Site icon NTD Indonesia

Pangan Keluarga Minim Anggaran

Pangan

Pangan. (Sumber: Isi Piringku, Ditjen Kesmas)

Setelah menjalani masa-masa social distancing, physical distancing, dan PSBB, kini saatnya kita dihadapkan pada era baru yakni masa new normal. Dengan pengalaman yang telah dilakukan selama empat bulan sebelumnya, diharapkan saat memasuki masa new normal, kita telah semakin fasih dan konsisten dalam menjalankan protokol hidup sehat.

Menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bernutrisi adalah salah satu poin yang disyaratkan untuk menjaga stamina selama masa pandemi. Namun, banyak yang berpendapat makanan bernutrisi tinggi, tidak mudah didapatkan. Jikapun tersedia sebagai menu sehari-hari umumnya mahal dan relatif sulit dilakukan bagi keluarga dengan ibu bekerja.

Menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat bekerja atau bersekolah, misalnya, dirasakan sungguh sangat merepotkan. Tidak hanya keluarga dengan ibu bekerja, bagi para ibu rumah tangga pun merasakan keterbatasan waktu saat di pagi hari, terutama ketika si ibu juga harus mengantarkan beberapa anaknya ke sekolah. Sehingga banyak yang kemudian memilih untuk  membelinya.

Lantas ada pertanyaan lanjutan, jika setiap kali membeli sarapan, apakah hal ini menyehatkan?

Menurut Prof. Soekirman, PhD, dalam diskusi bertema “Akhir Minggu Bersama Guru,” sebenarnya tidak masalah apakah mengonsumsi makanan bergizi dua kali atau sepuluh kali dalam sehari. Yang terpenting porsi dalam satu hari telah memenuhi prasyarat gizi seimbang. “Dua kali tapi porsi besar atau sepuluh kali dengan porsi kecil-kecil, tidak masalah. Yang terpenting memenuhi beragam menu. Bagaimana cara mengeceknya, silakan Saudara menimbang berat badan, jika berat badan teratur setiap bulannya, maka sudah sesuai dengan Saudara,” paparnya.

Masalahnya, jika di saat sarapan tidak memenuhi pola gizi seimbang seperti metode “isi piringku,” maka akan ada penumpukan porsi di saat makan siang dan makan malam. Dengan “hutang” tersebut, kita akan cenderung kesulitan menerapkan porsi makanan yang sesuai pedoman gizi seimbang. Terutama jika dilakukan di saat makan malam, karena setelah makan malam, praktis kita tidak melakukan kegiatan lain dan kemudian berangkat tidur. “Siapa yang akan tahan jika semuanya dihajar di makan malam,” tambah Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum dalam diskusi yang sama.

Selain masalah kesehatan, membeli makanan di luar juga terkait masalah biaya. Berapa banyak yang harus dikeluarkan setiap kali membeli beberapa porsi makanan untuk satu kali makan. Terlebih di saat pandemi begini, dimana hampir semua sektor perekonomian melambat. Beberapa masalah yang timbul akibat pandemi telah dicermati oleh Save the children, suatu yayasan nirlaba yang fokus pada anak. Melalui Wahdini Hakim, dalam Sesi Parenting: “Pangan Keluarga Sehat dengan Budget Hemat” ini menyampaikan bahwa selama masa pandemi 1 dari 3 orang tua kehilangan pekerjaan dan 24 juta balita berisiko mengalami masalah gizi di indonesia.

Lantas bagaimana cara menyiasati agar setiap keluarga tetap mengonsumsi makanan sehat tiga kali sehari terlepas dari melambatnya resiko ekonomi secara global. Tan Shot Yen berpendapat bahwa pangan keluarga yang sehat, bersih, dan hemat adalah makanan yang disiapkan dari rumah. Ini bukan berarti stop membeli makanan dari luar sama sekali. Sesekali dikonsumsi saja, namun jangan dimasukkan dalam menu sehari-hari.

Tan Shot Yen dalam sesi yang sama, “Pangan Keluarga Sehat dengan Budget Hemat” membagikan beberapa tips untuk keluarga-keluarga di Indonesia.

  1. Memahami nutrisi setiap bahan pangan. Ini penting agar kita secara sadar memilih konsumsi makanan yang dibutuhkan oleh tubuh bukan mengonsumsi makanan yang palatable atau lezat di lidah dan umumnya membuat ketagihan.
  2. Stop membeli bahan pangan yang masuk dalam kategori makanan ultra proses. Termasuk diantaranya adalah roti, sereal, pangan kemasan seperti coklat, pasta, biskuit, permen, es krim, margarin, selai, yoghurt berbagai rasa, dll. Selain menambah biaya untuk jajan, juga tidak menyehatkan dan memicu PTM (Penyakit Tidak Menular) seperti diabetes, hipertensi, sindroma metabolik.
  3. Buatlah menu dalam satu minggu sekaligus. Padu-padankan menu gizi seimbang dalam makanan sehari-hari. Buatlah lauk dengan jadwal yang berbeda setiap harinya. Sebagai contoh, senin: sayur asam dan ayam, selasa: pepes tahu dan sup oyong telur, rabu: ikan pesmol dan sayur bening, dst. Perencanaan ini diperlukan untuk mengetahui apa saja dan berapa banyak bahan pangan yang dibutuhkan dalam 1 minggu.
  4. Belanja 1 minggu sekali. Ketika kita telah memiliki menu 1 minggu, akan memudahkan saat berbelanja. Cukup berbelanja 1 kali dalam 1 minggu, tidak perlu setiap hari.
  5. Sepulang dari berbelanja, racik dan bubuhkan bumbu pada semua bahan yang dibeli, dan kemas dalam satu kali masak, baru simpan ke dalam freezer atau kulkas. Dengan cara ini, setiap pagi ibu hanya perlu mematangkan bahan, tidak perlu meracik sedari awal.

 “Pulang dari pasar, seakan-akan Anda akan memasak semuanya. Ayam sudah dipotong-potong, ikan sudah dibersihkan, sudah dibumbuin semua, seakan-akan 7 hari akan dimasak semuanya. Satu yang tidak dilakukan, adalah naik ke atas kompor. Lalu masukkan dalam wadah-wadah dan tandain masing-masing. Kuning untuk senin, biru untuk selasa, hijau untuk rabu, baru masuk ke dalam freezer. Jadi saat bangun pagi tinggal ambil kemasan itu dan mematangkan makanan,” terang Tan Shot Yen.

Selain menghemat biaya dan waktu, dengan cara ini ibu juga dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh gugus tugas, untuk bebersih badan segera setelah pulang dari bepergian.

“Dengan demikian, maka apa yang diajarkan oleh gugus tugas, bahwa pulang dari kantor atau bepergian harus mandi atau ganti baju, bisa dilakukan. Kebanyakan orang tidak mau langsung mandi, karena takut bajunya bau, takut badannya bau, karena harus masak-masak lagi. Itu tidak akan terjadi kalau sudah dipersiapkan sejak pagi,” lanjut Tan, “Itu yang selalu saya katakan kalau hidup punya rencana, Anda tidak akan mengalami bencana” tutup dokter yang juga seorang psioterapis, filosofis, dan sekaligus nutrisionis itu. (NTDIndonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI