Keluarga

Percaya Sains serta Pilih Mainan dan Pakaian Sesuai Gender

Anak bermain mobil-mobilan (Olia danilevich @ Pexels)
Anak bermain mobil-mobilan (Olia danilevich @ Pexels)

Seorang ayah, Jay Deitcher, membanggakan dirinya sebagai penganut “garis gender netral,” suatu sifat yang berusaha keras diturunkan pada putranya yang masih kecil.

Jadi dia menyembunyikan pakaian anak-anak yang bergambar bola, sebagai gantinya dia memberi putranya boneka bayi untuk didorong di kereta dorong saat mereka berjalan-jalan, cerita Deitcher di Today online.

Dan kemudian anaknya yang berusia 2 tahun menemukan traktor, rusak sudah paham “gender netral” yang semestinya saya tanamkan. “Saya harus membuat pilihan,” tulis Deicher. “Membelikan kaos bergambar alat berat dan membuat anak itu bahagia, atau memaksanya mengenakan kemeja berhiaskan binatang berbulu untuk menenangkan saya.” Pada awalnya Deitcher melawan, masih berusaha menarik minat putranya ke arah lain, tetapi satupun yang berhasil, dan akhirnya dia menyerah, membiarkan putranya membenamkan dirinya dalam dunia anak laki-laki “tradisional” dengan pakaian dan mainan yang penuh dengan gambar alat berat.

Deicher merasa gagal ketika melihat usahanya mengasuh putranya agar menjadi anak yang berpemikiran “gender netral” gagal. Dan di mata budaya pop yang berusaha keras untuk mengaburkan batas antara jenis kelamin—menghancurkan apa yang disebut konstruksi sosial tentang peran gender, pakaian, mainan, dan minat anak-anak sebelum mereka sepenuhnya menyadari lingkungan mereka—dia telah gagal melakukannya. Tapi dia tidak putus asa. Sial baginya, pencariannya menjadi perjuangan yang berat, karena cukup sulit untuk melawan fakta ilmiah biologi.

Salah satu faktanya adalah adanya perbedaan biologis diantara kedua jenis kelamin. Dan perbedaan-perbedaan itulah—bukan norma sosial yang dibuat-buat dan dipolitisir—yang mendorong anak laki-laki lebih tertarik bermain dengan truk dan traktor, sedangkan anak perempuan akan cenderung bermain dengan boneka dan mainan pengasuhan lainnya.
Peneliti dan penulis tentang gender, Dr. Debra Soh menjelaskan hal ini dalam bukunya, “The End of Gender.”
“Jenis kelamin ditentukan oleh paparan hormon prenatal, berlawanan dengan norma gender yang dipaksakan pada bayi begitu mereka keluar dari rahim,” tulis Soh. Anak laki-laki cenderung memilih “aktivitas yang menarik secara mekanis, seperti bermain dengan mainan beroda” karena mereka memiliki tingkat testosteron yang lebih tinggi, yang diterima saat mereka masih dalam kandungan.

Anak perempuan, di sisi lain, berurusan dengan testosteron yang jauh lebih sedikit, mereka secara biologis akan lebih berempati dan tertarik pada “aktivitas dan pekerjaan yang menarik secara sosial” seperti yang ditemukan dalam bermain boneka atau rumah. Soh menunjukkan bahwa perbedaan biologis ini juga ada pada hewan: “Meskipun kurang ada sosialisasi dari pengasuh mereka atau monyet lain, monyet betina muda akan memilih boneka, dan monyet jantan akan memilih mainan beroda.”

Alasan perbedaan jenis kelamin secara biologis ini begitu penting untuk dipahami karena budaya pop secara politis telah mengajarkan hal yang sebaliknya kepada para orang tua. Disampaikan pada para orang tua bahwa sangat penting untuk tidak mendorong anak-anak mereka ke arah peran dan minat gender tradisional, akhirnya orang tua terjebak pada sisi ekstrem yang lain, seperti yang dilakukan Deicher, memberi anak laki-laki mereka boneka dan sebaliknya, memberi truk pada anak perempuan mereka. Tetapi seperti yang dijelaskan Soh, biologi segera akan mengambil alih secara natural, membuat orang tua bingung ketika putra atau putri mereka dengan gembira mengejar mainan yang sesuai dengan gender mereka meskipun telah dilakukan semua upaya untuk mengondisikan sebaliknya.

Kebingungan semacam ini seharusnya tidak mengejutkan, karena itulah yang terjadi ketika orang tua mendengarkan suara hiruk-pikuk di media, pemerintah, maupun masyarakat Amerika pada umumnya. C. S. Lewis menggambarkannya sebagai taktik iblis dalam “Screwtape Letters”-nya.
Menulis kepada keponakannya Wormwood, iblis Screwtape mendorong pengikutnya untuk membiarkan korbannya terjebak dalam isu yang terjadi di sekitar untuk mencegahnya menyelidiki fakta ilmiah:
“Tetapi yang terbaik dari semuanya adalah membiarkannya tidak membaca sains, namun memberinya gagasan yang besar bahwa dia mengetahui segalanya dan bahwa semua yang kebetulan dia bicarakan dalam pembicaraan adalah ‘hasil penyelidikan modern.’ Ingatlah bahwa kamu ada di sana untuk memastikanya tetap pada pemikiran itu.”

Jadi, pesan untuk para orang tua dewasa ini adalah jangan mudah “dipolitisir,” berpikir bahwa kita akan menjadi orang tua yang baik jika mengajarkan netralitas gender kepada anak-anak kita. Terlepas dari apa yang dikatakan budaya kita, medorong anak pada mainan dan pakaian sesuai gender kepada anak-anak—sebenarnya, bagus! Dan orang tua yang melakukannya tidak sedang menahan identitas anak-anak mereka. Mereka hanya mengikuti fakta-fakta biologi dan melawan isu dalam masyarakat yang mengira tahu segalanya padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Dorong anak perempuan Anda menjadi perempuan dan anak laki-laki Anda menjadi laki-laki. Hentikan kebingungan dan mulailah berpikir jernih.
(annie holmquist/theeepochtimes/ian)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI