Keluarga

TechExit: Paduan Membebaskan Anak dari Gadget

Bagaimana layar gadget dan media sosial telah mengubah otak anak-anak? Apa dampak jangka panjangnya terhadap kebahagiaan mereka dan kemampuan untuk menjadi orang dewasa yang sejahtera dan merasa terpenuhi di kemudian hari?

“Dilihat dari ilmu otak anak-anak dan remaja, kita benar-benar harus memperlakukan layar lebih mirip dengan narkoba yang sangat adiktif, seperti digital fentanyl, daripada sekadar gula,” ujar Clare Morell, peneliti di Ethics and Public Policy Center dan penulis buku The Tech Exit: A Practical Guide to Freeing Kids and Teens from Smartphones.

Meski banyak aplikasi mengiklankan adanya parental controls, kenyataannya ada jauh lebih banyak jalan tikus tersembunyi bagi anak-anak untuk mengakses konten adiktif, berbahaya, atau pornografi daripada yang disadari orang tua, tambah Morell.

“Saya hanya ingin menolak anggapan bahwa smartphone adalah bagian tak terelakkan dari masa kecil. Sebenarnya tidak harus begitu.”

Click to watch: Smartphones Are Rewiring Our Brains—Here’s How Parents Can Say No | Clare Morell

Berikut adalah terjemahan wawancara antara pembawa acara Epoch TV dari Epoch Times, Jan Jekielek, dengan Clare Morell, sang penulis buku The Tech Exit:

Jan Jekielek:

Anda menganjurkan anak-anak dan bahkan remaja untuk sepenuhnya meninggalkan layar. Kedengarannya, menurut saya, hampir mustahil bagi banyak orang yang menonton saat ini. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi di masyarakat kita?

Ms. Morell:

“Saya paham bahwa karena smartphone dan media sosial sudah begitu merajalela, banyak orang tua merasa mustahil untuk benar-benar menolak. Itulah sebabnya saya menulis buku The Tech Exit, untuk menunjukkan bahwa masa kecil tanpa smartphone itu sebenarnya mungkin. Faktanya, banyak keluarga sudah melakukannya, dan inilah cara melakukannya dengan sukses. Saya ingin menolak anggapan bahwa smartphone adalah bagian tak terhindarkan dari masa kecil. Sebenarnya tidak harus begitu.”

“Sebenarnya, kalau kita melihat sedikit ke belakang dalam sejarah, iPhone baru berusia 18 tahun. Tepatnya akan berusia 18 tahun pada Juni ini, karena diluncurkan pada Juni 2007. Hingga 18 tahun lalu, smartphone bahkan bukan bagian dari masa kecil. Jadi kenyataan bahwa sekarang terasa begitu mustahil [untuk hidup tanpa smartphone] adalah sesuatu yang sebenarnya perlu dilawan.

Buku saya tidak hanya menunjukkan kepada orang tua bahwa hal itu mungkin; tetapi pada dasarnya justru merupakan cara positif untuk membimbing keluarga melalui masa kanak-kanak. Karena mengatakan ‘tidak’ pada layar, menolak smartphone dan media sosial di masa kecil tumbuh kembang mereka, berarti mengatakan ‘ya’ pada begitu banyak hal lain di dunia nyata. Apa yang diisi keluarga-keluarga sekarang ini ke dalam masa kecil anak-anak mereka justru merupakan kebaikan nyata dari dunia nyata—hal yang diinginkan setiap orang tua untuk anaknya.”

Mr. Jekielek:

“Ya, sudah 18 tahun berlalu, dan selama waktu itu melibatkan semakin banyak anak-anak yang menggunakan layar. Misalnya, keponakan-keponakan saya—mereka memang punya batasan ketat dalam penggunaan layar, tapi saya bisa melihat betapa mereka begitu tenggelam ketika menggunakannya. Terlihat jelas ada tarikan kuat ke arah itu. Saya sendiri pun merasakan tarikan kuat terhadap ponsel atau aplikasi tertentu. Jadi, ini memang hal yang nyata, tapi seolah-olah Anda membutuhkannya untuk apa yang sedang Anda lakukan, atau setidaknya merasa bahwa Anda membutuhkannya.

Tentu saja, bagian besar dari masyarakat, termasuk anak-anak, seperti yang Anda jelaskan dalam buku Anda, menggunakannya sangat sering. Itu menjadi sarana komunikasi; bahkan sebenarnya sudah menggantikan beberapa bentuk komunikasi. Tapi Anda benar-benar harus… ini bukan sekadar text exit, melainkan lebih seperti social system exit, bukan begitu?”

Ms. Morell:

Saya menilai budaya smartphone telah menciptakan tekanan besar bagi orang tua—seolah-olah anak harus punya aplikasi tertentu untuk ikut tim olahraga atau bahkan sekadar masuk ke sekolah.

Menurut saya, ada dua kunci agar anak bisa tumbuh tanpa smartphone:

  1. Melawan bersama-sama. Keluarga yang berhasil biasanya menemukan beberapa keluarga lain di sekolah, lingkungan, atau komunitas untuk mtidak memberikan smartphone pada anak-anak secara kolektif. Kuncinya adalah berani menolak anggapan bahwa smartphone itu tak terhindarkan. Orang tua yang berani mencari solusi dan menolak tuntutan “harus punya aplikasi” justru membuka jalan bagi keluarga lain. “Tidak ada alasan seorang anak membutuhkan smartphone,” tegasnya.
  2. Menggunakan alternatif. Kini ada ponsel non-smartphone yang tetap bisa dipakai untuk telepon, SMS, atau GPS tanpa akses internet, media sosial, atau game adiktif. Banyak keluarga beralih ke opsi ini, termasuk saya sendiri.

Batasan waktu layar (screen time limits) dan parental controls tidak cukup untuk melindungi anak dari bahaya smartphone. Menurut riset otak, gawai bekerja seperti obat adiktif: setiap notifikasi dan like dan komentar baru memicu dopamin yang menciptakan hasrat tanpa henti, bukan kepuasan.

“Masalahnya, kita memperlakukan layar seolah seperti gula—boleh sedikit asal tidak berlebihan. Padahal efeknya lebih mirip narkoba: tidak aman bahkan dalam jumlah kecil,” jelasnya.

Karena itu, ia menegaskan, solusi terbaik bukan sekadar membatasi, melainkan berani menolak anggapan bahwa smartphone adalah bagian tak terelakkan dari masa kanak-kanak.

Mr. Jekielek:
Jelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Bagaimana kita sampai pada kesimpulan, bahwa smartphone yang kita gunakan—dan yang anak-anak kita gunakan—sebenarnya adalah digital fentanyl?

Clare Morell:
Hal pertama yang penting dipahami adalah model bisnis di baliknya. Saya menilai perusahaan teknologi memang patut disalahkan. Mereka menipu orang tua dengan janji bahwa produk mereka aman asal dipasang parental controls dan batasan waktu. Padahal, model bisnis mereka dirancang untuk memaksimalkan pengambilan waktu, perhatian, dan data pengguna. Layanan memang terlihat gratis, tetapi sebenarnya data kita dijual ke pengiklan. Ini membuat bisnis mereka bersifat predator.

Mereka ingin kita menghabiskan waktu sebanyak mungkin di aplikasi, termasuk anak-anak. Semakin muda pengguna terikat, semakin besar keuntungan sepanjang hidup mereka. Karena itu fitur-fitur aplikasi dan perangkat ini memang didesain agar membuat otak kecanduan.

Ilmuwan adiksi menjelaskan salah satu alasan kenapa hal ini begitu membuat ketagihan: adanya uncertainty of rewards. Sama seperti mesin slot di kasino, kita tidak tahu kapan hadiah akan keluar. Begitu juga dengan media sosial—kita tidak tahu kapan ada pengikut baru atau notifikasi baru. Pola hadiah yang acak inilah yang membuat orang terus kembali untuk mencari “suntikan dopamin” berikutnya.

Selain itu, algoritma media sosial kini sudah berubah. Dulu konten lebih bersifat sosial: kita hanya melihat postingan teman atau keluarga, dan jika habis, feed berhenti. Sekarang, media sosial sudah menjadi recommendation media. Algoritma memasukkan konten dari seluruh penjuru internet, dari orang asing yang tak pernah kita kenal, hanya karena sistem mendeteksi apa yang kita tonton atau apa yang disukai teman kita.

Hasilnya, algoritma menciptakan aliran tak terbatas dari suntikan dopamin. Ada infinite scroll—kita bisa menggulir berjam-jam tanpa henti. Desain produk dengan notifikasi, metrik likes dan followers, algoritma, dan fitur gulir tanpa akhir—semuanya membuat penggunaan jadi kompulsif. Otak terus ditarik untuk memakai lebih banyak, tanpa pernah merasa puas. Batas waktu layar tidak pernah cukup menghadapi tarikan ini.

Mr. Jekielek:
Bagaimana tentang pornografi? Ada juga dimensi lain, yaitu memasukkan hal-hal ke dalam feed yang mungkin belum pernah dilihat orang tetapi diketahui sangat adiktif, sangat menggoda. Dan ini termasuk dalam kategori itu.

Ms. Morell:
Itulah yang saya jelaskan. Jadi, bab kedua dalam buku saya membahas bagaimana parental controls itu sebenarnya sebuah mitos, karena saya pikir orang tua sering berpikir, “Saya tidak ingin anak saya melihat konten buruk, jadi saya akan mengaktifkan filter atau parental controls.” Yang saya coba jelaskan kepada orang tua adalah bahwa jika Anda memberikan anak sebuah smartphone, Anda sebenarnya memberikan mereka akses ke pornografi. Mustahil untuk benar-benar menutup semua jalur atau saluran ke internet tempat anak bisa menemukan pornografi.

Masalahnya ada pada sistem berbasis aplikasi di smartphone. Anda mungkin memasang filter pada peramban web, tetapi setiap aplikasi memiliki peramban sendiri, dan sering kali filter tidak bisa bekerja di dalam aplikasi. Saat ini, pornografi bahkan ada langsung di feed aplikasi media sosial; mereka bahkan tidak perlu mengklik situs porno, dan kontrol Anda tidak mengubah apa pun yang ada di feed tersebut. Semua itu sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma perusahaan. Jadi, Anda tidak bisa menyaring semua konten pornografi atau konten berbahaya lain yang tidak ingin dilihat anak Anda, seperti konten narkoba atau kekerasan; semuanya ada di feed itu sendiri.

Masalah lainnya, jika seorang anak berhenti sejenak pada sebuah postingan di feed, algoritma langsung bekerja agresif. Mereka mungkin penasaran, “Oh, ini apa?” lalu berhenti beberapa detik. Seketika, feed mereka akan dipenuhi semakin banyak konten semacam itu. The Wall Street Journal dan media lain telah melaporkan—mereka melakukan investigasi dan menemukan bahwa algoritma benar-benar menyeret anak-anak masuk ke dalam lubang internet yang berbahaya dengan sangat cepat, karena mereka bisa saja tanpa sengaja menemukan sesuatu lalu terseret masuk ke sudut internet yang berbahaya.

Yang saya coba jelaskan kepada orang tua adalah bahwa mustahil untuk benar-benar mengunci sebuah smartphone karena ada ratusan aplikasi. Setiap aplikasi punya pintu sendiri ke internet. Masalahnya, sebagian besar aplikasi yang sangat berbahaya, seperti Snapchat dan TikTok, tidak mengizinkan kontrol pihak ketiga masuk ke dalam konten mereka. Jadi saya pikir orang tua memasang perangkat lunak dan mengira, “Oh, saya bisa mengendalikannya.” Padahal sebagian besar aplikasi berbahaya tidak memberi akses terhadap apa yang terjadi di dalam aplikasi. Yang ditampilkan hanya, misalnya, “anak Anda sudah satu jam di Snapchat.” Orang tua tidak tahu bahwa anak sebenarnya bisa masuk ke PornHub—salah satu situs pornografi terbesar—langsung dari dalam Snapchat hanya dengan lima klik, tanpa pernah meninggalkan aplikasi.

Jadi saya benar-benar memahami para orang tua, bahwa ini adalah perjuangan yang sangat berat bila berpikir Anda bisa membuat smartphone menjadi perangkat yang aman bagi anak. Dan tentu saja itulah yang selalu dikatakan perusahaan teknologi. Tetapi penelitian saya selama beberapa tahun terakhir—dan sebenarnya pendapat ahli keselamatan anak mana pun yang Anda tanyakan—akan menjelaskan bahwa begitu Anda memberikan anak sebuah smartphone, mereka akan menemukan konten berbahaya, karena memang mustahil untuk benar-benar menutupinya.

Clare Morell menyoroti bahwa perusahaan teknologi tidak bisa diandalkan untuk melindungi anak-anak, karena orientasi utama mereka adalah keuntungan, bukan keselamatan. Jika satu platform mencoba menambah perlindungan, mereka khawatir akan kehilangan pengguna ke pesaing lain. Hasilnya: perlombaan “race to the bottom” demi merebut pengguna termuda.

TikTok jadi contoh paling jelas. Aplikasi ini berada di bawah kendali Partai Komunis China (PKC), dan justru memberi versi berbeda untuk anak-anak di negaranya sendiri. Di Tiongkok, TikTok (Douyin) tampil dengan konten edukatif, jam tayang terbatas, dan algoritme yang tidak agresif. Sementara versi ekspor ke Amerika dan negara lain justru dipenuhi konten adiktif, algoritme tak terbatas, dan fitur yang merusak fokus serta kesehatan mental anak.

Menurut Morell, inilah mengapa TikTok layak disebut “digital fentanyl.” Sama seperti narkoba, ia dirancang untuk memaksimalkan kecanduan dan melemahkan generasi mendatang. Dan masalahnya bukan hanya TikTok—setiap aplikasi lain ikut terdorong mengikuti pola yang sama agar tidak ketinggalan pasar.

Mr. Jekielek:
Saya sudah mendengar sejumlah wawancara dengan para eksekutif dari beberapa perusahaan teknologi, yang pada dasarnya mengatakan mereka sama sekali tidak akan membiarkan anak mereka mendekati teknologi buatan mereka sendiri. Saya rasa itu sungguh aneh.

Ms. Morell:
Menurut saya itu sangat membuka mata, karena merekalah yang paling paham apa yang mereka lakukan dengan teknologi tersebut. Fakta bahwa mereka sendiri tidak mau anak-anaknya dekat dengan itu menunjukkan dengan jelas mengapa kita semua sebaiknya mempertimbangkan untuk menolak atau keluar dari penggunaan ini, karena betapa berbahayanya bagi anak-anak dan kesejahteraan mereka.

Mr. Jekielek:
Jadi pada dasarnya Anda mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar menghentikan aplikasi-aplikasi spesifik itu adalah dengan menghentikan penggunaan ponsel secara keseluruhan, karena selalu ada celah — dan Anda tahu, anak-anak itu pintar.

Ms. Morell:
Ya, selalu ada jalan belakang. Saya pernah mendengar dari seorang pakar keselamatan anak yang mengatakan, “Banyak orang tua memberi anaknya smartphone. Mereka bilang, ‘Anak saya tidak akan punya Instagram.’” Dan dia berkata, itu mustahil, karena mungkin Anda memblokir aplikasinya, tetapi melalui aplikasi lain anak itu bisa membuka peramban web dan pergi ke instagram.com lalu membuat akun. Sangat sulit untuk benar-benar mengunci sebuah smartphone.

Dan karena ini adalah ekosistem berbasis aplikasi, ada ribuan pintu ke internet dalam satu perangkat yang ukurannya sangat kecil sehingga sulit diawasi orang tua. Ini bahkan berbeda dengan membiarkan anak menggunakan komputer desktop di ruang keluarga untuk tugas riset, yang mudah diawasi orang tua.

Smartphone secara inheren bersifat pribadi, rahasia, dan terindividualisasi; bentuk hiburannya juga sangat personal karena algoritme “mempelajari” pengguna—yang tampil di layar adalah Anda sendiri. Ini bukan pengalaman bersama seperti televisi di ruang keluarga. Jadi sifat dan desain smartphone itu sendiri sangat individual, sangat adiktif, dan sangat berbahaya.

Kita punya analogi dan preseden yang serupa. Saat kita mengakui sesuatu sangat adiktif atau berbahaya bagi otak anak yang sedang berkembang, kita menetapkan batas — misalnya kita tidak mengizinkan anak membeli tembakau atau alkohol karena sifat barang itu sendiri yang merusak. Itulah titik di mana kita berada dengan smartphone.

Saya mencoba menjelaskan kepada orang tua bahwa hambatan-hambatan yang mereka bayangkan sebagai penghalang untuk sepenuhnya menolak smartphone sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan. Ada begitu banyak keluarga — ratusan — ini menjadi gerakan yang berkembang di berbagai negara bagian dan di seluruh dunia. Banyak negara yang mulai menerapkan pendekatan “opt-out” ini, dan keluarga-keluarga benar-benar melakukannya bersama di komunitas lokal mereka, berhasil mengurangi peran smartphone dalam masa kanak-kanak.

Jadi pesan buku ini adalah: masa kanak-kanak tanpa smartphone itu tidak hanya diperlukan, tetapi mungkin — orang tua sudah melakukannya, dan inilah cara mereka melakukannya. Saya berusaha memberi langkah-langkah praktis untuk orang tua, langkah demi langkah tentang bagaimana melakukannya.

Comic by Gary Varvel

Mr. Jekielek:
Ketika Anda melihat berbagai studi yang sudah Anda teliti, sekarang kita punya setidaknya 10 tahun data—mungkin 15 tahun dalam beberapa kasus—tentang dampak teknologi ini pada anak-anak, dan terus terang juga pada orang dewasa serta cara kerja otak. Bisakah Anda paparkan beberapa studi yang paling berkesan bagi Anda, yang mungkin bisa menggambarkan seberapa dalam masalah ini kepada audiens kami?

Ms. Morell:
Menurut saya, penelitian yang paling mengejutkan adalah bahwa masalahnya bukan hanya karena penggunaan yang terlalu lama. Banyak orang berpikir, oke, masalahnya adalah jumlah waktu anak-anak menghabiskan layar. Tapi ada studi yang dilakukan, misalnya oleh University of North Carolina, yang meneliti otak anak-anak. Mereka tidak meneliti berapa lama anak memakai media sosial, tetapi seberapa sering anak mengecek aplikasi media sosial dalam sehari. Jadi hanya kebiasaan checking yang berulang karena dorongan kompulsif. Dan hasilnya menunjukkan perkembangan otak yang berbeda seiring waktu pada anak-anak yang sering mengecek media sosial.

Jadi, sekadar mengambil ponsel sebentar hanya untuk melihat apakah ada notifikasi baru sudah bisa berdampak. Mereka menemukan bahwa perkembangan otak menyimpang dari normal, anak-anak menjadi terlalu sensitif terhadap social rewards, melebihi tingkat perkembangan normal—lagi-lagi, terus-menerus mendambakan umpan balik sosial yang diberikan media sosial.

Seorang dokter bernama Dr. Victoria Dunckley, dalam praktiknya, banyak melihat anak-anak dengan gejala yang mirip autisme atau ADHD—sulit fokus, tantrum, gangguan tidur. Ternyata, dengan melakukan screen detox selama 30 hari, pada banyak kasus gejala itu hilang total. Jadi sebenarnya bukan autisme atau ADHD, melainkan dampak dari layar. Beliau menyebut fenomena ini sebagai electronic screen syndrome. Katanya, ini bahkan tidak harus dari penggunaan teknologi yang berlebihan, melainkan dari kebiasaan penggunaan harian meskipun sebentar. Penggunaan itu menumpuk dan akhirnya terlalu membebani sistem saraf anak yang sedang berkembang, sehingga tubuh masuk ke mode fight-or-flight. Jadi bahkan penggunaan terbatas sehari-hari sudah bisa mengganggu sistem saraf anak.

Hal lain yang juga penting adalah tentang hormon. Anak-anak melalui layar hanya mendapatkan dopamin, tetapi tidak mendapatkan oksitosin. Oksitosin hanya didapat melalui sentuhan fisik atau kontak mata dalam kehidupan nyata, semuanya berpusat pada hubungan nyata. Jadi ketika anak berinteraksi dengan teman melalui layar, mereka tidak mendapat oksitosin. Inilah yang melahirkan epidemi kesepian. Kita mungkin berpikir anak-anak lebih terhubung dari sebelumnya, tapi kenyataannya mereka tidak membangun persahabatan yang mendalam. Hubungan online cenderung dangkal, berdasarkan hal-hal superfisial seperti likes atau followers, tanpa adanya oksitosin. Jadi ini bukan hanya soal apa yang anak dapatkan dari layar, tetapi juga apa yang mereka hilangkan ketika dunia nyata digantikan oleh layar.

