Keluarga

Menyeimbangkan Waktu Keluarga dengan Screen Time

Anak dengan perangkat elektronik
Anak dengan perangkat elektronik. @Pexels

Jika Anda merasa putra-putri Anda terlalu terikat dengan perangkat gawainya, Anda tidak sendirian. Menurut The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry dalam lamannya, anak-anak dan remaja menghabiskan banyak waktu di depan layar. Rata-rata, anak-anak usia 8-12 tahun di Amerika Serikat menghabiskan 4-6 jam sehari untuk menonton atau menggunakan perangkat gawai, sedangkan “kakak-kakaknya” -usia remaja- menghabiskan waktu hingga 9 jam.

Sebenarnya tidak hanya pada anak-anak, pada orang dewasa sekalipun, jika tidak dapat mengendalikan diri, akan ikut terbawa dengan segala hal yang ditampilkan pada media layar. Meskipun media layar dapat menghibur, mengajarkan sesuatu, dan membuat anak-anak sibuk serta tidak dapat dipungkiri, bahwa teknologi telah menjadi berkah bagi sebagian besar manusia milenial, namun terlalu banyak menggunakannya akan dapat menimbulkan masalah. Mereka yang tidak memiliki cukup kendali untuk menahan diri, akan mengubah berkah itu menjadi bencana, dan menimbulkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan, terutama bagi anak-anak, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan.

Lantas, apakah definisi screen time? Screen time dapat diartikan sebagai waktu yang digunakan oleh seseorang untuk berinteraksi dengan perangkat gawai. Ini artinya tidak hanya smartphone, tetapi juga tablet, game, TV, dan komputer.

Menurut studi, efek samping pada anak dikaitkan dengan masalah perhatian (attention), gangguan tidur, obesitas, serta masalah sosial lainnya. Ketika anak-anak lebih tertarik pada komputer, televisi, video game, mereka cenderung menjadi kurang tertarik berinteraksi dengan keluarga dan teman-temannya. Demikian juga pada orang dewasa, dampak yang diakibatkan pun tidak kalah buruknya. Mulai dari kurang tidur hingga gangguan kesehatan mental.

Masalah menjadi semakin pelik, ketika sekolah, pekerjaan, seminar, bahkan reuni diadakan secara daring. American Academy of Pediatrics merekomendasikan tidak lebih dari dua jam per hari screen time untuk anak usia 5-7 tahun. Sebenarnya penggunaan layar gawai selama dua jam setelah bekerja itu juga merupakan pedoman yang baik bagi orang dewasa. Bagaimanapun juga anak-anak tidak hanya dapat mendengarkan nasehat namun juga melihat contoh dan perilaku orangtuanya. Namun demikian, seberapa lama waktu yang direkomendasikan bagi orang dewasa, dikembalikan pada keluarga masing-masing. Karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Beberapa keluarga, melakukan pekerjaan dari rumah bahkan jauh sebelum pandemi. Beberapa keluarga lainnya tidak.

Lantas bagaimana cara menyeimbangkan screen time dengan family time agar tetap terjalin hubungan keluarga yang harmonis? Dari rekomendasi American Academy of Pediatrics ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua antara lain:

Matikan semua gawai selama makan bersama atau acara keluarga lainnya. Tidak hanya pada anak, namun juga pada semua anggota keluarga termasuk orangtua. Ini adalah momen yang tepat untuk membentuk ikatan, maka semua hal yang berpotensi mengganggu sebaiknya disingkirkan.

Jangan menggunakan gawai untuk menghentikan tantrum pada anak, menenangkan anak, atau mengalihkan perhatian anak. Karena akan membuat anak ketagihan. Alih-alih menggunakan gawai, temukan strategi lain untuk menyalurkan emosinya. Anak-anak perlu diajarkan cara untuk mengidentifikasi dan menangani emosi yang kuat.

Berbicara pada anak. Dengan begitu banyak konten yang beredar di dunia maya, sangat menakutkan jika tidak dilakukan tindakan preventif pada anak-anak kita. Ketika anak-anak masih di usia dini, Anda dapat menggunakan mode parenting, nantinya saat anak mulai menginjak remaja, cobalah mulai berbicara dari hati ke hati. Sampaikan pada mereka mengapa orangtua mengkhawatirkannya, dan bagaimana mereka perlu memahami risiko-risiko di akan dihadapi jika luar sana.

Bagi orangtua, Anda dapat bangun satu jam lebih awal atau tidur lebih lambat daripada anak untuk melakukan screen time. Mungkin Anda dapat mengecek pekerjaan yang kurang, penjualan, memasukkan nota, atau hanya sekedar update status di media sosial Anda.

Cobalah mencari kegiatan atau aktivitas fisik bersama keluarga di akhir pekan. Mungkin saat ini agak sulit melakukan kegiatan di luar ruangan, namun Anda dapat memilih tempat-tempat sepi yang tidak banyak dikunjungi seperti berkemah, hiking, bersepeda, atau kegiatan lainnya yang menghindari keramaian. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI