Keluarga

Perjuangan Memaafkan Diri Sendiri

Berdoa
Memaafkan adalah melepaskan kebencian dan menggantikannya dengan belas kasih (Image: Unsplash)

Banyak diantara kita yang memandang berlebihan terhadap kekurangan diri sendiri bahkan menganggap diri sendiri sebagai tumpukan dari kekurangan

Memaafkan adalah melepaskan kebencian dan menggantikannya dengan belas kasih. Hal ini sangat dianjurkan dalam beberapa kepercayaan, dan penelitian menunjukkan jika memaafkan bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental seseorang.

Namun manfaat itu ternyata tidak datang dengan mudah. Cobalah untuk mencintai musuh dengan tulus dan mendoakan orang yang menganiaya Anda. Karena kebencian berkaitan dengan rasa sakit dan kepedihan, melepaskan seolah menjadi suatu hal yang mustahil.

Kesulitan itu juga terjadi saat kita ingin memaafkan diri kita. Banyak diantara kita terperangkap dalam dialog batin berkepanjangan akan kesalahan di masa lalu. Bagi beberapa orang, bahkan “sandungan” kecil dapat menimbulkan kekecewaan atau perasaan negatif yang berlebihan.

Bagaimana saya bisa sebodoh itu? Apa yang saya pikirkan? Bagaimana saya bisa membiarkan ini terjadi? Ada apa dengan saya?

Adalah normal merasakan penyesalan? kondisi tidak nyaman akibat rasa bersalah dan malu, berperan penting agar kita tetap berjalan lurus. Namun menurut Dr. Gail Saltz, seorang psikoanalis, penulis buku best-seller, dan seorang professor psikiatri di New York-Presbyterian Hospital Weill-Cornell Medicine, menjadikan diri sendiri sebagai subjek ucapan buruk yang terus menerus, hanya akan membuat segala sesuatunya bertambah buruk.

Ada alasan mengapa kita melakukannya, tetapi terlalu memikirkannya akan berdampak negatif lainnya,” kata Saltz. “Jika Anda terlalu marah, kesal, atau merasa sangat bersalah pada diri sendiri, akan memicu depresi dan kecemasan.”

Marah pada diri sendiri, mungkin perasaan terburuk yang bisa kita alami, dan sebelum menemukan jalan keluar, kita mungkin tidak bisa lari dari pertarungan batin tersebut. Pilihan kita hanya memaafkan diri sendiri atau hidup dengan kebiasaan buruk itu.

Saltz mengatakan, memaafkan diri sendiri mungkin lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Meski keduanya sama-sama memiliki tujuan menemukan belas kasih. Namun memaafkan diri sendiri, memiliki fitur unik yang membuatnya lebih sulit, karena kurangnya ruang.

Kita bisa memaafkan orang lain yang sudah tidak ada di dalam kehidupan kita. Seiring waktu, refleksi rasa sakit berjarak cukup jauh, maka proses pemberian maaf bisa menjadi lebih mudah. Namun kita tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjauh dari diri kita sendiri.

Memaafkan diri sendiri adalah menerima apa yang telah kita lakukan, menerima kesalahan, dan berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama (Image: Unsplash)

Memaafkan diri sendiri adalah menerima apa yang telah kita lakukan, menerima kesalahan, dan berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tapi Saltz mengatakan, karena pandangan kabur pada diri sendiri, kita justru menghambat proses tersebut. Bukannya mempertimbangkan dan memahami perilaku diri, kita justru sering memandang hal itu sebagai satu kontradiksi. Ini yang membuat kita mengabaikan masalah tersebut, atau sebaliknya menyalahkan diri terus menerus.

Banyak orang memiliki standar yang kaku untuk diri sendiri, mereka hanya menilai diri mereka sebagai orang yang sempurna atau menyedihkan. Itulah mengapa, bagi orang-orang tertentu, sulit untuk menerima dirinya telah melakukan kesalahan, menerima kesalahan, atau untuk memaafkan diri mereka sendiri,” kata Saltz

Perbuatan yang dilakukan penuh kedengkian adalah kesalahan yang paling buruk, karena kejam dan disengaja. Namun, sebagian besar kesalahan terjadi karena: kecelakaan, penilaian buruk, kemalasan, waktu tidak tepat, ketidaktahuan, dan kebingungan.

Ketika memaafkan orang lain, kedengkian akan lebih mudah dilepaskan, saat melihat orang tersebut tidak sengaja melakukannya. Jika mereka menunjukkan penyesalan yang mendalam, mengklarifikasi kesalahpahaman, atau meyakinkan Anda jika tidak pernah berniat melukai Anda, maaf bisa segera diberikan.

Namun Saltz mengatakan, kebanyakan orang sangat menyalahkan diri sendiri, hingga mereka tidak pernah mampu mengklarifikasi kesalahpahaman dengan diri mereka sendiri.

Ada orang yang berpikir, ‘jika saya tidak terus merasa bersalah, mungkin saya akan menjadi orang yang buruk. Saya harus membayar kesalahan itu setiap hari. Ini akan membuat saya tetap terkendali.’ Banyak orang yang mengatakannya pada diri sendiri, sangat mungkin tidak menyadarinya. Mereka terjebak di dalam rasa bersalah.”

Perlu Kehadiran Orang Lain

Kita membayar mahal untuk membenci diri kita sendiri. Merasa terluka dan secara fundamental hancur, juga menarik diri dari kehidupan. Seiring waktu, kita akan menutup diri karena takut mengacaukan hal yang lain.

Tetapi perasaan kesepian yang tercipta selanjutnya, bisa menjadi penghambat untuk mengharmoniskan hubungan dengan diri sendiri.

Meskipun memaafkan diri sendiri pada dasarnya perjuangan internal, Saltz mengatakan, jalan keluar, umumnya melibatkan orang lain. Terkadang melibatkan permintaan maaf, atau menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah dengan orang yang telah kita sakiti. Cara lain, kita hanya perlu pendengar yang objektif. Seorang terapis, pendeta, teman dekat, atau anggota keluarga yang kita percaya dapat memberikan pandangan jelas dan jujur, yang kita butuhkan untuk melihat kesalahan kita apa adanya, dan terus mendorong maju.

Seringkali kita perlu berkomunikasi dengan orang lain, karena sulit melakukannya dengan kepala hampa. Pandangan objektif orang lain akan bermanfaat, terutama jika Anda terjebak dalam lingkaran perasaan bersalah, dan sulit untuk keluar,” kata Saltz

Jika berbagi tentang perjuangan batin Anda dengan orang lain, dapat membantu memaafkan diri sendiri, maka menyembunyikannya, akan menjauhkannya. Beberapa tahun yang lalu, ahli strategi pemasaran Steve Kurniawan kecanduan berjudi. Hal ini menyebabkan bencana keuangan baginya, diikuti oleh serangkaian kebohongan pada keluarga dan teman untuk mendapatkan pinjaman, serta untuk menyembunyikan masalahnya.

Ketika hidupnya berantakan, Kurniawan merasa hancur oleh tindakannya, tetapi dia masih tidak bisa menghentikan putaran rasa bersalah tersebut.

Setelah melakukan kesalahan, kita memandang diri kita sebagai monster dan kemudian membenci diri sendiri. Kita condong menyalahkan diri sendiri dan sering kali mengarah pada tindakan melakukan kesalahan yang sama.” kata Kurniawan

Yang membuat Kurniawan berubah adalah mengungkapkan masalahnya dengan orang-orang terdekatnya, dan menunjukkan bahwa dia sangat ingin berubah. Sebagai gantinya, orang-orang terdekat mulai melihat kemajuan dalam hidupnya. Tanggapan dari orang-orang terdekatnya membuat Kurniawan perlahan melihat dirinya dalam pandangan yang lebih baik.

Secara pribadi saya menjalani perjalanan spiritual yang panjang sebelum benar-benar dapat memaafkan diri sendiri. Sangat penting mendapat dukungan dari orang-orang yang dapat memotivasi kita dan menegaskan bahwa kita bukanlah sosok yang mengerikan,” tutur Kurniawan

Kontemplasi diri

Orang lain dapat memberikan penunjuk, tetapi upaya untuk mengevaluasi kesalahan diri, harus berasal dari diri sendiri (Image: Unsplash)

Orang lain dapat memberikan penunjuk, tetapi upaya untuk mengevaluasi kesalahan diri, harus berasal dari diri kita sendiri.

Jika merasa gagal, Anda dapat mengingat bahwa semua orang pernah membuat kesalahan. Saltz mengatakan, memaafkan jauh dari sekadar mengakui jika Anda manusia biasa. Ini tentang memahami dari mana kesalahan Anda, melakukan cara efektif untuk menghadapinya, dan menghentikan rutinitas tidak berguna yang bisa membuat kesalahan terulang.

“Petunjuk datang saat seseorang mengatakan … ‘Mode yang saya jalani ini masih masuk akal dengan cara yang tidak tepat, tetapi saat dilihat lebih jelas, mode ini tidak membantu saya ataupun anak-anak saya,’” lanjut Saltz.

Meskipun tergoda untuk lari dari perasaan negatif tentang diri kita sendiri, Katie Wock, seorang life-coach bersertifikat dengan spesialisasi pengampunan, mendorong kita untuk merangkulnya.

Jangan usir perasaan negatif. Buka dan jelajahi mereka. Cobalah untuk mengingat secara keseluruhan dan sebutkan emosi yang berkaitan. Ini sulit. Ini akan membuat Anda merasa ngeri dan kotor, tetapi hasilnya sepadan dengan usaha Anda,” tukas Wock.

Begitu Anda mengingat kembali insiden itu sesuai kemampuan Anda, pikirkan mengapa peristiwa itu masih membuat Anda bereaksi. Apakah memicu perasaan tidak kompeten atau tidak layak? Jika demikian, cobalah untuk menguraikannya.

Kemarahan dan rasa malu seringkali berkaitan,” lanjut Wock. “Kemungkinan besar, kemarahan yang timbul akibat menutupi rasa sakit yang Anda rasakan ketika mengingat kejadian tersebut. Lepaskan. Marah tidak akan membantu Anda.”

Pada akhirnya, pertimbangkan hikmah yang dapat dipelajari, dan masukkan ke dalam hati. Misalnya, jika Anda dihantui oleh komentar menyakitkan yang Anda katakan pada seseorang di masa lalu, pikirkanlah, apakah Anda masih memiliki kebiasaan tersebut.

Terkadang, otak kita terus mengungkit kejadian yang kita pikir telah kita damaikan. Jika ini masalahnya, mungkin ada sesuatu hal yang tidak kita lihat,” kata Wock. “Cobalah mengingatnya dari sudut pandang orang ketiga. Pandangan secara objektif mungkin dapat memunculkan solusi baru.”

(Conanmilner/theepochtimes/jul/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor