Keluarga

Saling Berempati : Catatan dari Sebuah Krisis

Sosialisasi
Sosialisasi. @Pexels

Ketika pandemi terus berlanjut dan penerapan social distancing dilakukan oleh hampir semua negara di dunia, maka muncullah moto, “kita hadapi semua ini bersama-sama.” Pasti.

Mungkin akan ada seberkas cahaya di ujung terowongan. Sehingga, fokus akan ditujukan pada bagaimana kita berjuang meninggalkan kepompong yang telah kita bangun ini dan memasuki apa yang tidak diragukan lagi sebagai sebuah “kehidupan normal” baru.

Saat ini, kita dipersatukan ? bekerja bersama untuk satu tujuan ? melakukan segala yang kita bisa untuk membasmi apa yang disebut “musuh tak terlihat”. Kita berkorban dan bertahan demi melindungi yang paling rentan diantara kita. Kita membantu satu sama lain selama periode ini, sembari menghadapi ketidakpastian dan mengatasinya satu persatu setiap hari.

Kondisi kita saat ini sangat kontras dengan apa yang selama ini diajarkan pada kita, yang dianggap sebagai suatu hal benar ? kita telah terpecah belah, karena persaingan satu sama lain, karena penilaian berdasarkan kedangkalan yang tidak relevan satu sama lain. Ini telah terbukti salah tanpa diragukan lagi. Apakah kita benar-benar mempercayainya?

Ketika situasi genting, kita sudah siap melakukan apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi kita masih saling membantu terutama membantu mereka yang paling berisiko. Alih-alih bersaing dengan keluarga tetangga, kita dengan sepenuh hati turut bahu membahu bersama mereka.

Kita juga bertepuk tangan untuk para pahlawan sesungguhnya, para tenaga medis, para kurir, dan para penjaga toko bahan makanan, yang dengan berani menerima tugas mereka dan berkorban tanpa pamrih saat melakukan pekerjaan mereka. Kita telah melihat pemilik usaha yang dermawan maju menawarkan sumber dayanya baik yang besar dan kecil. Kita telah melihat anggota komunitas kita, baik yang tua maupun muda, memanfaatkan bakat mereka memberikan apa yang mereka bisa. Kita telah menjaga jarak satu sama lain, selalu mencuci tangan, dan berdoa.

Ini adalah masa-masa yang berat sekaligus menakutkan. Namun, pengalaman masing-masing orang dalam menghadapi krisis ini, tentu saja berbeda-beda. Bagi sebagian orang mungkin lebih berat dibandingkan yang lain.

Namun demikian, kita akan menjadi lengah bila membiarkan momen ini berlalu tanpa memperhatikan kebaikan tulus yang ditunjukkan dalam skala luas di seluruh masyarakat. Layak untuk berhenti sejenak dan memperhatikan. Anda bisa mengetahui banyak tentang seseorang melalui cara mereka bertindak dalam menghadapi tragedi.

Saya percaya rasa empati dan kasih sayang kita secara keseluruhan telah bertambah besar. Dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita dapat memahami bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. Di malam hari, ketika kepala kita menyentuh bantal, kita memahami ? setidaknya sampai taraf tertentu ? kecemasan, ketakutan, beban tanggung jawab, kepedulian terhadap keluarga, teman dan sesama manusia yang juga dihadapi semua orang.

Terlebih lagi, kita ternyata lebih kuat dari yang kita yakini. Ketika rasa nyaman mengalah pada rasa cemas, kita melangkah maju. Tetangga membantu tetangga, para keluarga menghemat sumber daya, dan para pemimpin telah membuat keputusan berani.

Kita membatasi diri kita masing-masing, tetapi dalam banyak hal kita belum pernah sedekat ini. Para ayah dan ibu, putra dan putri, saudara lelaki dan perempuan, cucu dan kakek-nenek melakukan bagian mereka, berkorban jika diperlukan, mentolerir ketidaknyamanan, memainkan peran mereka dan menyelamatkan kita semua.

Adakah aspek dari momen historis ini yang harus dikritik dan dipelajari? Tentu saja ada. Namun, itu akan dibahas pada artikel yang lain.

Sebagai individu, saya berharap saat krisis ini mereda, ketika kita melangkah keluar dari terowongan dan menuju cahaya, kita menemukan diri kita lebih mampu memahami dan membagikan kebenaran, melihat kebaikan dalam diri orang lain, mewujudkan kebaikan dan kasih sayang serta menjunjung tinggi tugas kita pada keluarga, komunitas, dan masyarakat kita. (barbaradanza/theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI