Keluarga

Pernikahan Tradisional: Mengutamakan Penghargaan dan Kesetiaan

Pasangan (Trung Nguyen @ Pexels)
Pasangan (Trung Nguyen @ Pexels)

Sebagai peristiwa yang paling penting dalam kehidupan seseorang, pernikahan tidak dapat dianggap sebagai suatu hal yang biasa.

Namun, pandangan seseorang yang “santai” terhadap suatu pernikahan mungkin menjadi akar dari banyaknya masalah sosial dewasa ini.

Kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan emosional (dengan cara mendiamkan atau mengabaikan pasangan), the seven-year itch (kepercayaan modern jika kebahagiaan dalam berumah tangga akan berkurang setelah tujuh tahun masa pernikahan), hubungan di luar nikah, hidup bersama di luar nikah, dan kesiagaan untuk bercerai telah menurunkan moralitas sosial dan menghasilkan karma besar yang kita hadapi dalam bentuk penyakit, bencana, dan ketidakbahagiaan pada umumnya.

Perubahan pandangan terhadap pernikahan mungkin karena perhatian berlebihan terhadap diri sendiri, standar kesempurnaan seperti dalam cerita roman, pemuasan hasrat, dan ketidakpercayaan pada hukum sebab akibat. Dengan turunnya moralitas sosial, seseorang perlu mengatasi akar masalahnya untuk menemukan solusi yang tepat.

Jika kita melihat kembali kearifan budaya tradisional dan memahami hubungan pernikahan di masa-masa lampau, kita mungkin akan menemukan kunci untuk memulihkan moralitas dalam masyarakat.

Hubungan yang sudah ditakdirkan

Dalam menggambarkan takdir antara suami dan istri, pepatah Tiongkok mengatakan, “Dibutuhkan seratus tahun untuk membangun hubungan agar dua orang dapat berbagi perahu, dan seribu tahun agar dua orang dapat berbagi tempat tidur.”

Bayangkan di dunia yang luas ini, dengan lautan manusia di dalamnya, ada dua orang asing yang dapat bersatu, itu benar-benar luar biasa. Budaya tradisional Tiongkok mengaitkan hubungan ini dengan hubungan “hutang-piutang” karma dari kehidupan sebelumnya.

Meskipun cinta mungkin menyatukan dua orang, namun sikap menghargai dan kesetiaanlah yang membuat mereka tetap bersama. Meski perasaan “jatuh cinta” sangat kuat, tetapi baru-baru ini mereka menganggap asmara lebih penting — dalam bahasa Tiongkok, kata modern “romance” berasal dari bahasa Inggris.

Dengan penekanan modern pada individualitas, orang telah lupa bagaimana berkompromi demi janji suci mereka, dan keinginan mereka sendiri seringkali diutamakan dibandingkan nilai-nilai yang lebih penting.

Pada zaman kuno, ritual lengkap dan etika moral mengikat perasaan di antara pria dan wanita. Orang-orang percaya bahwa “cinta” harus menjadi dasar pernikahan, bukan sebaliknya. Pernikahan itu tertata, stabil, rasional, dan diakui serta dihormati oleh seluruh masyarakat. Semua “cinta” diluar dasar pernikahan tidak diizinkan dan dianggap tidak sah.

Pernikahan bukan permainan. Bahkan menjelang acara pernikahan pun sarat dengan upacara yang rumit. Pada jaman Dinasti Zhou (1045-221 SM), dinasti yang paling bertahan lama, dan salah satu dinasti yang memiliki kebudayaan paling penting di Tiongkok, telah membuat “enam etiket” pernikahan. 納採 (Nà cǎi, lamaran), 問名 (wèn míng, pencocokan hari lahir), 納吉 (nà jí, pertunangan), 納征 (nà zhēng, hantaran pernikahan), 請期(qǐng qī, pemilihan tanggal), dan 親迎(qīn yíng, upacara pernikahan) adalah langkah-langkah yang diambil setiap orang menjelang pernikahan. Pencocokan hari lahir dilakukan dengan bantuan seorang peramal, yang akan memprediksi apakah pernikahan akan berhasil berdasarkan kecocokan zodiak.

Sejalan dengan ritual ini, orang-orang menunjukkan rasa hormat mereka kepada Tuhan dan Surga, dan menekankan rasa hormat pada orang tua dan leluhur. Mereka akan memberi penghormatan kepada Langit dan Bumi agar diakui secara resmi, dan juga memberi penghormatan kepada orang tua mereka untuk menerima restu mereka.

Pandangan jaman dahulu terhadap pernikahan adalah bahwa takdir, ritual, penghargaan, dan kesetiaan lebih penting dibandingkan asmara (romance) dan hasrat. Pandangan orang modern terhadap pernikahan telah menjadi terbalik. Dua contoh tentang pasangan suami istri pada zaman dahulu di bawah ini mungkin berguna untuk mengingatkan kita bagaimana memandang pernikahan sebagai suatu hal yang sakral dan kokoh.

