Keluarga

Peningkatan Kekerasan Pada Anak oleh Orangtua di Jepang

Pusat-pusat bimbingan anak Jepang menerima 80.252 kasus dugaan kekerasan terhadap anak (Image: freepik)

Kekerasan terhadap anak telah menjadi topik pembicaraan hangat di Jepang, setelah terjadi serangkaian insiden di mana orangtua melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka sendiri. Antara lain adalah kejadian meninggalnya dua anak perempuan di Osaka yang ditusuk oleh ibu mereka sendiri pada bulan Agustus lalu, dan seorang remaja perempuan 13 tahun yang dicekik mati oleh sang ibu di prefektur Fukui pada tanggal 2 September.

Tahun lalu saja, Badan Kepolisian Nasional melaporkan bahwa pusat-pusat bimbingan anak Jepang menerima 80.252 kasus dugaan kekerasan terhadap anak. Jumlah ini terus meningkat selama 14 tahun terakhir. Walaupun tidak ada data yang jelas tentang berapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri, namun dipercaya bahwa jumlahnya sangat besar.

Tekanan Besar Pada Ibu 

Para ibu dikatakan terlibat didalam sebagian besar insiden kekerasan oleh orangtua. “Perempuan Jepang memiliki kecenderungan menjadi sangat serius dalam hal anak, dan berpikir bahwa mereka harus menjadi orang tua yang sempurna, anak mereka juga harus sempurna. Mereka menekan diri sendiri, dan membandingkan diri, situasi dan anak mereka dengan ibu dan anak lainnya. Mereka sering melihat keluarga-keluarga lain sempurna dan lebih baik dalam segala hal, sehingga tekanannya menjadi terlampau besar,” kata Fujiko Yamada, yang mendirikan Pusat Pencegahan Penganiayaan Anak kepada South China Morning Post.

Penyebab lain, kemungkinan besar juga disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga. Wanita yang mengalami kekerasan oleh suami cenderung diam dan melampiaskan kemarahan mereka pada anak-anak. Wanita yang pernah dianiaya di masa kecilnya juga berkecenderungan mengulangi perilaku tersebut terhadap anak-anaknya sendiri. Dalam beberapa kasus, wanita yang melepaskan karier karena tekanan harus membesarkan anak, akhirnya menyalahkan anak mereka karena merasa terjebak dalam kehidupan yang monoton.

Kritik dari PBB

Masalah kekerasan terhadap anak yang terus meningkat di Jepang sempat dikritik oleh Komite Hak-Hak Anak PBB pada Februari tahun ini. Para anggota panel meminta pemerintah Jepang untuk memprioritaskan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak, dengan membangun mekanisme pelaporan yang efektif.

Komite Hak-Hak Anak PBB meminta pemerintah Jepang untuk memprioritaskan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak. (Image: Screenshot/Youtube)

“Pemerintah Jepang perlu mempercepat pembentukan pelaporan yang ramah anak, keluhan dan mekanisme rujukan untuk anak-anak korban kekerasan, termasuk di sekolah-sekolah dan eksploitasi seksual, didukung oleh staf yang terlatih tentang kebutuhan spesifik korban anak-anak,” bunyi laporan tersebut.

Menanggapi kritik ini, pemerintah Jepang pada bulan Juni telah mengeluarkan undang-undang yang melarang orangtua dan wali memberikan hukuman fisik pada anak-anak. Pusat-pusat kesejahteraan anak juga akan diberikan kekuasaan yang lebih besar untuk campur tangan dalam insiden kekerasan terhadap anak.

“Di bawah undang-undang yang telah direvisi, pusat konsultasi anak lokal dan entitas terkait didorong untuk berbagi informasi dengan cepat agar dukungan dapat diberikan secara cepat, bahkan jika anak tersebut pindah ke daerah yang berbeda,” demikian seperti dikutip dari The Japan Times.

Keputusan untuk melarang pemberian hukuman fisik terhadap anak-anak tampaknya dipicu oleh kritik PBB. Namun, beberapa pakar anak justru khawatir bahwa para orangtua mungkin akan mulai menggunakan kekerasan psikis terhadap anak-anak untuk menghindari penangkapan. Penderitaan psikis bisa jauh lebih sulit untuk dideteksi, karena tidak akan ada tanda fisik yang dapat mengkonfirmasi perlakuan kekerasan yang telah dilakukan. (visiontimes/thr/lia)