Keluarga

Sekolah di Rumah Sampai Kapan?

Sekolah
Sekolah. www.freepik.com

Diskusi Virtual koalisi warga LaporCovid-19

Saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan pernyataan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum memerlukan pengunduran tahun ajaran baru maupun tahun akademik pada Rapat Kerja telekonferensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), di Jakarta, Rabu 20/5/2020, banyak yang kemudian mengasumsikannya sebagai pembukaan kelas belajar tatap muka di kelas, meskipun  pada saat itu Nadiem juga menegaskan bahwa keputusan pembukaan kembali sekolah akan ditetapkan berdasarkan pertimbangan  Gugus Tugas Percepatan Penanganan (Coronavirus Disease (COVID-19) bukan sepihak oleh Kemendikbud.

Mengingat angka yang terkonfirmasi masih beragam dan belum melandai secara signifikan, banyak yang meragukan kegiatan belajar mengajar tatap muka di kelas dapat dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Tentunya hal ini sangat membingungkan banyak pihak termasuk orang tua dan sekolah itu sendiri. Jika banyak yang beranggapan belum siap, lantas sampai kapan sebaiknya pembelajaran tetap berlangsung di rumah? Suatu diskusi virtual digelar untuk membahas hal ini.

Anak-anak juga rentan

Menurut anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Cissy B Kartasasmita, melalui diskusi virtual yang digagas koalisi warga LaporCovid-19, Kamis (4/6/2020), anak-anak juga rentan terhadap Covid-19, terlebih yang memiliki penyakit penyerta, seperti asma, jantung, atau obesitas. Anggapan yang selama ini beredar bahwa anak-anak relatif lebih kebal terhadap Covid-19, tidak benar.

“Amerika, Inggris, dan Italia melaporkan adanya kasus anak yang sehat mendadak sakit berat. Anak yang dirawat di RS mengalami sindroma peradangan yang berat. Dari hasil pemeriksaan, serologi SARS-CoV-2 dinyatakan positif. Artinya, anak tersebut pernah terinfeksi Covid-19. Ini menunjukkan bahwa gejala sisa Covid-19 pada anak perlu diperhatikan walau jarang terjadi secara global,” lanjut Cissy.

Dua Sisi Mata Uang

Ahli epidemiologi Universitas Padjadjaran, Panji Fortuna Hadisoemarto, dalam diskusi yang sama, menyampaikan sebuah riset di sebuah sekolah Katolik di Perancis yang memiliki sekitar 25 siswa per kelas. Penelitian mendapatkan bahwa siswa di sekolah tersebut menunjukkan adanya ratusan kontak dalam jangkauan 1 meter, yang terjadi dalam sehari. Dengan intensitas kontak fisik di sekolah yang tidak dapat dihindari ini akan menjadi sarana penyebaran virus baru.

Panji juga menambahkan, “Populasi anak usia sekolah sebenarnya masuk ke dalam kelompok risiko rendah untuk tertular, sakit, atau meninggal dunia. Namun karena intensitas (frekuensi) kontak di sekolah, dapat menyebabkan jumlah anak yang sakit, sakit berat, dan meninggal dunia menjadi relatif tinggi.”

Selain itu, meski probabilitas penularan secara umum lebih kecil, namun anak-anak masuk dalam kelompok asimtomatik, yakni dapat menularkan virus ke orang lain. Kita tahu sendiri, di Indonesia, banyak keluarga yang tinggal dengan kakek atau neneknya. Sedangkan kelompok lansia ini termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi. Tentu risiko ini tidak dapat diabaikan. Membuka kembali sekolah dinilai dapat meningkatkan risiko ini.

Sudah siapkah guru?

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyampaikan guru-guru sendiri belum merasa siap jika dibuka pada Juli 2020. Dia menyarankan setidaknya pembelajaran dimulai pada Januari 2021. Hal ini diungkapkan pada diskusi yang bertema “Anak & Covid-19: Sekolah di Rumah, Sampai Kapan?” itu.

Mengapa Januari? Karena 6 bulan adalah waktu yang dirasa cukup untuk memberi kesempatan pada guru mengikuti pelatihan teknologi dan membekali diri, sehingga siap saat pembelajaran dibuka kembali. Entah kegiatan belajar mengajar itu dilakukan dengan tatap muka maupun secara jarak jauh.

Survei yang dilakukan oleh pihak IGI sendiri mengenai seberapa yakin sekolah akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, menunjukkan hanya 15,8% responden dari 4,309 tanggapan yang meyakininya, sisanya memiliki keraguan dan ketidakyakinan. Keraguan juga dialami oleh para guru, terutama yang berusia diatas 50 tahun, karena menyadari jika berada dalam kelompok usia rentan. Dilaporkan bahwa saat ini, sekitar 60% guru bersifat non PNS dan 50% dari guru PNS berusia diatas 50 tahun.

Bagaimana dengan sekolahnya sendiri?

Cissy mengisyaratkan bahwa pembelajaran tatap muka sebaiknya tidak dilaksanakan dalam waktu dekat. Secara garis besar, Cissy menyebutkan ada tiga hal prasyarat utama yang harus dipenuhi saat akan dilakukan pembukaan kegiatan belajar mengajar di kelas, yakni mempersiapkan sekolah, guru, serta siswa itu sendiri.

Pihak sekolah harus memastikan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dan menyediakan infrastruktur penunjang, seperti penyediaan wastafel dan sabun cuci tangan. Kebersihan dalam kelas dan lingkungan sekolah harus dijaga. Selain itu, perlu diperhatikan bagaimana pelaksanaan kantin, toilet sekolah, serta penyesuaian ruangan kelas dengan jumlah murid.

“Guru perlu dipersiapkan untuk mendukung pengajaran efektif, menyiapkan dan mengawasi sejak siswa tiba di sekolah, selama proses pembelajaran, saat jam istirahat, waktu makan siang jika ada, hingga ketika anak pulang ke rumah.” Kata Cissy.

Sedangkan siswa sendiri juga perlu dipersiapkan oleh keluarganya untuk beradaptasi dengan berbagai aturan baru. Seperti menjaga jarak 1-2 meter, tidak diperbolehkan kontak personal, mengenakan masker, rajin mencuci tangan, mengetahui etiket batuk, serta tertib menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Orang Tua Menolak

Sedangkan perwakilan dari orang tua sebagai panelis, Tenik Hartono, secara tegas menolak memasukkan anaknya ke sekolah dalam waktu dekat. Moderator Komunitas Parenting Indonesia Support Group #SekolahdiRumah itu mengatakan bahwa sikap yang sama juga ditunjukkan oleh para orangtua murid lain yang tergabung dalam forum di facebook tersebut.

“Orang tua adalah guru kedua bagi anak. Maka orangtua juga ikut bertanggung jawab mengajari anak di rumah. Sebagai orangtua, kita harus terus belajar agar dapat mendampingi anak,” kata Tenik.

Yang terpenting saat mendampingi anak adalah menjaga kesehatan mental orang tua. Jangan sampai orang tua depresi karena akan berpengaruh pada anak. Lebih baik orang tua tidak menerapkan standar terlalu tinggi, karena bagaimanapun saat ini semua sedang berada dalam kondisi khusus. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor