Keluarga

Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 1)

Bakers
Tim Baker dan istrinya telah menghabiskan 30 tahun terakhir menyelamatkan anak yatim piatu di Tiongkok. (Screenshot YouTube via Visiontimes)

Pada 1990, Tim Baker tiba-tiba memindahkan keluarganya dari Amerika Serikat ke Tiongkok. Tiga puluh tahun kemudian, dia dikenal sebagai “ayah bule” bagi 4.000 anak yatim piatu, dimana 95 persennya adalah anak-anak penyandang disabilitas. 

Pada Juni 2019, seorang anak perempuan berusia 8 tahun penderita kelumpuhan otak di Nanjing dibuang ke sungai oleh ayah dan kakeknya. Dia ditenggelamkan dengan tas sekolah yang diisi dua batu bata berat. Sungguh tragis gadis kecil ini meninggal karena pandangan masyarakat Tiongkok. Penduduk desa menganggap anak cacat “tidak layak dibesarkan” dan lebih baik membuang anak tersebut.

Saat ini, masyarakat Tiongkok yang utilitarian dan dikuasai komunis, ditambah lagi dengan kebijakan satu anak, jelas berdampak pada pengabaian anak-anak disabilitas dan peningkatan “kematian yang tidak wajar.” Namun, dimata Baker, semua anak-anak ?bahkan yang cacat sekalipun? adalah harta terpendam yang cantik dan lucu.

Sepuluh tahun lalu, seorang anak laki-laki dengan luka bakar parah ditinggalkan di ladang jagung di pinggiran kota Tianjin. Saat itu hujan deras dan lebih dari 40 orang berdiri di sana dengan payung di tangan mereka hanya menonton, tetapi tidak ada yang mengangkat bocah itu atau menaunginya dari hujan.

Jika saja tidak ada seorang petani yang baik dan Baker, bocah itu telah kehilangan nyawanya. Bocah itu menjalani operasi selama 6 jam. Dokter mengamputasi lengan kiri, kaki kiri, semua jari kaki kanan, dan semua jari tangan kanannya. Dokter mengatakan bahwa anak laki-laki itu hanya memiliki peluang hidup 10 persen saja, tetapi anak laki-laki tersebut selamat dan sekarang berusia 16 tahun. Dia bernama Levi.

Levi diadopsi oleh pasangan Amerika. Dia adalah atlet terkemuka dan jago bermain sepak bola selain berenang, panjat tebing, ski air, dan bahkan bersepeda. Levi juga adalah anggota tim bola basket sekolah. Melihat foto Levi, senyumannya tidak berbeda dengan anak-anak Amerika lainnya. Dia menjalani kehidupan yang luar biasa dan memiliki masa depan yang baik.

Levi adalah atlet papan atas dan merupakan anggota tim bola basket sekolah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

“Jika hidup Levi berakhir sepuluh tahun yang lalu, tidak akan ada cerita tentang dia hari ini.” Baker tidak berani berpikir lebih dalam. Jauh dilubuk hatinya, dia tahu bahwa ada banyak anak terlantar seperti Levi yang menunggu dia selamatkan.

Terdampar di Tiongkok selama sisa hidupnya

Sebelum pindah ke Tiongkok, Baker adalah seorang general manager sebuah supermarket, berpenghasilan tinggi, mempunyai rumah dan mobil. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang merawat kedua putri mereka yang cantik.

Pada 1988, Baker mengalami titik balik yang sangat besar dalam hidupnya karena dia ingin melakukan suatu hal dengan sangat jelas. Akhirnya dia berhenti dari pekerjaannya, dan pindah ke Tiongkok bersama keluarganya. Dia menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di Fushun dan anak-anak disana biasa memanggilnya “Guru Bei.” Setelah setahun, Baker dan keluarganya pindah ke Beijing. Dia berharap bisa menolong lebih banyak anak serta tidak perlu waktu lama bagi dia dan istrinya untuk menjadi sukarelawan di panti asuhan sekitarnya.

Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. Di ruangan yang penuh sesak dengan jendela terbuka, ada lebih dari 30 anak yatim piatu yang sedang mengoceh terbaring di atas lantai. Dindingnya kosong hanya ada beberapa gambar yang berhubungan dengan pendidikan anak-anak permulaan sekolah dasar tergantung berdampingan di salah satu sudut ruangan. Seluruh ruangan berbau tidak sedap dan beberapa anak berbaring di atas kotoran mereka sendiri dengan lalat berdengung di sekelilingnya. Tercium bau yang sangat menyengat.

Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. (Image: Screenshot / YouTube)

Apa yang mereka saksikan membuat mereka merasa tertekan. Mereka keluar dengan cepat untuk menenangkan diri sebelum masuk kembali ke ruang itu. Kemudian mereka menggendong anak-anak tersebut, memandikan, menukar pakaian, dan kemudian bermain bersama mereka.

Setahun kemudian, istri Baker melakukan perjalanan dengan kereta api selama lebih dari 50 jam untuk mengadopsi seorang gadis cacat berusia 5 bulan bernama Esther dari The Guiyang Social Welfare Institute. Dibawah asuhan mereka, Esther belajar membaca dan menulis. Saat ini dia berusia 26 tahun, bekerja sebagai guru di Amerika Serikat, bergabung dengan masyarakat selayaknya orang normal.

