Keluarga

Pekan Asi Dunia (2) – Menyusui Lebih dari 2 Tahun, Memanjakan atau Menyehatkan?

Masih dalam rangka Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week yang berlangsung pada 1-7 Agustus. Ketika slogan “Empower Parents, Enable Breastfeeding” dicanangkan tahun ini, untuk mendorong lingkungan di sekitar ibu, tidak hanya sang ayah, namun juga mitra kerja, keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat untuk mendukung terciptanya lingkungan yang memungkinkan ibu dapat menyusui secara optimal, ada beberapa ibu yang resah karena si anak yang sudah lebih dari 2 tahun, belum mau berhenti menyusu.

Di beberapa negara lain, menyusui lebih dari 1 tahun sudah dianggap sebagai extended breastfeeding. Di Indonesia sendiri, kategori extended breastfeeding baru disematkan pada anak yang menyusui lebih dari 2 tahun. Namun, beberapa negara lain ada yang memiliki kebiasaan menyusui hingga anak berusia 3-4 tahun.

Ada yang berpendapat, semakin lama anak menyusu, akan semakin sulit disapih dan semakin manja. Bahkan banyak juga yang mengatakan jika menyusu lebih dari 2 tahun, tidak ada nutrisi yang didapatkan dari air susu ibunya. Jadi apakah menyusui lebih dari 2 tahun lebih banyak mudarat daripada manfaatnya?

Menurut Kelly Bonyata, BS, IBCLC, dalam laman kellymom.com ada beberapa keuntungan dengan melakukan extended breastfeding, baik bagi anak maupun ibu, antara lain:

Nutrisi

Meskipun hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang menyusui di atas usia dua tahun, namun informasi yang didapatkan menunjukkan jika pemberian air susu ibu terus menjadi sumber nutrisi dan perlindungan penyakit yang berharga selama menyusui terus berlanjut.

Kesehatan

American Academy of Family Physicians mencatat bahwa anak-anak yang disapih sebelum usia dua tahun berisiko lebih tinggi terkena penyakit (AAFP 2008 ).

Balita yang menyusu antara usia satu dan tiga tahun ditemukan memiliki lebih sedikit penyakit, jikapun sampai terkena penyakit, durasi cenderung lebih pendek, selain itu, tingkat kematian juga lebih rendah (Mølbak 1994, van den Bogaard 1991, Gulick 1986).

Mental dan pembangunan sosial

Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam “Extended Breastfeeding and the Law,” menyusui adalah cara yang hangat dan penuh kasih untuk memenuhi kebutuhan balita dan anak kecil. Hal itu merupakan kunci untuk membantu anak mencapai kemandirian. Anak-anak yang mencapai kemandirian (ditunjukkan dengan menyapih dirinya sendiri) akan menambah kepercayaan dirinya dalam bersosialisasi.

Manfaat pada ibu

Menurut penelitian, dengan memperpanjang waktu menyusui, ibu juga mendapatkan manfaat sebesar jangka waktu ibu menyusui. Beberapa manfaat antara lain:  menunda kembalinya kesuburan pada beberapa wanita dengan menekan ovulasi ; mengurangi risiko kanker rahim, kanker payudara, kanker uterus, endometriosis ; mengurangi risiko osteoporosis dan artritis reumatoid (peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri) ; mengurangi kebutuhan insulin bagi wanita yang menderita diabetes, dan dapat menurunkan berat badan.

Oleh karena itu para ibu yang melakukan extended breastfeeding tidak perlu resah. Selain banyak keuntungan yang didapatkan, hal itu adalah normal. American Academy of Family Physicians memperkirakan usia penyapihan alami untuk manusia antara dua dan tujuh tahun. Dokter keluarga harus memiliki pengetahuan mengenai manfaat yang berkelanjutan untuk anak dari pemberian ASI yang lama. “(AAFP 2008). Pendapat ini juga ditegaskan oleh Katherine A. Dettwyler, PhD, hasil penelitian ilmiahnya menunjukkan bahwa menyusui selama 2,5 hingga 7,0 tahun sesuai dengan yang diharapkan anak-anak. (Dettwyler 1995). Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sendiri menekankan pentingnya menyusui hingga usia dua tahun atau lebih (WHO 1993, WHO 2002). Rekomendasi “dua tahun … atau lebih” itu sendiri tidak menyebutkan sampai seberapa lama bayi maksimal perlu disusui. Jadi, apakah extended breastfeeding membuat anak semakin manja atau menyehatkan? Silakan Anda yang menilainya. (ntdindonesia/averiani)

slot gacor

situs slot gacor