Keluarga

Metode Pengasuhan: Bagaimana Berbicara Tentang Politik pada Anak Anda

Ayah berbicara dengan putranya (Julia M Cameron @Pexels)
Ayah berbicara dengan putranya (Julia M Cameron @Pexels)

Saat ini para politisi sangat mirip dengan kisah orang buta yang “melihat” gajah dalam puisi klasik John Godfrey Saxe. Ditulis hampir 250 tahun yang lalu, “Orang Buta dan Gajah” dibuat berdasarkan cerita parabel Hindu yang sangat tua.

Kisah itu telah digunakan selama berabad-abad sebagai salah satu perumpamaan dalam pengajaran filsafat, agama, dan pengembangan karakter. Pada pertengahan 1850-an, Saxe membuat cerita rakyat ini menjadi syair.

Orang Buta dan Gajah

Oleh John Godfrey Saxe (1816–1887)

Alkisah enam orang dari Tanah Hindustan,

Yang ingin belajar lebih banyak,

Yang pergi mencari gajah,

(Meskipun keenam orang ini buta),

Yang berdasarkan pengamatan masing-masing

Mungkin akan dapat memuaskan hatinya.

Orang pertama mendekati sang gajah,

Tak sengaja terjatuhlah dia

Mengenai sisi tubuh gajah yang lebar dan kuat,

Langsung dia berseru:

“Tuhan memberkati saya! Rupa gajah

Ternyata sangat mirip dengan tembok!”

Orang kedua, meraba gadingnya,

Berseru, —“Hei! apa yang kita dapatkan,

Begitu bulat dan halus dan tajam?

Menurut saya, ini sangat jelas,

Benda luar biasa yang bernama gajah ini

Sangatlah mirip dengan tombak!”

Orang ketiga mendekati gajah,

Tanpa sengaja meraih

Belalai yang menggelayut di tangannya,

Maka dengan tegas dia berkata:

“Saya mengerti sekarang,” —katanya— “Gajah

Sangatlah mirip dengan ular!”

Orang keempat mengulurkan tangan dengan bersemangat,

Dan meraba sekitar lututnya:

“Seperti apa binatang yang paling menakjubkan ini

Ini sangat jelas,” —katanya,—

“Jelas sekali bila gajah itu

Sangatlah mirip dengan sebatang pohon!”

Orang kelima, yang kebetulan menyentuh telinga,

Berkata— “Bahkan, orang yang paling buta sekalipun

Bisa mengetahui apa yang paling mirip dengan binatang ini;

Mengabaikan fakta siapa yang bisa,

Gajah yang menakjubkan ini

Sangatlah mirip kipas!”

Orang keenam tanpa membuang waktu segera mulai

Meraba binatang besar itu,

Kemudian, tertangkaplah ekor gajah yang berayun-ayun

Yang berada dalam jangkauannya,

“Jadi begitu,” —katanya,— “Gajah

Itu sangatlah mirip seutas tali!”

Jadi begitulah enam orang dari Hindustan ini

Berselisih dengan keras dan berkepanjangan

Masing-masing mempertahankan pendapatnya sendiri

Sangat kaku dan kukuh,

Meskipun masing-masing pendapat mengandung kebenaran,

Namun mereka semuanya salah!

Jadi, sering dalam perang teologis

Para pihak yang berselisih, saya pikir,

Mencerca dalam ketidaktahuan

Tentang apa yang dimaksud satu sama lain;

Dan membual tentang seekor Gajah

Tak satu pun dari mereka telah melihat!

Dengan segala hormat bagi mereka yang tidak bisa melihat, Saxe menceritakan bagaimana setiap orang meraba bagian yang berbeda dari gajah, ekornya, badannya, lututnya, telinganya, belalainya, maupun gadingnya. Masing-masing menyampaikan pendapat berbeda tentang gajah. Akibatnya, mereka berdebat dengan “keras dan berkepanjangan” tentang siapa yang paling benar.

Sementara itu, legenda menentang kebenaran relatif dan relativisme teologis yang mengikutinya, legenda juga menentang sistem politik kita dan penggambaran media tentangnya.

Relativisme dalam politik maupun dalam agama mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak; kebenaran dapat berubah menyesuaikan keadaan. Tetapi garis pemikiran itu adalah kutukan bagi agama, kemerdekaan, dan kebebasan.

Ketika anak-anak Anda mendekati batas usia pemungutan suara, apakah mereka akan memperhatikan apa yang terjadi di dunia, atau apakah mereka akan menjadi seperti orang buta pada kisah di atas dan kebingungan sehingga menolak berpartisipasi dalam politik, pelayanan publik, dan pemungutan suara?

Keputusan mereka sangat tergantung pada bagaimana Anda dan pasangan Anda berpikir, berbicara, dan bertindak dalam hal politik. Dapatkan informasi yang lebih baik dengan menonton berita di CNN dan FOX, membaca halaman editorial di surat kabar dan, saya akan menambahkan, The Epoch Times!

Bantulah pemilih masa depan Anda itu memahami mengapa mereka harus tertarik pada kelangsungan hidup negara kita dan konstitusi kita yang agung. Ingatkan mereka bahwa banyak berita politik daring ditulis oleh para blogger yang dibutakan oleh potongan-potongan gajah yang telah mereka peroleh dalam waktu yang singkat, atau lebih buruk, dalam jangka panjang hanya mengetahui tentang belalainya saja, telinga saja, atau bagian-bagian terpisah lainnya.

Yang terpenting, diskusikan masalah politik dalam percakapan yang sopan dengan keluarga dan teman Anda, bahkan mereka yang memiliki filosofi politik berbeda. Dengarkan pidato para kandidat. Perhatikan konvensi!

Harus saya akui, konvensi politik saat ini tidak semenarik ketika saya masih remaja. Saya ingat pada musim panas pada 1952 dan 1956 duduk di halaman belakang rumah yang teduh bersama saudara-saudara saya dan mendengarkan konvensi presiden di radio.

Tidak banyak pemilihan pendahuluan pada saat itu, maka yang hadir di konvensi belum ada yang dinominasikan, kecuali pada 1956 ketika Presiden Eisenhower berkuasa memiliki sedikit pesaing. Karena tidak ada yang tahu siapa yang akan memilih tiket partai mereka, konvensi itu menarik, seperti permainan, kontes, dengan banyak kontestan yang semuanya mengejar tujuan yang sama.

Dengan mendengarkan kompetisi, membuat aktivitas mengupas kacang polong dari kebun kami terasa lebih menyenangkan. Kami tidak memiliki televisi channel sepak bola atau olahraga lain sebagai hiburan, maka kompetisi itu memberi kami energi.

Setiap kandidat memiliki setidaknya dua pidato pencalonan, masing-masing diikuti dengan demonstrasi melewati auditorium dengan pawai patriotik yang menggelegar dan memimpin para pendukung dari kandidat tersebut.

Setelah kandidat terakhir dinominasikan, para demonstrannya dipersilakan keluar, dan pemungutan suara untuk negara bagian dimulai.

Selama konvensi, keluarga kami akan bersorak dan berdebat tentang kandidat mana yang terbaik dan siapa yang akan menang.

Setelah mendengarkan kedua konvensi pada 1952, saya dan saudara-saudara saya menyukai Jenderal Eisenhower dan sangat bahagia ketika beberapa minggu kemudian dia datang ke sebuah kota di dekat tempat tinggal kami. Orangtua kami melakukan perjalanan untuk mendengar pidatonya tetapi mereka meninggalkan kami di rumah.

Kemudian, ketika kami bertanya kepada Ibu bagaimana dia dan Ayah memilih, dia memberi tahu kami bahwa pemungutan suara dilakukan secara rahasia dan tidak ada yang tahu siapa yang memilih siapa.

Saya masih merindukan kehebohan konvensi yang kompetitif.

Sama pentingnya dengan orangtua dalam membentuk pandangan politik anak-anak mereka, namun orangtua bukan satu-satunya influencer. Guru, pelatih, tetangga, dan teman sebaya dapat memengaruhi pikiran anak-anak Anda.

Bahkan jika sekolah menawarkan apa yang biasa kami sebut kewarganegaraan, Anda tidak akan tahu bagian mana dari gajah yang telah disentuh oleh guru mereka. Guru, politisi, dan orang dewasa lainnya sering melihat dan mengajarkan politik dengan sudut pandang orang buta yang melihat gajah. Dan seperti orang buta dalam puisi Saxe, mereka tidak mau mengakui pendapat orang lain.

Jangan takut untuk bertanya kepada anak-anak Anda tentang apa yang dikatakan guru mengenai pandangan, kebijakan, dan solusi politisi. Kemudian diskusikan pandangan anak Anda, pandangan guru mereka, dan pandangan Anda. Tapi, jauhkan komentar pribadi dari diskusi.

Dengarkan saat anak remaja Anda menjelaskan solusinya dan sampaikan padanya mengapa pandangan Anda dan atau gurunya mungkin bisa berbeda.

Ingat, kita semua melihat masalah yang sama, kita semua menginginkan yang terbaik untuk negara tetapi, seperti pada kisah orang buta, masing-masing orang melihat dengan cara yang berbeda dan mungkin mencari solusi yang berbeda. Tugas Anda adalah menunjukkan mengapa menurut Anda solusi Anda adalah yang terbaik setelah Anda mendengarkan solusi anak-anak Anda.

Tidak semua pemungutan suara untuk memilih presiden, tetapi semua pemungutan suara itu penting. Para pemilih dari segala usia perlu mengetahui rencana apa yang akan dilakukan oleh masing-masing kandidat, dari anggota dewan sekolah hingga presiden, dan apa yang diyakini masing-masing kandidat mengenai isu-isu tersebut. Serta yang paling penting, mereka harus mengetahui apa yang berbeda dari partai-partai politik tersebut.

Dengan media yang selalu hadir saat ini, seharusnya mudah untuk memahami masalah jika kita mengetahui dasar-dasar konstitusi. Bagaimana seseorang, orang tua atau anak, bisa memahami politik? Anda dan keluarga Anda mungkin menemukan studi singkat tentang konstitusi yang menarik dan bermanfaat.

Dengan melibatkan anak-anak Anda di usia muda, Anda dapat menjamin, mereka akan terdidik dengan baik ketika mereka cukup umur untuk memilih.

Jika kita ingin tetap menjaga kebebasan negara, dengan hak untuk hidup, merdeka, dan mengejar kebahagiaan; jika kita mengakui bahwa semua orang diciptakan sama dan diberkahi dengan hak-hak yang tidak dapat dicabut oleh pencipta mereka ini, dan jika kita menginginkan kesetaraan dan keadilan untuk semua, maka kita harus memberi tahu para pemilih.

Dan, seperti pada semua bidang kehidupan lainnya, pembelajaran nilai-nilai dan adat-istiadat dimulai dari rumah, diajarkan oleh orang tua.

Nikmatilah kebersamaan dengan anak-anak dalam hidup Anda, dan semoga Tuhan terus memberkati Anda dan keluarga! (theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI