Keluarga

Pentingnya Penghargaan Diri Pada Anak

Anak
Harga diri membantu anak-anak menangani kesalahan (Image: Unsplash)

Seorang anak mulai memiliki rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri, suatu karakter yang relatif terbawa di sepanjang hidup mereka pada usia 5 tahun. Sebuah artikel tulisan Molly McElroy yang memuat penemuan dari trio Dario Cvencek, Anthony G.Greenwald, dan Andrew N.Meltzoff dari Institute for Learning and Brain Sciences, University of Washington, melalui theepochtimes.com menyampaikan bagaimana para peneliti mencoba melakukan pendekatan lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat dimengerti oleh anak berusia 5 tahun tentang bagaimana pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Studi yang berjudul “Implicit measures for preschool children confirm self-esteem’s role in maintaining a balanced identity” ini menemukan bahwa penghargaan terhadap diri sendiri, secara tidak terduga, ditunjukkan secara kuat pada anak-anak semuda ini. Selain itu penghargaan diri juga terkait secara konsisten dengan kepribadian fundamental lain, seperti kecenderungan dalam kelompok dan identitas gender.

Dengan adanya temuan tersebut, para orang tua diharapkan dapat memahami bagaimana seorang anak memandang dirinya sendiri dan seberapa penting interaksi orang tua dan anak dalam membangun penghargaan diri seorang anak usia prasekolah. Mendorong dan menjaga penghargaan diri disini, bukan berarti memanjakannya, namun lebih pada membangun kepercayaan diri pada seorang anak.

Setiap anak berbeda.

Bagi satu anak penghargaan terhadap dirinya mungkin terasa lebih mudah, namun bagi beberapa anak yang lain, rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri harus dipupuk dan diajarkan. Disinilah peran penting orang tua untuk mencari tahu apa saja aspek-aspek yang diperlukan untuk mendorong dan menjaga rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri tanpa membahayakannya.

Berikut beberapa aspek yang mungkin dapat menjadi pertimbangan untuk mendorong dan membangun tumbuhnya penghargaan diri:

1. Berilah pujian secara bijaksana

Menurut Jim Taylor, penulis buku “Your Kids Are Listening: Nine Messages They Need to Hear from You“, rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri terbentuk dari perasaan dicintai dan perasaan aman yang didapatkan dari orang tuanya dan juga dari pengembangan kompetensi. Untuk mengembangkan suatu kompetensi, seorang anak membutuhkan waktu dan usaha, bukan hanya sekedar pujian dari orang tuanya.

Lebih detail, D’Arcy Lyness, PhD dalam laman KidsHealth.org, juga mengulas 2 hal yang sebaiknya dilakukan orang tua saat memuji anak. Pertama, jangan memuji secara berlebihan. Misalnya, memuji anak telah bermain dengan hebat, saat dia tahu permainannya tidak bagus. Ini justru akan membuat anak merasa hampa dan palsu. Lebih baik mengatakan, “Bapak tahu, tadi bukan permainan terbaikmu, tapi kita semua pernah melakukan kesalahan. Bapak bangga padamu, karena tidak menyerah”.

Kedua, pujilah upayanya, bukan hasilnya. Seperti saat anak mendapatkan nilai A atau berhasil memenangkan pertandingan. Sebaiknya jangan dipuji karena nilai A-nya atau karena kemenangannya. Sebagai gantinya, pujilah dia atas upayanya yang tidak mudah putus asa, kemajuan yang didapatkannya, dan sikapnya yang konsisten. Misalnya: Ibu bangga kamu terus berlatih piano, kamu benar-benar bekerja keras. Dengan pujian semacam ini, anak-anak akan berupaya keras dalam berbagai hal, berusaha untuk mencapai target, dan terus mencoba.

2. Biarkan anak memilih

Taylor menjelaskan, untuk membiarkan anak memilih, Anda harus belajar melangkah mundur dan membiarkan anak Anda mengambil risiko, membuat pilihan, menyelesaikan masalah, dan tetap dengan apa yang mereka mulai.

Membiarkan anak memilih tentu saja dengan pilihan yang masuk  akal dari Anda juga akan membuat mereka merasa diberdayakan. Hal sederhana seperti saat sarapan, Anda mungkin dapat menawarkan pada anak mana yang sebaiknya dipilih, telur atau pancake. Belajar membuat pilihan sederhana saat masih muda akan membantu mempersiapkan anak Anda untuk pilihan yang lebih sulit yang akan dia hadapi saat dia tumbuh.

3. Jangan membandingkan

Cobalah Anda menahan diri agar tidak membandingkan anak Anda dengan temannya atau dengan saudaranya yang lain. Pandanglah dia sebagai suatu individu yang mandiri dengan segala kelemahan dan kelebihannya, bukan melihatnya dari kacamata anak yang lain. Hargai kepribadian anak.

4. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda

Jangan selalu menjadi ‘tim penyelamat’ bagi anak. Kegagalan atau ketidakberhasilan anak dalam menyelesaikan tugas dalam suatu waktu, bukan berarti segalanya. Biarkan dia merasakan arti kegagalan.

Lantas bagaimana sikap orang tua saat menghadapi anak yang sedang mengalami kegagalan atau kesulitan dalam suatu hal? Jangan terpengaruh.

Banyak orang tua yang berpikir kegagalan dan kesulitan akan melukai penghargaan diri anak, namun sebenarnya itu adalah kesempatan emas untuk membangun penghargaan diri yang lebih besar. Sampaikan juga pada anak bahwa kasih sayang Anda tidak membutuhkan syarat apapun. Anda akan tetap menyayanginya, meskipun dia mengalami kegagalan.

5. Tidak ada yang sempurna

Biarkan dia mengetahui bahwa tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan jelaskan bahwa Anda tidak memintanya menjadi anak yang sempurna. Bagaimana Anda bereaksi terhadap kesalahan dan kekecewaan anak akan membentuk cara dia bereaksi terhadap kesalahan.

Jadi, mengapa rasa penghargaan diri ini penting. Menurut KidsHealth, anak-anak yang merasa senang dengan diri mereka sendiri memiliki kepercayaan diri untuk mencoba hal-hal baru. Mereka juga cenderung akan mencoba melakukan yang terbaik dari yang mereka bisa. Mereka merasa bangga dengan apa yang bisa mereka lakukan. Harga diri membantu anak-anak menangani kesalahan. Dengan kemampuan menangani kesalahan, akan membantu anak-anak untuk mencoba lagi, bahkan jika mereka gagal di awal. Sebagai hasilnya, penghargaan diri akan membantu anak-anak berbuat lebih baik di sekolah, di rumah, dan bersama teman-temannya. (NTDindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel mengenai Keluarga, silahkan klik di sini.