Pada 1995, teman Baker, Philip Head, meninggal terkena serangan jantung di dalam kereta api yang membawanya kembali ke Beijing dari Changchun untuk menemui seorang anak. Ketika pasangan itu menerima kabar buruk tentang temannya, mereka merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan hidup itu singkat. Pasangan itu memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengubah kehidupan anak-anak tersebut meski banyak tantangan yang akan mereka hadapi.

Langkah pertama mereka adalah mendirikan yayasan untuk menghormati teman mereka dengan menggalang dana bagi anak-anak disabilitas. Mereka menamakannya “Philip Head Foundation.” Mereka berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka panti asuhan sendiri. Mereka menyewa sebuah rumah besar di Langfang dekat Beijing sehingga mereka dapat mengadopsi dan mengasuh anak-anak.

Rumah bagi anak-anak yatim piatu penyandang disabilitas

Untuk mendirikan panti asuhan, keluarga Baker menghabiskan tabungan mereka selama bertahun-tahun untuk membeli berbagai perlengkapan anak-anak, seperti popok, susu bubuk, boks bayi, mainan, dan sebagainya. Pasangan itu juga meminta sumbangan dari kerabat dan teman.

Pada hari pertama setelah mereka mempersiapkan segala fasilitas untuk panti asuhan, mereka mengadopsi enam anak dari The Tianjin Children’s Welfare Institute. Maka, bersama empat anaknya sendiri, mereka membentuk sebuah keluarga besar dengan 10 anak. Baker tidak berhenti disitu, dia secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya untuk “menjemput” anak-anak.

Baker secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya unutk ‘menjemput’ anak-anak. (Gambar: Screenshot / YouTube)

Dia selalu bersedia mengasuh anak-anak yang tidak diterima atau tidak diasuh dengan baik di panti asuhan atau rumah sosial. Baker dan istrinya melakukan semua ini secara sukarela dan bahkan menangani pengeluaran anak-anak dengan memakai uang mereka sendiri.

Baker beralih pada pengembang pinggiran kota mencari rumah untuk membuka panti asuhan dan terkejut ketika pengembang tersentuh oleh perbuatan baiknya serta setuju untuk menyewakan empat rumah kepadanya dengan harga murah. Baker mulai mengumpulkan dana, mempekerjakan pembantu wanita, dan melatih mereka merawat anak-anak. Sejak itu, Baker dan istrinya menjadi sangat sibuk.

Meski tenaga mereka terbatas, semua anak dirawat dengan baik. Mereka berpakaian baik dan rapi. Tidak ada tempat yang berantakan di panti asuhan itu. Ini adalah persyaratan ketat dari istri Baker.

Pasangan itu mengadopsi lebih dari 60 anak dan beberapa minibus ditambahkan ke inventaris. Mereka juga memutuskan untuk mendirikan dan mengelola sekolah sendiri serta mempekerjakan guru. Mereka bahkan mendirikan klinik sendiri.

Langkah mereka selanjutnya adalah mencari tempat yang lebih besar dengan halaman yang luas untuk anak-anak bermain dan berolahraga di luar ruangan. Baker mengendarai minibusnya ke beberapa tempat untuk mencari lokasi baru.

Kejutan yang ‘jatuh dari langit’

Pada 2002, pemerintah Tianjin memberi Baker 33 hektar tanah dengan harga yang sangat murah 1 yuan. Sebidang tanah ini terletak di persimpangan Beijing dan Tianjin sehingga dapat memfasilitasi mereka mengirim anak-anak untuk perawatan medis. Dalam rangka menggalang dana untuk membangun rumah, Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di Amerika Serikat, berbagi cerita tentang lebih dari 60 anak yatim piatu kepada penonton Amerika. Kali ini, dia mengumpulkan US$ 268,000. Itu cukup untuk membangun dua buah rumah.

Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di AS yang membantunya menggalang dana untuk membangun dua rumah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

Kejutan yang lebih besar lagi segera datang. Sebuah perusahan desain arsitektur di Beijing bersedia menyelesaikan seluruh desain secara gratis. Semua semen, genteng, cat, sirkuit listrik dan saklar merupakan sumbangan dari orang-orang baik hati bahkan ada yang menjual bahan bangunan seperti batu bata dengan harga grosir.

Akhirnya, empat rumah kecil berlantai dua dengan dinding eksterior abu-abu, ujung atap kaku, dan genteng kuning mengkilap selesai dibangun dan semuanya berdesain Tiongkok.

Pada 2006, desa anak-anak selesai dibangun dan Baker menamakannya Shepherd’s Field Children’s Village, karena tanah ini pada awalnya merupakan tempat dimana gembala setempat mengembalakan dombanya. Baker tidak pernah berpikir untuk menamai tempat itu sebagai “panti asuhan” atau “rumah sosial.”

Dalam pandangannya, ini sama seperti sebuah rumah keluarga dan dia berharap semua anak terlantar bisa merasakan kehangatan kehidupan rumah. Dalam salah satu pembicaraannya, Baker berkata bahwa setiap anak, ketika mereka kali pertama datang, menyiratkan raut menyedihkan di wajah mereka, namun hanya dalam beberapa hari mata mereka berubah cemerlang. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI