diri, tetapi belas kasih dan ketidakegoisan wanita itu menang. Suaminya adalah pria yang baik dan dia tidak bisa menyakitinya. Dia juga tidak mau menyakiti istri mantan kekasihnya. Dia memutuskan hubungan dengan pria itu dan menyelamatkan dua pernikahan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, pasangan itu menjalani terapi regresi kehidupan lampau, di mana ditemukan bahwa sang wanita dan suaminya telah menjadi pasangan dalam dua kehidupan lampau di Prancis. Sang suami bergabung dalam perang salib di bawah semangat keagamaan saat itu, tetapi sebelum dia pergi, dia memaksa istrinya untuk mengenakan sabuk kesucian untuk mencegahnya berselingkuh saat dia pergi. Istrinya tidak pernah memaafkannya dan bertekad untuk membalas dendam di masa depan.

Mereka bertemu kembali dalam kehidupan sekarang untuk menyelesaikan dendam tersebut. Suami jelas dihukum karena ketidakbaikannya kepada istrinya dengan kutukan impotensi, tetapi mengapa istrinya juga harus menderita? Karena dia begitu penuh kebencian dan keinginan untuk membalas dendam, dia membutuhkan keadaan saat ini untuk membantunya melepaskan perasaan itu.

Di saat dia memiliki kecantikan dan kekuatan yang cukup untuk membuat suaminya merasa cemburu dan malu sebagai bentuk balas dendam, dia malah meningkatkan dirinya secara spiritual. Dalam hatinya yang tulus dia tidak ingin menyakiti siapa pun, jadi dia melepaskan keinginannya, tidak menggunakan kecantikannya untuk mengejar kepentingan diri sendiri, dan tetap setia kepada suaminya.

Orang sering berkata, “Kamu hanya hidup satu kali!” Gagasan ini dapat menyebabkan banyak keterikatan. Merasa seolah-olah mereka harus mendapatkan sebanyak mungkin untuk diri mereka sendiri selama hidup di dunia ini, sehingga orang sering menjadi egois dan tidak baik. Tapi seperti yang bisa kita lihat, selalu ada keseimbangan dalam segala hal.

Meningkatkan diri kita secara spiritual jauh lebih berguna. Jika waktu singkat kita di bumi dapat menunjukkan belas kasih di tengah penderitaan, itu pasti akan dikembalikan kepada kita di masa depan.

Konfusius berkata: “Lakukan terhadap orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan terhadap Anda.” Ketika perasaan dan keinginan mengendalikan pikiran dan tindakan seseorang, sering kali membawa konsekuensi yang tidak menguntungkan.

Kita harus selalu mempertimbangkan orang lain, dan membiarkan akal budi yang memandu tindakan kita. Apapun kebencian masa lalu yang ingin kita selesaikan dalam kehidupan ini, kita harus menghargai waktu kita di sini dan menyelesaikan semua hutang dengan kebaikan.

Dengan melenyapkan karma kita sendiri, kita bisa yakin akan masa depan yang penuh berkah. Mengubah sikap seseorang dapat mengubah hidup seseorang. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI