Sebagian besar individu yang belum berkeluarga atau belum memiliki pasangan hidup, memasuki usia tiga puluh adalah suatu hal yang paling ditakuti, terlebih bagi kaum hawa. Mereka menganggap angka tiga puluh merupakan usia rentan atau titik kulminasi yang menentukan keberhasilan seseorang dalam menemukan pasangan hidup. Perempuan yang telah gagal menemukan pasangan idaman di usianya yang ke-30 harus mengubah pandangan sempitnya mengenai apa yang mereka lihat dari seorang pria.
Perempuan usia muda cenderung punya kriteria mengenai pasangan sempurna. Namun tujuannya sekarang bukan lagi mencari pasangan sempurna tapi apa yang diharapkan dengan mengejar harapan yang tak berkesudahan, ini semua hanya akan membawa dirinya terbuai dengan angan-angan.
Seorang penulis Lori Gottlieb, 40 tahun mengatakan “seorang perempuan lajang yang sudah berumur seringkali melakukan kesalahan yang menyebabkan dirinya kehilangan kesempatan untuk menemukan kebahagiaan karena tidak berhasil mengubah ekspektasinya yang terlampau tinggi dan muluk.
Para perempuan moderen telah dibodohi oleh tayangan-tayangan film Cinderella, novel atau serial drama fiktif yang akhirnya membuat mereka yakin bahwa kelak mereka akan menemukan pria pujaan yang mereka idamkan.
Sebaliknya, Gottlieb berpendapat bahwa perempuan harus mampu melihat jauh ke depan dan bersikap realistis, memandang pernikahan bukanlah sebuah “pelampiasan gairah “ melainkan suatu “kemitraan yang dibentuk untuk menjalankan sebuah usaha kecil-kecilan yang sifatnya non profit meski acapkali membosankan”.
Perempuan yang selalu berusaha menemukan lelaki idaman, dalam jangka panjang malah akan membuat diri mereka terjebak dalam kesendirian dan ketidakbahagiaan karena mereka telah melewatkan kesempatan memiliki patner usaha yang bagus. Topik ini telah menjadi inspirasi masyarakat Hollywood setelah buku barunya “Marry Him: The Case for Settling for Mr Good Enough“ dijadikan sebuah judul film.
Gottlieb yang merupakan orang tua tunggal bagi anaknya menulis berdasarkan pengalaman pribadinya bahwa ia berharap seandainya ia telah memilih pria pilihan kedua bagi dirinya. Apa yang menjadi impian Gottlieb, seperti halnya apa yang menjadi impian sang ibu dan neneknya yakni jatuh cinta kemudian menikah dan hidup bahagia selamanya. Keluarganya sangat mendambakan pernikahan ideal, namun karena keras kepala kita, akibatnya, kita malah menjauhi suatu hubungan yang kita anggap menjenuhkan yang mungkin bisa membuat kita bahagia.
Menurut Gottlieb, keberhasilan sebuah pernikahan bukanlah semata keberhasilan menciptakan hubungan romantis.
Pendapat berbeda dari Profesor Cary Cooper, seorang psikolog di Universitas Lancaster yang mengatakan bahwa perempuan yang tidak mampu menemukan pria idaman seharusnya tidak mencari pria pilihan kedua sebagai alternatif.
Bagi Cooper, tidak ada seorang pria yang sempurna, yang memiliki semua karakteristik yang diinginkan. Adalah mustahil apabila seseorang berhasil menemukan seorang pendamping hidup yang tepat dan memenuhi seluruh kriteria.
Sarannya bagi perempuan lajang agar mencari teman sebanyak-banyaknya. Carilah yang memiliki karakteristik yang paling mendekati terbaik. Kita perlu mencari tahu apa yang kita inginkan dan kemudian memilih seseorang yang setidaknya memenuhi beberapa prioritas utama kita.
Terkadang Cooper merasa heran apabila ada perempuan yang mengatakan sedang menunggu datangnya seorang lelaki yang tepat, apakah mungkin itu hanya dalih untuk menghindar dari suatu hubungan atau menghindar dari berkomitmen terhadap suatu hubungan. Sesungguhnya bagi Cooper, menemukan seseorang bukanlah hal yang susah.
(NTD Indonesia/ chingling)

