Pahami 7 Jenis Tangisan Bayi Anda

Bayi

Ketahui apa yang ingin mereka sampaikan pada Anda

Jauh sebelum bayi belajar berbicara, dia menggunakan tangisan untuk mengomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Tangisannya dapat berarti lapar, lelah, atau tidak nyaman, dan dia akan menangis untuk mendapatkan perhatian anda.

Namun, sebagai orang tua baru, bagaimana bisa mengetahui arti tangisan bayi Anda? Tentunya, mereka-reka arti tangisan itu menyulitkan dan bisa membuat frustasi di awal kelahiran. Banyak orang tua yang merasa ? ratapan tangis bayi dapat menghancurkan hati pendengarnya.

Namun jangan khawatir. Menurut para ahli, ada fakta-fakta hebat mengenai tangisan bayi yang memungkinkan Anda memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Banyak yang tidak menyadari bahwa setiap suara tangisan ? apakah itu merengek, menangis, menjerit ? dapat berarti sesuatu. Elizabeth Pantley, penulis Gentle Baby Care, menulis artikel dalam situs webnya yang berjudul How Do I Calm My Crying Baby? (Bagaimana saya menenangkan bayi yang menangis?), “Seiring waktu, Anda akan mengenali tangisan tertentu seolah-olah itu adalah kata-kata yang sedang diucapkan.”

Berikut adalah beberapa cara untuk memahami mengapa bayi menangis dan isyarat tersembunyi dibaliknya:

Tangisan Penarik Perhatian

Seorang bayi yang dibiarkan sendirian selama beberapa waktu akan menangis terus menerus selama 5 sampai 6 detik. Kemudian, dia akan berhenti selama 20 detik, menunggu untuk digendong. Siklus ini akan berulang sampai ia berhasil menarik perhatian orang tuanya merespon tangisan mereka.

Tangisan Lapar

Tangisan ini dimulai dengan ritme bernada rendah secara terus menerus, yang akan berubah menjadi histeris jika tidak kunjung disusui. Selain itu, bayi itu mungkin juga memutar kepalanya berulang kali, mengeluarkan suara mengisap dengan mulut, mengepalkan jarinya, atau memasukkan jari-jarinya ke mulut, menurut Catherine Watson Genna, seorang edukator orang tua, seperti dimuat oleh majalah Today’s parent.

Tangisan karena Merasa Kesakitan

Tangisannya keras, memekakkan telinga, dan terjadi secara tiba-tiba, atau konstan dan monoton. Kadang-kadang, bisa berubah menjadi histeris seiring dengan meningkatnya rasa sakit. Saat menangis, si bayi mungkin akan berhenti sebentar untuk mengambil napas setelah menangis lama, Pantley menjelaskan di dalam situs webnya.

Tangisan karena penyakit

Saat menderita suatu penyakit, bayi akan merengek pelan. Tangisan juga monoton, tetapi tidak seperti tangisan karena merasa kesakitan, lebih seperti suara erangan, kata Pantley. Karena bayi yang sedang sakit, umumnya terlalu lemah dan tidak memiliki energi untuk mengeluarkan suara yang keras. Namun, ini berarti bayi harus segera dibawa ke klinik kesehatan atau diperiksa suhu badannya.

Tangisan karena Kelelahan

Pantley mencatat jika bayi lelah dan tidak bisa tidur, dia akan menunjukkan penurunan aktivitas dan minat, dan terlihat sayu. Selain itu, dia akan mulai menguap. Tanda-tanda yang jelas ini menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin tidur.

Tangisan karena tidak nyaman

Ketika bayi merasa tidak nyaman karena popok basah atau terlalu berkeringat, gerah atau sakit perut, dia akan mencoba menggeliat atau melengkungkan punggung sambil menangis untuk menunjukkan bahwa dia sedang tidak nyaman. Pantley menyatakan bahwa begitu orang tua menyadari hal ini, mereka harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk menemukan sumber ketidaknyamanan itu dan menanganinya.

Tangisan karena kolik

Pada masa ini, bayi agak sulit ditenangkan, dan dia akan menjerit dengan keras untuk waktu yang lama. Tangisan berlangsung selama beberapa jam per hari dan biasanya terjadi pada waktu yang sama setiap harinya. Beruntung, biasanya kolik pada bayi akan menghilang ketika berusia 4-5 bulan, menurut Pantley.

Studi yang dilakukan oleh Priscilla Dunstan, seorang pakar pengasuhan anak  skala internasional, menyatakan bahwa bayi (sampai dengan usia 3-4 bulan), tanpa melihat ras, warna kulit, maupun budaya sama-sama mengeluarkan lima suara dasar, sesaat sebelum menangis.

Bayi membuat suara:

“Neh” ketika mereka lapar.

“Eh” ketika mereka ingin bersendawa.

“Owh” ketika mereka mengantuk atau lelah.

“Heh” ketika mereka merasa tidak nyaman.

“Eairh” ketika ada gas di dalam perut.

Selain memahami arti tangisan bayi, Anda juga dapat melihat apa yang diinginkan bayi dengan mempelajari situasi disekelilingnya. (theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI