Site icon NTD Indonesia

Sudahkah Anda Membaca Hari Ini?

Beragam buku

Beragam buku. @Unsplash

Memperingati Hari Buku Nasional 17 Mei

Pada 17 Mei lalu, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional.

Peringatan ini berselang kurang dari 1 bulan dari peringatan World Book Day atau dikenal pula dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, 23 April. Jadi dalam setahun Indonesia memperingati dua kali hari buku.

Sebegitu pentingnya sebuah buku, hingga pemerintah perlu menetapkannya dalam dua perayaan yang berbeda. Sebenarnya makna yang ingin disampaikan bukan pada buku itu sendiri, melainkan apa yang akan didapatkan seseorang dan bagaimana sebuah buku dapat mempengaruhi pembacanya. Inilah hal yang penting.

Buku adalah jendela dunia.

Mungkin istilah ini sudah tidak asing lagi. Dengan membaca buku, pembaca dibawa ke dunia baru yang ditawarkan buku yang sedang dia baca. Seorang sastrawan berkebangsaan Amerika Serikat, Ray Douglas Bradbury atau dikenal dengan Ray bradbury, bahkan pernah menyebutkan seberapa pentingnya sebuah buku dalam suatu budaya, “You don’t have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them.” Dia menyampaikan bahwa meminta semua orang untuk berhenti membaca buku sama saja dengan menghancurkan suatu budaya.

Lantas, bagaimana dengan perkembangan buku di Indonesia?

Menurut riset Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang dilakukan pada 2015, diperkirakan ada lebih dari 30.000 judul buku yang diterbitkan setiap tahun di Indonesia. Angka ini hanya menggambarkan judul yang terdaftar dalam catatan resmi toko buku dan juga pengajuan ISBN di Perpusnas, dan tidak termasuk buku yang diterbitkan oleh individu (self publisher) atau organisasi non-penerbit seperti instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, komunitas independen, partai politik, dan asosiasi profesi.

Namun demikian, pada 2016 UNESCO menyebutkan minat baca Indonesia sangat rendah, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Pernyataan ini berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh John W. Miller, presiden Central Connecticut State University di New Britain, CT., terhadap minat baca masyarakat Indonesia. Dalam laporan berjudul World’s Most Literate Nations itu ditemukan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara, ini artinya Indonesia berada dalam urutan kedua dari bawah soal literasi dunia.

Dengan sedemikian banyak buku yang diterbitkan dan minat baca yang hanya 0,001%, lantas bagaimana nasib buku-buku yang telah diterbitkan?

Terinspirasi dari temuan UNESCO, sebuah survei dilakukan oleh picodi.com untuk memahami tren konsumen di bidang literatur orang Indonesia. Survei yang dilakukan sejak 2016 tersebut, mempelajari cara orang Indonesia dalam melakukan pembelian buku. Sebanyak 47% menyatakan membeli buku di toko buku konvensional, sekitar 31% meminjam dari perpustakaan, serta hanya 12% yang meminjam dari teman. Sisanya sebanyak 10% mengakui tidak banyak membaca atau sama sekali tidak tertarik pada buku.

Survei juga menanyakan pilihan media buku yang paling banyak dibeli oleh pembaca Indonesia, karena belakangan buku dalam bentuk CD, ebook, atau audiobook semakin populer. Rupanya media cetak masih populer untuk pembaca Indonesia, sebanyak 55% responden memesan buku secara online dan 73% membeli buku di toko buku konvensional.

Survei tentang mengapa orang Indonesia membeli buku, menemukan 49% respoden membeli karena suka membaca, 27% membeli untuk pelajaran atau pekerjaan, dan hanya 8% yang membeli untuk hadiah. Sisanya (16%) responden menyatakan membeli buku hanya untuk melepas stress.

Sedangkan platform penjualan lain, menggelar pameran buku internasional yang diselenggarakan pada Maret 2020 lalu di Jakarta. Penyelenggara menyebutkan sekitar 10 ribu judul buku dipamerkan, namun kebanyakan buku yang dipamerkan adalah buku import. Meski enggan menyebutkan berapa jumlah buku yang terjual, namun penyelenggara menargetkan pengunjung lebih dari tahun sebelumnya, yakni 2.850.000.

Pernyataan minat baca masyarakat Indonesia rendah juga disanggah oleh Ofy Sofiana, Deputi Bidang Pengembangan dan Jasa Informasi Perpusnas dalam wawancara dengan Metrotv 17 Mei 2019. Dia menyebutkan hingga saat itu, anggota Perpusnas berjumlah 303 ribu orang dengan jumlah kunjungan rata-rata 2000-4000 orang setiap hari. Pada Desember 2018 Perpusnas telah dikunjungi sekitar 69 ribu pengunjung.

Perpusnas juga melakukan survei tahunan mengenai tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia. Pada 2018 didapatkan sejumlah 52,9% mengakui gemar membaca.

Dari sini dapat dilihat seberapa besar animo pengunjung di pameran buku yang ingin melihat buku, meski mungkin tidak semua pengunjung akan membeli buku, atau bahkan tidak semua pembeli akan membaca buku yang dia beli. Ataupun seberapa banyak pengunjung di Perpustakaan, meskipun tidak semua pengunjung membaca, terkadang hanya melihat-lihat saja, namun kedatangan pengunjung di gedung Perpusnas sudah menjadi niat baik tersendiri.

Baik survei picodi maupun gelaran pameran buku internasional tidak mencari tahu seberapa banyak orang yang membaca buku, namun setidaknya diketahui dari survei tahunan Perpusnas, bagaimana respon dari masyarakat terhadap buku dan bagaimana minat baca mereka.

Sudahkah Anda membaca buku hari ini?

Selama pandemi ini, berapa banyak judul yang telah Anda baca? Silakan bagikan bersama kami. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI