Keluarga

Seni Memberi (dan Menerima) Kritik

Ayah menasehati putranya @Canva Pro
Ayah menasehati putranya @Canva Pro

Saling menghormati, pendekatan yang tepat, dan bersedia mendengarkan dapat mencapai tujuan dan kesuksesan bersama

Semua orang adalah kritikus.

Pembeli di supermarket menekan dengan lembut daging buah alpukat, untuk memeriksa kematangannya. Anak berusia 5 tahun ingin ayahnya membaca “Winnie-the-Pooh” sebelum tidur daripada “Where the Wild Things Are.”

Kita memperhatikan segala macam hal setiap hari, umumnya tanpa banyak berpikir dan tidak “membahayakan”.

Namun, di saat kita berurusan dengan seseorang atau sekelompok orang disitulah muncul istilah kritik.

Baru-baru ini, seorang kenalan menceritakan bahwa putranya dipanggil ke kantor pelatihnya, dan si pelatih mengatakan kepadanya bahwa permainannya yang buruk di lapangan merugikan tim.

Pelatih tidak memberikan contoh dimana kegagalan anak muda ini dan tidak ada saran membangun, juga tidak berusaha menyampaikan tuduhannya dengan lebih lembut.

Sebaliknya si pelatih justru mengatakan hal yang sangat tidak mengenakkan pada anak itu dan menyuruhnya pergi, sungguh berlebihan, saya hampir tidak perlu menambahkannya lagi, membuat bingung dan merendahkan diri anak muda itu hingga ke titik terendah.

Kritik semacam itu, jika bisa disebut demikian, tidak hanya merugikan, tetapi juga tidak berharga. Pelatih menurunkan moral dan kepercayaan diri pemain bagus tanpa ada keuntungan yang bisa dikompensasi.

Penyampaian semacam ni adalah kritik yang paling buruk.

Di sisi lain ada sebagian orang yang sensitif yang, setelah menerima penilaian yang baik dan saran yang bermaksud baik dari baik dari pimpinan, teman, atau bahkan pasangan, praktis emosinya meledak atas apa yang mereka anggap sebagai serangan pribadi.

Untuk alasan apa pun — ego yang terlalu besar atau ketidaknyamanan hati— mereka tidak mampu menerima kekurangan yang ditunjukkan. Mereka membenci kritik yang membangun, tidak peduli seberapa valid atau seberapa halus kritik itu disampaikan.

Selama tiga tahun terakhir, saya telah menulis artikel dan resensi buku untuk enam editor dari lima penerbit yang berbeda. Mereka sering memberi saya saran atau meminta perubahan pada karya yang saya kirimkan.

Dalam setiap saran, saya mendengarkan dan mempertimbangkan apa yang mereka katakan. Mengapa? Karena saya mengerti bahwa baik saya maupun editor saya menginginkan artikel terbaik yang dapat kami usahakan untuk para pembaca kami.

Sesederhana itu. Kami berbagi tujuan yang sama. Kami menginginkan argumen yang meyakinkan, bahasa yang tepat, dan kata-kata yang bersinar.

Inti dari menilai kinerja seseorang adalah menyampaikan pada orang tersebut agar lebih memperbaiki diri. Tujuan itu paling baik dicapai ketika seorang kritikus menyampaikannya melalui kemahiran yang dimilikinya, seperti yang dilakukan editor saya, menyampaikan kelebihan saya yang pastinya akan lebih mendorong kinerja saya bersamaan juga menyampaikan kritik yang membangun, sambil menjelaskan mengapa perubahan seperti yang dia sampaikan akan membantu mencapai hasil terbaik.

Sebagai contoh: alih-alih mendesak suaminya, John, untuk kesekian kalinya membantu mencuci piring setelah makan malam, atau lebih buruk lagi, melakukan pekerjaan di dapur sambil menahan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun serta memendam kebencian yang mendalam, akan lebih baik jika Anne mengundang John minum bersama di teras belakang dengan segelas teh atau kopi di malam itu dan kemudian menjelaskan kepadanya betapa dia akan sangat menghargai bantuannya.

Dan bagaimana dengan John? Alih-alih membuat kesal dan membenci permintaan Anne, dia mungkin berusaha mendengarkannya dan kemudian mengajukan beberapa pertanyaan pada dirinya sendiri.

Mungkin pertanyaan semacam, apakah memang menyusahkannya hanya untuk sekedar 15 menit setelah makan malam membantu istrinya dengan tugas-tugas ini? Mungkinkah waktu kebersamaan yang hanya beberapa menit itu menjadi satu ikatan lagi dalam pernikahan mereka?

“Kritik mungkin tidak menyenangkan,” kata Winston Churchill dalam sebuah wawancara pada 1939, “tetapi itu perlu. Mereka memiliki fungsi yang sama seperti rasa sakit di tubuh manusia; meminta perhatian pada kondisi yang sedang tidak sehat.”

Sebuah poin yang bagus. Namun saya ingin menambahkan bahwa kita dapat membuat kritik menjadi suatu hal yang menyenangkan, atau setidaknya tidak terlalu “menyengat.”

Sedangkan di sisi lain, mereka yang sedang mendapatkan kritik perlu memainkan peran mereka dengan mendengarkan dan mengajukan pertanyaan. Ingatlah tujuan-tujuan ini, dengan demikian “keadaan tidak sehat” dapat diobati dan segera sembuh kembali. (jeff minick/theepochtimes/ian)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI