Keluarga

Perlukah Anak Sekolah Di Usia Dini?

Pendidikan bagi anak usia dini sebenarnya ditekankan pada pendidikan karakter dan pendidikan lain yang dapat menstimulasi perkembangan anak secara menyeluruh (Image: freepik)

Mungkin kebanyakan keluarga di era milenial ini merasakan kebingungan dengan pendidikan anak-anak mereka di usia dini. Banyak keluarga, terutama para ibu, yang merasa, anaknya tidak memerlukan pendidikan di usia dini. Selain pertimbangan biaya juga kekhawatiran jika anak belum siap menghadapi lingkungan sekolah. Namun di sisi lain, saat sang anak akan memasuki jenjang sekolah dasar, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah laporan kegiatan sekolah (raport) di jenjang pendidikan sebelumnya. Ini bukan tanpa alasan. Karena sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2019, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi salah satu layanan pendidikan yang wajib diselenggarakan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar.

Sebenarnya, pendidikan anak usia dini dimulai dari keluarga. Idealnya, orang tua harus bisa mendampingi, mengamati, dan memberikan aktivitas yang memadai sesuai dengan usia anak. Namun demikian, kondisi orang tua sangat beragam. Tidak semua orang tua mampu mendidik anaknya secara mandiri. Oleh karena itu, muncullah lembaga-lembaga pendidikan usia dini yang membantu para orang tua melengkapi pendidikan anaknya. Dahulu pendidikan usia dini dimulai saat anak berusia 4 tahun, namun belakangan, usia pendidikan dini bergeser menjadi 2 tahun. Bahkan ada sekolah yang sudah menyanggupi menerima murid yang masih berusia 18 bulan. Peraturan pemerintah sendiri menetapkan, layanan PAUD sebenarnya diperuntukkan bagi anak usia 5 tahun sampai dengan 6 tahun.

Hal lain yang menambah kebimbangan orang tua adalah adanya sekolah yang memasukkan pendidikan membaca, menulis dan berhitung (calistung) pada kurikulum sekolahnya.  Bahkan, ada beberapa penyelenggara pendidikan usia dini yang mensyaratkan calon siswanya sudah dapat mengenali huruf atau menuliskan namanya sendiri sebagai salah satu prasyarat memasuki sekolahnya. Sebenarnya pemerintah telah menekankan bahwa penguasaan membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) bukan merupakan kemampuan wajib yang harus dimiliki oleh para peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kompetensi calistung baru diajarkan secara formal saat peserta didik berada di jenjang sekolah dasar (SD). Penjelasan ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar, pada laman kemendikbud.

Pendidikan bagi anak usia dini sebenarnya ditekankan pada pendidikan karakter dan pendidikan lain yang dapat menstimulasi perkembangan anak secara menyeluruh, seperti perkembangan fisik, kognitif, sosial, afeksi, atau emosi yang saling berkesinambungan. Secara keseluruhan, pendidikan ini merupakan landasan untuk melakukan pendidikan yang lebih serius di jenjang sekolah berikutnya.

Seorang psikolog dan kepala sekolah kelompok bermain, Shinta Oktaviani, S. Ps, berpendapat, menyekolahkan anak sejak usia dini, dewasa ini menjadi salah satu hal penting untuk mendukung perkembangan anak. Ini dikarenakan saat anak bersekolah, anak-anak akan belajar untuk bersosialisasi yang menjadi hal penting dalam perkembangan anak. Tak hanya itu, saat di sekolah, anak juga akan diajarkan berbagai hal yang bertujuan untuk mengasah sensor anak untuk perkembangan kognitif sang anak.

Di lain pihak, sebuah studi yang dilakukan oleh Thomas Dee profesor dari Stanford Graduate School of Education dan Henrik Sievertsen dari Danish National Centre for Social Research, di Universitas Stanford, pada 2015 menunjukkan bahwa anak-anak di Denmark yang menunda masuk TK hingga setahun, menampakkan kemampuan untuk mengendalikan diri yang lebih tinggi, seperti dilansir dari situs Quartz. Menurut Henrik, efek penundaan masuk sekolah –pada hiperaktifitas dan kurangnya fokus perhatian anak­– dampaknya tidak berkurang seiring berjalannya waktu, namun justru semakin meningkat.

Lantas bagaimana, perlukah anak bersekolah di usia dini? Seberapa penting menyekolahkan anak sejak usia dini? Ini tergantung pada orang tua. Jika sebagai orang tua bisa memfasilitasi anak mendapatkan stimulasi terbaik untuk perkembangan anak di rumah, silakan untuk menunda memasukkan anak di sekolah usia dini. Namun, jika orang tua merasa tidak mampu memberikannya di rumah, ada baiknya untuk mencari “partner” yang dapat dipercaya untuk membantu mendidik anaknya. Namun demikian, jangan dilupakan, memilih “partner” yang tepat, yang sesuai dengan kriteria pendidikan dasar usia dini, tanpa embel-embel calistung, juga merupakan pekerjaan rumah tersendiri. Orang tua harus secara cermat memilih sekolah yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai dengan usianya tanpa terbebani hal-hal yang seharusnya belum mereka dapatkan. (NTD Indonesia/ averiani)