Keluarga

Pekan Asi Dunia (1) – Memberdayakan Lingkungan, Mendukung Ibu Menyusui

Menyusui adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak (Image: Pixabay)

Setiap tahun, di awal bulan Agustus, seluruh dunia memperingati Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week yang berlangsung pada 1-7 Agustus.

Tahun ini, Pekan ASI Sedunia mengusung tema “Empower Parents, Enable Breastfeeding.”

Pekan ASI Sedunia pertama kali dicanangkan pada 1990 oleh WHO dan UNICEF dengan dibuatnya deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi Innocenti di Florence, Italia. Deklarasi tersebut digelar untuk menyepakati setiap tanggal 1-7 Agustus sebagai World Breastfeeding Week atau Pekan ASI Sedunia. Tujuan utamanya, tak lain untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI).

WHO secara aktif mempromosikan pemberian ASI sebagai sumber makanan terbaik untuk bayi dan anak kecil. Fakta ini mengeksplorasi banyak manfaat dari praktik ini, dan seberapa kuat dukungan kepada ibu dapat meningkatkan pemberian ASI di seluruh dunia.

Menyusui adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Menurut WHO dan UNICEF, memberi makan bayi dan anak kecil dengan benar dapat meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup. Pemberian makan yang tepat juga dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, terutama di masa kritis sejak lahir hingga usia 2 tahun. Idealnya, bayi harus disusui dalam waktu satu jam setelah kelahiran, disusui secara eksklusif untuk enam bulan pertama kehidupan dan terus disusui hingga usia 2 tahun ke atas. Mulai dari 6 bulan, menyusui harus dikombinasikan dengan pemberian makanan padat, semi-padat, dan lunak yang aman dan sesuai usia.

Pemberian makan yang memadai sebagai pendamping ASI sejak bayi berusia 6 bulan ke depan dapat mencegah kekurangan gizi dan mengurangi risiko penyakit menular, seperti diare dan pneumonia. Namun terlepas dari semua manfaat potensial, hanya sekitar dua perlima bayi usia 0-5 bulan di seluruh dunia yang secara eksklusif disusui, dan lebih dari dua pertiga bayi diperkenalkan ke makanan padat pada waktu yang tepat.

Bayi yang tidak diberikan ASI secara eksklusif dapat memiliki risiko kematian yang lebih besar karena diare atau radang paru-paru daripada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Selain itu, pemberian ASI juga mendukung sistem kekebalan bayi dan dapat melindunginya di kemudian hari dari kondisi kronis seperti obesitas dan diabetes.

Jika menyusui ditingkatkan hingga mendekati tingkat universal, sekitar 820.000 nyawa anak akan diselamatkan setiap tahun. Analisis data tentang praktik pemberian makanan pada bayi dan anak kecil, secara global, hanya 42 persen bayi baru lahir yang langsung mendapatkan inisiasi menyusu dini (IMD) dalam satu jam pertama kelahiran. Kemudian hanya 2 dari 5 bayi yang berusia kurang dari 6 bulan yang masih disusui secara eksklusif. Data menunjukkan bahwa kurang dari tiga perempat anak usia 12-15 bulan yang masih menyusu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa praktik ini berlanjut hingga usia 2 dan lebih, namun demikian kurang dari setengah anak-anak berusia 20-23 bulan yang mendapat manfaat dari menyusu.

Untuk memenuhi kebutuhan bayi yang terus bertambah pada usia enam bulan, makanan padat yang dihaluskan harus diperkenalkan sebagai pelengkap untuk menyusui lanjutan (diatas 6 bulan). Makanan untuk bayi dapat disiapkan atau dimodifikasi secara khusus dari makanan keluarga. WHO mencatat bahwa:

  • Menyusui tidak boleh berkurang saat mulai menyusui
  • Makanan harus diberikan dengan sendok atau cangkir, bukan dalam botol
  • Makanan harus bersih dan aman
  • Waktu yang cukup diperlukan bagi anak-anak kecil untuk belajar mengonsumsi makanan padat

Bagi ibu sendiri, pemberian ASI eksklusif umumnya dikaitkan dengan metode kontrasepsi alami (meskipun tidak dijamin 100%, namun 98% dalam enam bulan pertama setelah kelahiran). Pemberian ASI eksklusif juga mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium, diabetes tipe II, depresi pascapersalinan, dan kondisi kesehatan lainnya.

Halangan pemberian ASI eksklusif umumnya terjadi pada ibu-ibu yang bekerja. Banyak diantara mereka yang kemudian menghentikan pemberian ASI eksklusif sebagian atau bahkan seluruhnya karena tidak memiliki waktu yang cukup, atau tidak ada tempat memompa ASI, atau menyimpan ASI mereka.

Oleh karena itu, tema yang diusung tahun ini “Empower Parents, Enable Breastfeeding,” mendorong lingkungan di sekitar ibu, tidak hanya sang ayah, namun juga mitra kerja, keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat untuk mendukung terciptanya kondisi lingkungan yang kondusif yang memungkinkan ibu dapat menyusui secara optimal. Mendorong kondisi yang memungkinkan di tempat kerja, seperti mendapatkan cuti hamil, pengaturan kerja paruh waktu, ruang khusus memompa ASI, fasilitas untuk menyimpan ASI. (ntdindonesia/ averiani)

slot gacor

situs slot gacor