Keluarga

Otodidak, Alternatif Jalan Menuju Kebebasan Pendidikan

Ibu dan Anak
Ibu dan Anak. (Ketut Subiyanto | Pexels)

Temukan guru dari dalam diri

Saya telah melakukan homeschooling pada ketiga anak saya selama beberapa tahun ini ketika menyadari saya sedang menemukan jalan buntu. Anak sulung saya adalah seorang entertainer yang berdedikasi. Pintar, cukup rajin, dan selalu terlibat dalam segala aktivitas, Braeden semacam uji coba homeschooling saya yang bisa dikatakan cukup sukses. Bisalah saya menandai satu, bagi seorang ibu pemula yang memulai perjalanan homeschooling-nya dengan penuh keraguan dan kegelisahan.

Anak kedua saya, Shane, adalah seorang ahli matematika.

“Bu, saya ingin mengerjakan 30 halaman matematika hari ini.” “Ok!” Tentu saja, saya akan memintanya.

Dia menyelesaikan buku kerja matematika kelas satu pada Halloween tahun itu. Shane menyukai matematika, dan saya cukup menyukai matematika untuk menjadi tutor kalkulus yang dicari di masa kuliah.

Sejak kecil, putri saya suka menggambar. Untuk memberdayakannya, saya menyampaikan padanya jika dia benar-benar tertarik pada sesuatu, dia harus melakukannya setidaknya 15 menit setiap hari, sebagai cara untuk mempelajari keahliannya. Saya tahu dia akan menggali lebih dalam dan mengasah keterampilannya atau sebaliknya, dia akan menemukan sedari awal jika itu bukan panggilannya. Octavia mulai melakukan dua atau tiga jam aktivitas seni setiap hari, bahkan meneliti seni rupa dan seniman lain untuk ditiru. Dia sangat berbakat dalam imajinasi dan juga kemampuan mengekspresikannya.

Jadi, saat dia berusia 12 tahun, saya kebingungan. Saya seorang entertainer dan insinyur, tetapi satu hal yang pasti saya bukan seorang seniman!

“Tuhan, apa yang harus saya lakukan dengan ini? Saya tidak memiliki bakat seperti dia. Bagaimana saya bisa mengajarkan homeschooling itu? ”

Saya juga mulai bertanya-tanya tentang bagaimana seseorang akan meng-arahkan seniman pemula untuk menggali bakat mereka lebih dalam, dan seseorang menyampaikan, biasanya seniman pemula akan mengambil kelas anatomi untuk mempelajari bagaimana menggambarkan bentuk manusia dengan lebih baik. Eureka! Sesuatu yang konkret akhirnya dapat dilakukan untuk memperdalam studi anak saya. Dan ini menimbulkan ide dari pendidikan sekolah dasar tentang mengidentifikasi dan menugaskan guru yang tepat untuk pekerjaan itu.

Aku langsung menuju ke atas, ke kamar Octavia dan menemukannya, seperti biasa, di mejanya, sedang menggambar. Saya menceritakan ide-ide yang baru saja saya kumpulkan dan bertanya kepadanya, “Jadi, bisakah kita bersama-sama mencari kelas anatomi?”

“Oh, Bu,” jawabnya, agak geli dengan kenaifanku. “Lihat.” Dia membuka salah satu buku sketsanya dan menunjukkan kepada saya dua halaman bolak-balik gambar lutut manusia, di dalam dan di luar, dalam berbagai posisi. Dia telah melakukan penelitiannya sendiri tentang anatomi manusia, setelah lama menyadari bahwa hal itu akan menjadi kunci dalam meningkatkan kemampuannya. Dia, saya menyadari saat itu, telah melakukannya secara otodidak.

Saya masih dalam paradigma lama guru-memberikan-pengetahuan dan siswa-menyerap-informasi-yang-telah-dicerna-sebelumnya. Meskipun saya sudah cukup lama melakukan pendidikan di rumah, saya masih belajar homeschooling.

Dari plot twist yang mengejutkan ini, saya menyadari bahwa guru yang ideal untuk anak dapat ditemukan dari dalam diri. Tunjukkan pada anak di mana mene-mukan pengetahuan baru, memberi dorongan untuk mengeksplorasi, dan menumbuhkan pola pikir yang bebas. Anak kecil membutuhkan bimbingan tentang apa yang harus dipelajari, tetapi pada akhirnya bakat mereka paling baik ditemukan dan dikembangkan dari dalam. Begitu api itu menyala, mereka sering kali dapat menentukan jalan terbaik bagi diri mereka ke depan.

Itu bukan berarti meninggalkan anak melakukan sendiri di setiap kesempatan. Beberapa hal sulit dipelajari tetapi bermakna dalam jangka panjang. Putra saya Shane ingin berhenti bermain piano. Saya tidak mengizinkannya, untungnya. Kemudian, saat dia beranjak remaja, dia tumbuh sebagai anak yang mencintai piano dan meminta saya untuk mencarikannya guru piano yang lebih baik. Dia tahu apa yang dia butuhkan, untuk berkembang. Dan dia menyukainya sekarang. Dia mengatakan kepada saya betapa sedihnya dia ketika mengetahui beberapa hari yang lalu seorang teman baru telah diizinkan untuk berhenti bermain piano sebelumnya.

Sekolah umum telah menerapkan budaya pembelajaran semacam itu selama beberapa dekade. Luangkan waktu sejenak untuk mempertimbangkan bagaimana sekolah atau administrator atau pendidik mengetahui apa yang mereka lakukan: Itulah yang diajarkan kepada mereka. Sementara ada beberapa siswa unggul di kelas dan diminta untuk menyampaikan pidato perpisahan, namun banyak siswa lainnya yang tertinggal—tersesat dalam perjalanan mereka sendiri.

Paradigma otodidak mungkin akan membantu mereka jauh lebih baik dalam mengidentifikasi bakat mereka dan memanfaatkan potensi penuh yang mereka miliki secara lebih efektif, bijaksana, dan menyenangkan. Mencari kesesuaian untuk anak-anak kita dengan mengirim mereka ke sekolah atau bahkan mencoba meniru budaya sekolah ke dalam rumah sepenuhnya kontraproduktif ketika, sebagai budaya, kita menghargai masing-masing individu adalah berbeda.

Paradigma homeschool tradisional juga memiliki kekurangan, karena mengikuti struktur sekolah yang tidak sempurna. Orang yang mengejar pendidikan seperti sekolah umum di rumah memiliki tingkat kelelahan tertinggi.

Saya mendapatkan pelajaran penting dari anak saya hari itu, dan saya masih butuh waktu untuk memprosesnya sepenuhnya. Anak-anak secara alami ingin tahu. Memaksa mereka untuk fokus pada sesuatu yang tidak menarik selama berjam-jam sehari akan menyia-nyiakan bakat dan potensi bawaan mereka, mengalihkan perhatian mereka dari apa yang benar-benar mereka cintai. Dapat dikatakan itu adalah gangguan pendidikan yang pada akhirnya membuat mereka putus asa untuk belajar. Kita merugikan anak-anak kita dengan menyamaratakan pendidikan sesuai cara lembaga sekolah, pada bakat dan kemampuan unik mereka.

Belajar sendiri mengubah tanggung jawab dari orang tua dengan memberdayakan para orang tua sebagai pemandu, bukan dosen. Ini menawarkan pada siswa kesempatan untuk menentukan nasib dan tanggung jawab sendiri, serta kebebasan untuk belajar dengan kecepatan dan kepuasan yang diinginkan. Mari belajar menuju kebebasan pendidikan untuk anak-anak kita dan orang tua mereka. (theepochtimes/feb)

**

Sam Sorbo adalah aktris pemenang penghargaan, penulis, dan pembawa acara “School’s Out With Sam Sorbo” di Epoch TV, yang telah mendidik tiga anaknya di rumah selama lebih dari satu dekade. Buku-bukunya “ They’re YOUR Kids” (Reveille Press, 2017 ), “Teach from Love: A School Year Devotional for Families” (Broadstreet, 2019 ), dan “Words for Warriors” (Humanix, 2021 ) tersedia di SamSorbo. com.

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini



VIDEO REKOMENDASI