Memiliki keluarga yang harmonis adalah suatu hal yang diidam-idamkan oleh banyak orang atau pasangan. Meskipun demikian, mencapai impian tersebut, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masing-masing individu dalam keluarga harus berperan aktif untuk terus berusaha dan menciptakan kondisi yang saling memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh keluarga.
Ketika kondisi harmonis telah tercipta, anggota keluarga dengan sendirinya akan mengganggap “bangunan berbentuk apapun” yang mereka tinggali sebagai “rumah untuk pulang” meski kemanapun dan sejauh apapun mereka pergi. Disinilah suatu “bangunan yang dianggap sebagai rumah bagi penghuninya” dapat memainkan peranan yang mendukung keluarga di dalamnya.
Menciptakan sebuah bangunan dengan ruang-ruang yang terasa nyaman dan damai di dalamnya, setidaknya dapat membantu meredam keletihan atau kegelisahan penghuninya. Salah satu cara sederhana mengarahkan mood sebuah ruang, menurut teori perencanaan interior, yakni dengan mengaplikasikan warna.
Terlepas dari elemen-elemen penting dalam interior, sejumlah ahli meyakini, jika warna memiliki dampak psikologis pada manusia. Namun ada pendapat lain yang mengungkapkan bahwa warna tertentu, dapat membentuk persepsi atau mengarahkan suasana hati penghuni di dalamnya.
Faber Birren dalam bukunya “Color Psychology and Color Therapy” menuliskan meskipun penelitian pada aspek psikologis warna cukup sulit dilakukan karena emosi manusia tidak bisa dikatakan stabil 100% serta susunan psikis manusia bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya, namun ada sejumlah reaksi umum dan universal terhadap warna yang secara tidak sadar tampak pada kebanyakan orang. Ini ditunjukkan oleh Gilbert Brighouse saat mengukur reaksi manusia di bawah lampu berwarna, dengan melakukan studi menguji respons otot di antara beberapa ratus mahasiswa, dan menunjukkan hasil yang kurang lebih sama.
Selain itu, Faber Birren juga meyakini bahwa manusia menggunakan warna dalam penggunaan sehari-hari untuk mengekspresikan diri, mengomunikasikan pikiran dan perasaan, serta untuk membantu mengidentifikasi diri. Alih-alih mengatakan bahwa warna memiliki pengaruh langsung pada emosi, Birren menulis bahwa persepsi manusia terhadap warnalah yang memengaruhi emosi mereka.
Beberapa asosiasi terhadap warna di masyarakat Amerika modern
Merah:
Psikis yang berkaitan: panas, api, marah, darah
Impresi objektif: bergairah, mengasyikkan, bersemangat, aktif
Orange:
Psikis yang berkaitan: hangat, metalik, musim gugur
Impresi objektif: riang, lincah, energik, kuat
Kuning
Psikis yang berkaitan: sinar matahari
Impresi objektif: ceria, inspiratif, vital, ketuhanan
Hijau
Psikis yang berkaitan: sejuk, alam, air
Impresi objektif: ketenangan, menyegarkan, kedamaian, kelahiran
Biru
Psikis yang berkaitan: dingin, langit, air, es
Impresi objektif: menaklukkan, melankolis, kontemplatif, kesadaran
Ungu
Psikis yang berkaitan: dingin, kabut, kegelapan, bayangan
Impresi objektif: bermartabat, sombong, berkabung, mistis
Putih
Psikis yang berkaitan: dingin, salju
Impresi objektif: murni, bersih, jujur, awet muda
Hitam
Psikis yang berkaitan: netral, malam, hampa
Impresi objektif: pemakaman, buruk, mematikan, menyedihkan
Diatas adalah asosiasi terhadap warna di masyarakat Amerika modern. Di daerah atau budaya yang berbeda mungkin akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Sebagai contoh, warna putih di atas mewakili kemurnian dan kesucian, sedangkan budaya yang lain, memandangnya sebagai simbol berkabung. Sekali lagi persepsi warna terutama berkaitan erat dengan individu yang tinggal di dalamnya. Pilihlah warna-warna yang menyiratkan ekspresi Anda. (NTDindonesia/ averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