Yan Ying setia pada istrinya yang sudah berumur

Pada Zaman Musim Semi dan Musim Gugur (Spring and Autumn Period, zaman di penghujung Dinasti Zhou, 770 – 476 SM) dan Zaman Negara-Negara Berperang (475 SM – 221 SM), ada seorang menteri yang terkenal dan bijaksana di Negara Qi, bernama Yan Ying yang termasyhur.

Duke Jing, pemimpin Qi, memiliki seorang putri yang sangat dia sayangi. Terkesan dengan bakat Yan Ying, dia menawarkan kepadanya untuk menikahi putrinya. Yan Ying sudah menikah, tetapi meskipun demikian, Duke Jing mengunjunginya untuk membahas pertunangan dalam sebuah perjamuan.

Saat istri Yan — yang umurnya lebih tua dan telah kehilangan kecantikannya — sedang sibuk menjamu para tamu, raja memperhatikannya dan bertanya pada Yan, “Apakah itu istrimu?” Yan menjawab dengan jujur, “Ya, dia adalah istriku.” Mendengar ini, Duke Jing menghela nafas dan berkata, “Aduh, dia sudah tua dan jelek! Saya memiliki seorang putri yang masih muda dan cantik, tidakkah Anda ingin menikahinya?”

Mendengar ini, Yan meletakkan sumpitnya, dengan cepat bangkit dari tempat duduknya, dan dengan hormat dan sungguh-sungguh menjawab Duke Jing, “Istri saya sudah tua dan tidak cantik, tetapi saya telah hidup bersamanya untuk waktu yang lama. Ketika seorang wanita menikahi Anda di masa mudanya, dia mempercayakan hidupnya kepada Anda.”

“Istri saya mempercayakan hidupnya kepada saya ketika dia masih muda, tidak peduli dengan pangkat maupun penampilan saya, dan saya menerimanya. Merupakan suatu kehormatan besar bahwa Yang Mulia sekarang menawarkan putrinya untuk saya nikahi! Tetapi sebagai seorang pria, berdiri di antara Langit dan Bumi, saya telah menerima kepercayaan istri saya. Bagaimana saya bisa meninggalkan dia dan menerima orang lain?”

Meskipun Yan Ying memegang posisi jabatan tinggi, dia tidak meninggalkan istrinya yang tua dan tidak cantik ketika menghadapi godaan. Kebajikan dan karakter mulianya telah dikagumi selama berabad-abad.

Yu dan istrinya saling menghormati layaknya tamu kehormatan

Pada masa Periode Musim Semi dan Gugur, Xi Que, seorang pejabat senior Negara Jin, dipuji karena hubungannya yang penuh hormat dengan sang istri. “Ru Bin Township (Kotapraja Tamu Kehormatan)” di Qingjian, Provinsi Shanxi, dinamai menurut namanya.

Selama pemerintahan Duke Wen, baik Xi dan ayahnya menjabat sebagai pejabat di istana. Mereka kemudian turun pangkat menjadi orang biasa karena mereka terlibat dalam kasus hukum. Ketika dia kembali ke kampung halamannya, dia berpakaian sederhana, membajak sawah dan hidup rukun dengan tetangganya.

Ketika Duke Wen mengirim menterinya, Jiu Ji dalam misi ke luar negeri, Jiu Ji melewati desa Xi di wilayah Ji (冀) dan melihatnya sedang mencangkul di ladang sementara istrinya membawakan makanan untuknya. Istrinya dengan sopan menawarkan makanan kepadanya, dia menerima dengan hormat dan memperlakukan istrinya seperti tamu kehormatan.

Jiu Ji sangat terkesan dan memberi tahu Duke Wen setelah dia pulang kembali ke istana, “Saya pergi ke Wilayah Ji dan saya melihat bahwa Xi dan istrinya saling menghormati layaknya tamu kehormatan. Saya pikir menghormati satu sama lain adalah manifestasi dari kebajikan. Jika seseorang memiliki kebajikan, dia bisa mengatur pemerintahan negara. Tolong bawa Xi kembali dan angkat kembali dia ke istana.”

Duke dari Jin tersebut menuruti nasihatnya dan mengangkat Xi Que menjadi menteri pertahanan. Kemudian pecah perang, Xi memimpin pasukan di garis depan, di mana mereka menaklukkan musuh. Dia dipromosikan dan dianugerahi sebidang tanah.

Kemudian orang-orang menamakan tempat di mana Xi mencangkul sebagai “Ladang Akumulasi Kebajikan” (Field of Accumulated Virtue atau 聚德田), dan membangun sebuah paviliun di sana. Daerah tempat tinggal Xi diubah namanya menjadi Kotapraja “Tamu kehormatan” (如賓).

Menganggap santai sebuah pernikahan dapat dengan cepat mengikis moralitas seluruh masyarakat. Mematuhi tradisi dan kesopanan membawa keharmonisan dan stabilitas kepada masyarakat, dan memberikan standar yang lurus untuk hidup kepada generasi masa mendatang. (lucycrawford/visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI