Site icon NTD Indonesia

Pekan Asi Dunia (3) -Menyapih dengan Kasih Sayang

(Image: ©freepik)

Masih dalam rangka Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week yang berlangsung pada 1-7 Agustus. Tahun ini Pekan ASI Sedunia mengusung slogan “Empower Parents, Enable Breastfeeding.” Slogan ini dicanangkan untuk mendorong lingkungan di sekitar ibu, tidak hanya sang ayah, namun juga mitra kerja, keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat untuk mendukung terciptanya lingkung-an yang memungkinkan ibu dapat menyusui secara optimal. Namun pada artikel ini, lebih fokus pada proses penyapihan. Karena nantinya ada masa dimana seorang ibu akan menyapih anaknya.

Menurut wikipedia indonesia, penyapihan (weaning) adalah suatu proses memperkenalkan bayi pada sumber makanan keluarga dan perlahan-lahan mulai menghentikan pemberian air susu ibu. Umumnya penyapihan dilakukan saat bayi sudah mendapatkan nutrisi dari makanan lain selain ASI. WHO sendiri mere-komendasikan pemberian ASI secara eksklusif (tanpa tambahan makanan lain) untuk enam bulan pertama dan terus disusui hingga usia 2 tahun ke atas.

Berdasarkan rekomendasi tersebut, sebenarnya Anda sudah mulai menyapih anak saat dia mulai ber-usia 6 bulan. Secara teknis, pada saat itu, pemberian air susu ibu sudah harus dikombinasikan dengan pemberian makanan padat, semi-padat, dan lunak yang aman dan sesuai usia.

Menurut Pinky McKay IBCLC, menyapih sendiri adalah pengalaman yang melibatkan dua orang –ibu dan bayi– oleh karena itu perlu persiapan secara fisik dan emosional karena hubungan yang sangat istimewa ini akan segera berakhir.

Menyapih bisa dimulai oleh ibu (secara bertahap Anda mendorong bayi atau balita Anda untuk mulai meninggalkan ASI) atau bisa dimulai oleh bayi Anda. Dalam kondisi yang terakhir ini, Anda perlu mengikuti isyarat bayi dan sabar menunggu kapan dia memutuskan untuk berhenti. Meskipun keputusan kapan Anda akan menyapih bayi Anda adalah keputusan pribadi, namun Anda perlu mempertimbangkan bayi Anda. Inilah sebabnya mengapa membuat pilihan berdasarkan informasi tentang waktu untuk menyapih, cukup penting.

Lebih lanjut Pinky McKay IBCLC menyebutkan, ibu perlu menyapih bayi dengan kasih sayang, sehingga bayi akan merasakan pengalaman penyapihan yang halus dan tidak meninggalkan trauma saat beralih dari menyusui secara eksklusif ke makanan keluarga.

Anda mungkin dapat mencoba beberapa metode yang dituliskan oleh Kelly Bonyata, IBCLC, Becky Flora, IBCLC dan Paula Yount berikut ini:

Jangan menawarkan – jangan menolak

Pendekatan paling lembut ke bayi adalah “jangan menawarkan-jangan menolak.” Metode ini tidak menawarkan ASI ke anak, namun juga tidak menolak keinginan anak Anda. Banyak ibu yang mengalami penyapihan alami saat anak mereka bertambah tua. Namun metode ini cenderung memakan waktu lebih lama daripada metode lain, jadi bukan untuk Anda yang ingin segera menyapih. Namun, si sisi lain, metode ini yang paling banyak memperhitungkan kebutuhan anak.

Kurangi waktu menyusui satu kali dalam jangka waktu tertentu

Jika Anda memilih metode penyapihan yang lebih aktif (namun masih halus), disarankan untuk mengurangi waktu menyusui satu kali dalam jangka waktu 3-7 hari (lebih lama lebih baik, namun jangan lebih cepat dari 3 hari), sebelum mengurangi waktu menyusui berikutnya. Beberapa ibu mengurangi waktu menyusui satu kali dalam seminggu. Hal ini memungkinkan pasokan ASI berkurang secara perlahan, tanpa rasa ngilu dan tidak nyaman sekaligus mengurangi kebiasaan anak menyusui satu kali.

Pilih pemberian ASI di waktu yang paling tidak penting bagi bayi Anda dan cobalah melakukan pendekatan makan dengan beberapa cara berbeda. Anda dapat menawarkan cangkir sippy bergambar kesukaannya (atau camilan) alih-alih menyusui, atau mulai mempersingkat sesi menyusui di waktu tertentu. Saat Anda mengurangi kebiasaan di waktu ini, tetaplah menyusui di waktu yang lain seperti biasa.

Ingatlah, jangan menawarkan (kembali) waktu menyusui yang sudah berhasil dilewati – tetapi jika anak Anda sangat mendesak untuk menyusui, jangan menolak. Perlambat langkah jika bayi Anda menjadi rewel atau sakit, atau tampaknya akan tumbuh gigi. Waktu tidur siang, waktu tidur malam, dan waktu menyusui saat bangun pagi biasanya yang terakhir dihilangkan. Sangat normal bagi bayi untuk menyisakan satu waktu menyusui – dan bertahan selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Jika 2 teknik diatas belum berhasil, cobalah teknik lain, atau cobalah beberapa teknik sekaligus:

Beberapa bulan (atau bahkan beberapa tahun) sebelum anak berusia 2 tahun, setiap kali menyusui, sampaikan kalau nanti setelah berulang tahun ke-2, sudah waktunya untuk berhenti menyusu, karena sudah besar. Sampaikan berulang-ulang sesuai bahasa yang dia mengerti.

Jika bayi mulai ingin menyusu, alihkan perhatiannya pada makanan lain atau kegiatan lain yang membuat perhatiannya teralihkan. Makanan favorit, permainan favorit, bermain bersama teman-teman, berjalan-jalan, buku favorit, dan lain sebagainya. Semua pengalihan hanya bisa efektif jika Anda melakukannya SEBELUM anak Anda menunjukkan tanda-tanda ingin menyusu.

Jika anak Anda biasanya ingin menyusu saat berada di rumah, cobalah untuk berada diluar rumah lebih lama dari bisanya selama proses penyapihan. Jika dia tampaknya lebih nyaman menyusu saat berada diluar, jauh dari semua yang dikenalnya, cobalah untuk tetap di rumah sebanyak mungkin. Jika duduk di kursi tertentu memberi isyarat kepadanya untuk menyusu, cobalah untuk menghindari duduk di kursi tersebut.

Mulailah secara bertahap mengurangi sesi menyusui sampai benar-benar tidak ada sesi menyusui di waktu tersebut. Untuk anak yang lebih besar, Anda dapat mencoba menyusui sampai hitungan sepuluh, atau selama Anda menyanyikan satu lagu, dan lain sebagainya.

Yang perlu diingat adalah semua ini perlu kesabaran, karena proses penyapihan bisa memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Namun demikian, ada beberapa kondisi yang menuntut ibu harus sesegera mungkin menyapih anaknya, misalnya  karena kondisi kesehatannya. Jika dokter mangharuskan Anda mengonsumsi obat, informasikan pada mereka jika Anda masih ingin terus menyusui. Sehingga dokter dapat menyarankan obat yang kompatibel dengan ibu menyusui. Konsultasikan apa-kah memungkinkan untuk menyapih sementara atau bahkan tidak perlu menyapih sama sekali. Konsultasi juga pada dokter yang lain untuk pendapat kedua. Jika diperlukan, lakukan riset sendiri.

Jika ternyata Anda ternyata tetap harus sesegera mungkin untuk menyapih, sebaiknya tetap mengeluarkan ASI, untuk kenyamanan, sampai produksi ASI berkurang. Jika Anda harus dipisahkan dari bayi saat menjalani perawatan, tetapi tidak ingin menyapih, Anda dapat terus memompa ASI untuk persediaan.

Nikmati masa-masa menyusui Anda, nikmati saat-saat bayi Anda tumbuh, dan nikmati masa-masa perubahan bayi Anda menjadi balita, karena percayalah, masa-masa itu tidak akan lama. (ntdindonesia/ averiani)