Keluarga

Perjalanan dari Korban Perundungan Menjadi Seseorang dengan Kehidupan Penuh Makna, Penuh Harapan, dan Kasih Sayang

Bersedih (Screenshot @ Storyblocks)
Bersedih (Screenshot @ Storyblocks)

Manusia selalu dapat mencari alasan untuk optimis, kata pepatah. Harapan semacam itulah yang membawa pencerahan dalam kehidupan Kon Karapanagiotidis. Perundungan terhadap anak tidak hanya hadir di era digital. Dia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Kon adalah korban perundungan di sekolah saat masih kanak-kanak. Dia menceritakan pengalamannya bagaimana “rasa kemenangan” berhasil mengubah hidupnya.

Dia adalah putra kebanggaan pasangan Yunani kelas pekerja yang bermigrasi ke Australia pada tahun 1960-an. Dia lahir di Mount Beauty, di mana dia, saudara perempuannya, dan orang tuanya menjadi salah satu dari dua keluarga Yunani di kota berpenduduk 1.500 orang tersebut.

Sungguh terasa sulit menjadi seseorang yang “berbeda” di kota sekecil itu. Kon menjadi korban perundungan selama masa sekolahnya, dia tidak pernah merasa menjadi bagian atau mempunyai tempat di komunitasnya.
Dia mencari penghiburan dengan membaca buku, menemukan inspirasi dalam karya-karya Gandhi, Malcolm X, dan Martin Luther King saat remaja, semua pria hebat yang mengubah kehidupan jutaan orang dengan menolak menerima kondisi yang terjadi saat itu.

Kon belajar bahwa tidak apa-apa merasa bangga karena menolak mematuhi hukum yang tidak adil dan adalah penting berjuang untuk kepentingan umum. Dalam kata-kata Malcolm X: “Seseorang yang tidak berjuang untuk sesuatu hal akan jatuh dalam segala hal.”

Pendidikan adalah prioritas dalam keluarga: harapan akan masa depan yang lebih baik

Pendidikan menjadi prioritas dalam keluarganya karena ayahnya harus meninggalkan sekolah ketika dia berusia 9 tahun untuk menghidupi keluarganya dan ibunya meninggalkan sekolah pada usia 12 tahun. Mereka berdua bekerja dalam bidang yang menuntut pekerjaan fisik. Pertama di pertanian tembakau di Mount Beauty dan kemudian di pabrik ketika keluarga tersebut dipindahkan ke Melbourne.

Ibu Kon selalu mengatakan bahwa dia dapat bertahan untuk melakukan kerja keras, menghadapi diskriminasi, dan intimidasi di tempat kerja, hanya agar Kon bisa mendapatkan pendidikan. Dia berharap kelak Kon tidak menanggung penderitaan yang sama.

Kon membalas budi pengorbanan orangtuanya. Dia tidak pernah berhenti mengasah kecakapannya, mendapatkan total enam gelar dalam pekerjaan sosial, hukum, ilmu perilaku, gelar Master dalam pendidikan dan pelatihan, Master dalam perkembangan internasional, serta seorang eksekutif senior MBA.

Memanfaatkan rasa sakit dari perundungan dan penolakan

Di luar keluarganya, Kon merasa sangat tidak dicintai oleh “dunia” karena perundungan dan pengucilan yang dialaminya selama masa sekolah. Dia perlu mencabut luka dan rasa sakit dari pengalaman masa kecilnya serta menemukan cara untuk mengembalikan kepada dunia karena dia tahu menyimpan kepahitan pada akhirnya akan menghancurkannya.

Dia memutuskan untuk menjadi sukarelawan, yang dilakukannya selama total 10 tahun dari usia 18 hingga 28 tahun, terkadang dia menjadi relawan hingga di 12 tempat berbeda pada waktu yang sama.
Tugas relawan pertama Kon di pusat persinggahan tunawisma. Dia mengatakan bahwa dia merasakan lebih banyak belas kasih dan kebaikan di sana daripada yang pernah dia alami di sekolah atau universitas, dan dia merasa seperti pulang ke rumah. Dia telah menemukan komunitasnya dan bersamaan dengan itu, dia menemukan tujuan hidup.

Pada 2001, Kon mengajar kursus kesejahteraan di TAFE. Dia memiliki 40 siswa yang harus mencari peluang untuk penempatan kerja sebagai bagian dari syarat mendapatkan kualifikasi. Tak satu pun dari mereka berhasil mendapatkan penempatan sehingga Kon memiliki ide untuk membuat proyek kelompok bersama sebagai cara untuk menyediakan jam penempatan yang disyaratkan.

Idenya adalah mendirikan bank makanan bagi para pencari suaka sebagai langkah sementara untuk memenuhi dua kebutuhan — pertama, untuk siswanya dan kedua untuk membantu pencari suaka lokal yang sedang berjuang.

Salah satu teman Kon meminjamkan bagian depan sebuah toko kecil di Nicholson Street, Footscray, Melbourne. Para siswa mulai mengubah toko kosong tersebut, mengecatnya, membangun rak, dan mengumpulkan makanan gratis sebanyak yang mereka bisa temukan untuk ditata di dalam rak.
Delapan minggu setelah percakapan awal, diadakan pesta pembukaan dan dengan itu, Pusat Sumber Daya Pencari Suaka (ASRC) lahir.

Mengatasi konflik

Pada awalnya, membutuhkan perjuangan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam memenuhi kebutuhan komunitas — Kon mengatakan persediaan hanya bertahan beberapa jam pada waktu-waktu tertentu. Tetapi beberapa bulan setelah pembukaan, ada sebuah peristiwa yang menyoroti ketegangan yang meningkat antara kesepakatan lama untuk menyelamatkan mereka yang bermasalah di laut, hak-hak mereka yang melarikan diri dari penganiayaan untuk mencari suaka, dan tekad pemerintah Australia untuk menghentikan para pencari suaka datang ke pantai Australia.

Pemerintahan Howard memperkuat undang-undang perbatasannya dan mempersulit mereka yang melarikan diri dari penganiayaan untuk diberikan suaka di Australia. Aturan ini menstimulasi publik, yang menghasilkan penambahan besar jumlah sumbangan dan sukarelawan di organisasi yang masih baru tersebut.

Selain sumbangan makanan, orang-orang mulai menawarkan untuk mengajar bahasa Inggris secara gratis, sehingga kelas-kelas ini menjadi bagian dari organisasi. Kemudian, beberapa pencari suaka mulai meminta bantuan untuk membantu anak-anak mereka yang sakit, karena tergantung pada pembatasan visa, beberapa tidak dapat mengakses Medicare.

Pusat kesehatan pertama bagi pencari suaka di Victoria

Keputusan dibuat untuk memulai pusat kesehatan pertama bagi pencari suaka di Victoria. Dari keputusan awal tersebut, pekerjaan ASRC terus berkembang, hingga saat ini memiliki program-program seperti Layanan Garis Depan, Advokasi, dan Pemberdayaan (Frontline Services, Advocacy, and Empowerment).

“Definisi saya tentang kesuksesan program ini adalah, ketika seorang pencari suaka di negara ini diberi kesempatan, setara dengan orang lain, untuk berpartisipasi dan berhasil serta memenuhi potensi mereka.”
Layanan Garis Depan mencakup bantuan makanan dan materiil, layanan pendukung, dan perawatan kesehatan. Layanan Advokasi menawarkan bantuan hukum, advokasi penahanan, dan advokasi dari pengalaman hidup, sedangkan bagian Pemberdayaan organisasi mencakup pendidikan dan pelatihan, jalur pekerjaan, dan jalur pemberdayaan.

Ini juga termasuk Program LEEP, yang menawarkan magang berbayar yang bertujuan untuk mendukung pencari suaka dalam membangun kembali karir profesional mereka di Australia.

ASRC bukan hanya tempat untuk menerima dukungan; ia telah menjadi gerakan keadilan sosial dalam dirinya sendiri. Mereka menjalankan penggalangan dana dan kampanye kesadaran publik yang mengadvokasi hak-hak pencari suaka. ASRC juga terus-menerus melobi pemerintah dalam upaya untuk melindungi dan meningkatkan kemampuan pencari suaka untuk mengakses layanan dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

Penyintas perundungan, saat ini menjadi advokat pantang menyerah bagi mereka yang berada dalam kesulitan

Kon adalah seorang advokat yang pantang menyerah, bersemangat, dan gigih bagi mereka yang telah begitu menderita.

Misinya untuk melindungi mereka dari penderitaan lebih dalam yang tidak perlu dan membantu mereka mengamankan kehidupan dan masa depan yang mereka impikan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka.

Pengorbanan orangtua Kon telah memberinya pemahaman mendalam tentang orang-orang ini — dia memahami harapan mereka untuk masa depan dan dia sekarang melakukan semua yang dia bisa untuk memberi mereka kesempatan yang pantas mereka dapatkan. Dia adalah contoh yang sangat antusias untuk membayarnya dengan cara terbaik.

Jika Anda adalah seorang anak yang dirundung baik secara daring maupun fisik, tolong jangan biarkan Anda menderita sendirian. Sampaikan pada orangtua Anda, guru sekolah yang dipercaya, bahkan kakak laki-laki atau perempuan.

Anda tidak akan pernah bisa mengubah perundung, jadi abaikan saja mereka. Abaikan ejekan, bisik-bisik, desas-desus, lelucon buruk, pengasingan … Perundung adalah orang lemah yang cemburu. Anda dapat belajar memanfaatkan kekuatan dari dalam diri Anda (inner power), dan Anda akan mengatasi setiap perundung.(Kathy McWilliams/visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI