Pendidikan yang baik dibangun di atas prinsip-prinsip yang tak lekang oleh waktu. Hakikat manusia tidak berubah, begitu pula peran penting seorang guru: membimbing pikiran seorang murid hingga mencapai potensi terbaiknya. Mengejutkan, dalam bidang studi klasik dan humaniora tradisional, para pendidik dari era sebelumnya mungkin memiliki pemahaman yang lebih unggul dan metode pengajaran yang lebih efektif daripada banyak pengajar modern.
Salah satu cendekiawan tersebut adalah Thomas More, negarawan Inggris dan humanis pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Kebijaksanaan pendidikannya masih relevan hingga 500 tahun kemudian.
More mendapatkan pendidikan yang sangat baik di sekolah St. Anthony’s dan kemudian menjadi mahasiswa hukum di Oxford dan mulai berpraktik sebagai pengacara. Selain aktif di bidang hukum dan politik, More dikenal sebagai cendekiawan berbakat. Ia juga turut memperkaya tradisi sastra dengan menulis karya teologi, sejarah, dan politik—yang paling terkenal adalah Utopia.
Karena kecerdasannya, sifatnya yang ramah, kemampuannya dalam diplomasi, serta reputasi profesionalnya sebagai pengacara dan hakim, More dipercayakan jabatan Lord Chancellor pada 1529, sebuah kedudukan yang sangat berpengaruh dan dekat dengan Raja Henry VIII. Sayangnya, More dan raja berselisih karena keinginan Henry untuk menceraikan istrinya, Catherine dari Aragon dan mendirikan Gereja Inggris yang terpisah dari Roma dan paus (gereja Anglican). Ketika Henry menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris, More mengundurkan diri dari jabatannya. Ia dituduh berkhianat dan dieksekusi pada 1535. Ia kini dihormati sebagai santo dalam Gereja Katolik.
Berikut tiga pelajaran tentang pendidikan dari Thomas More:
1. Tujuan Utama Pendidikan Adalah Menumbuhkan Kebajikan
Sekitar 1518, Thomas More menulis surat kepada guru pribadi anak-anaknya, William Gunnell. Dalam surat itu, ia berulang kali menekankan satu hal: tujuan pendidikan bukan untuk mencari pujian dari orang lain, tetapi untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan kebajikan.
Ia menegaskan bahwa “Kesombongan adalah hal yang tidak terpuji dan tidak pantas dibanggakan.” Ia percaya bahwa pendidikan yang baik lebih berharga dalam membentuk karakter siswa daripada kekayaan, kekuasaan, atau penghormatan.
Bagi More, pendidikan seharusnya secara alami membawa seseorang kepada kebajikan. Ia menyebutkan beberapa hasil dari pendidikan yang benar: hidup yang bersih dari dosa, keberanian menghadapi kematian tanpa rasa takut, hati yang penuh sukacita, dan kekuatan karakter untuk tidak mudah tinggi hati saat dipuji atau merasa rendah diri saat dikritik.
Ia berharap melalui didikan Gunnell, anak-anaknya bisa belajar “menempatkan kebajikan sebagai yang utama, dan ilmu pengetahuan sebagai yang kedua; serta dalam belajar, lebih menghargai apa pun yang bisa mengajarkan kesalehan kepada Tuhan, kasih kepada sesama, serta kerendahan hati dan kesopanan Kristiani dalam diri mereka.”
Bagi More, tujuan utama pendidikan bukanlah uang, ketenaran, atau kecerdasan itu sendiri, melainkan untuk membekali diri agar dapat menjalani hidup dengan baik.
2. Pendidikan yang Baik Adalah Hak Semua Orang
Gagasan More tentang pendidikan tergolong revolusioner pada masanya. Ia menekankan bahwa anak perempuan harus mendapatkan pendidikan sebaik anak laki-laki—di saat banyak orang masih menganggap perempuan tak perlu bersekolah.
Baginya, pendidikan yang baik jauh lebih berharga bagi putri-putrinya daripada kecantikan atau kekayaan. “Jika seorang perempuan dapat menuntut ilmu dan bersamaan juga mengembangkan kebajikan, ia akan memperoleh lebih banyak manfaat sejati dibandingkan jika ia memiliki kekayaan Croesus dan kecantikan Helen,” tulisnya.
3. Kita Harus Menghormati Kebijaksanaan Masa Lalu
More ingin anak-anaknya mencintai kebajikan dan membenci kejahatan. Ia melihat bahwa membaca karya klasik merupakan sarana kuat untuk mencapai tujuan tersebut.
“Tak ada yang lebih berguna daripada membacakan kepada mereka ajaran para orang suci kuno, mereka pasti akan tersentuh oleh wibawa mereka.”
Bagi More, menghormati dan mencintai kebijaksanaan para pendahulu adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan. Pandangan ini sayangnya semakin jarang ditemukan saat ini.
Namun saran More terbukti berhasil—anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi cerdas, bijaksana, dan berbudi luhur. Ia berharap bahwa dengan pendekatan ini, “hati mereka akan penuh damai dan tenang, tidak terombang-ambing oleh pujian berlebihan ataupun ejekan dari orang bodoh yang meremehkan ilmu.”
Dan tampaknya begitulah hasilnya—sebuah teladan yang layak ditiru oleh para pendidik masa kini. (theepochtimes/walker larson/feb)

