Di masa pandemi seperti ini, saat jumlah pasien positif pneumonia wuhan (Covid-19) di Indonesia per Selasa (14/4) mencapai 4.838 kasus, risiko penularannya akan semakin tinggi pada populasi yang rentan. Mereka yang memiliki riwayat medis sebelumnya dan para lansia menjadi kelompok yang berisiko paling tinggi.
Bagi kelompok yang paling berisiko, satu hal yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan virus. Cara paling mudah yakni dengan tinggal di rumah sebanyak mungkin atau social (physical) distancing seperti yang dihimbau pemerintah saat ini, karena menurut laporan dari laman covid19, hampir seluruh daerah di Indonesia terkonfirmasi positif pneumonia wuhan (Covid-19). Jika sangat terpaksa harus keluar rumah, sebaiknya menghindari keramaian atau area dengan kerumunan orang banyak. Selalu menggunakan masker dan mencoba menjaga jarak antara Anda dan orang lain. Ingatlah agar mencuci tangan sesering mungkin sesuai dengan cara yang disarankan oleh WHO dan usahakan untuk tidak menyentuh area matang, hidung, dan mulut.
“Social (physical) distancing” sendiri adalah ungkapan baru yang banyak disosialisasikan oleh pemerintah belakangan ini. Mulai dari social distancing, physical distancing, hingga yang terakhir PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sosialisasi ini menggambarkan betapa seriusnya kondisi di masa pandemi ini. Namun demikian saran ini sebenarnya banyak bertentangan dengan apa yang biasanya disarankan para ahli geriatri bagi para pasiennya. Para ahli geriatri, umumnya mendorong para pasien, yang notabene sudah berusia lanjut, untuk lebih banyak bersosialisasi. Menurut jurnal yang ditulis oleh Nicholas R. Nicholson, “A Review of Social Isolation: An Important but Underassessed Condition in Older Adults” dalam “The Journal of Primary Prevention,” bahwa isolasi sosial adalah masalah kesehatan utama dan lazim terjadi di antara para lansia yang berada dalam sebuah komunitas, yang pada dasarnya mengakibatkan berbagai kondisi kesehatan yang merugikan.
Oleh karena itu, bersamaan dengan diberlakukannya social distancing, muncul pula risiko isolasi sosial bagi para lansia. Lantas bagaimana seharusnya lansia menyeimbangkan antara dua hal yang berlawanan ini? Rekomendasi pemerintah yang ber-social (physical) distancing dengan saran para ahli geriatri yang meminta untuk “bersosialisasi dalam komunitas?”
Laurie Archbald-Pannone, seorang associate professor of medicine dan geriatrics di University of Virginia, melalui laman The Conversation menuturkan empat cara bagi para lansia agar tetap terhubung secara sosial pada komunitasnya selama masa social distancing ini.
1. Mempelajari Teknologi Baru
Saat ini telah banyak platform yang dapat digunakan untuk berjejaring sosial sebagai pengganti “bersosialisasi dalam komunitas” untuk sementara waktu. Menggunakan Facebook, Twitter, Instagram, atau Snapchat, misalnya. Atau tergabung dalam grup Whatsapp dan berkomunikasi dengan banyak teman disana. Mintalah bantuan tetangga atau teman, seandainya kesulitan untuk membuat akun baru. Selanjutnya, umumnya Anda akan lebih terbiasa untuk menggunakan aplikasinya.
2. Tetap Aktif dalam Komunitas
Hal ini mungkin terdengar berlawanan dengan himbauan pemerintah. Bagaimana dapat tetap menjadi bagian dari komunitas, jika saat ini diminta untuk ber-social distancing? Namun sekali lagi, saat ini telah dimungkinkan dengan opsi jarak jauh. Banyak sekolah, perusahaan, organisasi menggunakan bantuan teknologi untuk tetap terhubung meski dilakukan dari rumah masing-masing. Anda pun dapat melakukan aktivitas dalam komunitas dari rumah.
3. Membatasi Berita
Tetap terinformasi, agar mengetahui apa yang sedang terjadi, namun jangan lantas terjebak untuk menonton berita dari waktu ke waktu. Mendengarkan berita buruk terus menerus akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Salah satu saran yang bermanfaat agar tetap terinformasi tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan yakni dengan menonton berita terbaru di pagi hari, kemudian menonton lagi di malam hari. Dua kali dalam satu hari, selama 30 menit atau satu jam, sudah lebih dari cukup.
4. Tetap Terhubung dengan Keluarga dan Teman
Berusaha agar selalu dapat terhubung dengan orang-orang terdekat, terutama bagi lansia yang melakukan social distancing. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC atau The Centers for Disease Control and Prevention) merekomendasikan agar masyarakat menciptakan semacam “sistem pertemanan” untuk memastikan kelompok yang berisiko paling tinggi dan mereka yang sulit dijangkau, tetap terhubung dan mengetahui informasi berita terkini.
Di sisi lain, bagi putra-putri lansia tersebut, terutama yang memiliki anak berusia balita, akan lebih baik jika menunda keinginan untuk berkunjung ke rumah orang tua mereka, meski mengkhawatirkan kondisi kedua orang tuanya. Mengapa? Menurut CDC, anak-anak yang terkonfirmasi COVID-19 umumnya menunjukkan gejala-gejala ringan, namun akan lebih mungkin menjadi perantara bagi orang lain.
Anak yang lebih besar mungkin lebih dapat diberi pengertian agar menjaga jarak dari kakek atau neneknya, namun bagi anak-anak usia balita yang belum memahami arti social distancing, kemungkinan besar akan langsung berlari ke dalam pelukan kakek atau neneknya, begitu bertemu. Jika orang tua Anda termasuk kategori lansia, bahkan dalam kondisi sehat sekalipun, akan lebih baik jika mengurangi risiko yang akan timbul.
Bagi Anda yang belum berusia lanjut dan tidak memiliki anak usia balita, mungkin dapat membantu menjaga pertemanan dengan teman dan kerabat Anda yang lebih tua. Mereka pasti akan menghargai perhatian Anda.
Social distancing bukan berarti terisolasi secara sosial, karena pada kenyataannya, semua orang sedang terisolasi bersama, hanya saja, kita perlu memikirkan cara yang cerdas agar dapat menyiasatinya. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