Dan poin terakhir: orang tua sering berpikir, “Ah, cuma 15 menit sehari, toh mereka juga masih melakukan hal lain seperti main ke luar, baca buku, atau naik sepeda.” Tetapi biaya peluangnya bukan hanya waktu. Ini juga membentuk selera atau nafsu anak terhadap hal-hal tertentu. Ilmuwan adiksi menjelaskan ini sebagai proses desensitisasi. Otak mereka terbiasa dengan kadar dopamin yang sangat tinggi secara artifisial dari notifikasi dan fitur-fitur layar. Akhirnya mereka jadi tidak peka lagi terhadap kesenangan di dunia nyata. Jadi naik sepeda atau membaca buku terasa membosankan dibandingkan sensasi dopamin dari layar.

Bahkan penggunaan layar yang sedikit setiap hari sedang melatih otak anak untuk terbiasa dengan kadar dopamin yang tinggi secara artifisial. Akibatnya, ketika mereka ada di dunia nyata pun, mereka tidak lagi merasakan kenikmatan dari hal-hal sederhana yang seharusnya bisa mereka nikmati.

Mr. Jekielek:
Dan tentu saja soal pornografi—contoh terakhir yang Anda berikan ini mungkin adalah kasus yang paling jelas. Sangat sulit untuk bisa memiliki hubungan yang normal karena, entahlah, apakah ini semacam tangga? Apa istilahnya… desensitisasi?

Ms. Morell:
Ya, desensitisasi. Saya pikir ketika otak sudah terbiasa dan terlatih dengan ledakan kenikmatan yang sangat tinggi dan artifisial, maka ketika berada bersama seseorang di kehidupan nyata, kesenangan dari dunia nyata itu tidak lagi memicu rasa nikmat sebagaimana mestinya. Otak sudah tumpul, terbiasa dengan tingkat yang terlalu tinggi dan buatan. Wow.

Mr. Jekielek:
Ya, benar. Jadi kerusakan seperti apa yang sudah terjadi? Seberapa bisa hal itu dipulihkan?

Ms. Morell:
Saya mencoba menjelaskan di buku saya. Pesan dari The Tech Exit sebenarnya adalah bahwa tidak pernah terlambat untuk membalikkan keadaan jika Anda sudah memberikan teknologi ini kepada anak-anak Anda, karena sebenarnya masih mungkin melakukan detoks. Dan saya pikir, para ilmuwan adiksi juga akan menjelaskan bahwa pecandu bisa sembuh—orang bisa berhenti dari kecanduan mereka dan tubuh serta otak bisa melakukan reset. Saya tidak mengatakan itu akan mudah, tetapi jika kita tahu bahwa hal-hal ini berbahaya, maka itu adalah hal yang terbaik dan memang perlu dilakukan.

Saya berusaha membagikan banyak kisah penuh harapan dan contoh keluarga yang berhasil melakukan detoks digital, meski awalnya mereka pikir mustahil. Mereka benar-benar tidak bisa membayangkan anak laki-laki mereka bisa berfungsi tanpa layar karena sudah menjadi kebiasaan kuat dan ada dorongan kompulsif ke arah itu. Mereka bilang dua minggu pertama sangat buruk—sungguh berat. Seorang ibu bercerita bahwa ia harus bermain Monopoli berjam-jam setiap hari dengan anak-anaknya hanya untuk menggantikan waktu layar.

Jadi, memang butuh banyak waktu dan perhatian orang tua di awal ketika mencoba membantu anak memutus kebiasaan itu. Tapi yang saya rekomendasikan dalam buku ini adalah melakukan detoks digital selama 30 hari, karena ada dasar ilmiahnya—sesuatu dari periode 30 hari ini benar-benar membantu otak dan sistem saraf tubuh untuk melakukan reset. Dan ketika keluarga-keluarga ini berhasil melewati dua minggu pertama yang sulit itu, lalu sampai ke hari ke-30, mereka mulai melihat manfaatnya pada anak-anak mereka. Nafsu mereka terhadap hal-hal di dunia nyata mulai kembali. Emosi mereka mulai stabil, dan sistem saraf menjadi tenang dari overstimulasi layar.

Bagi banyak keluarga, inilah awal gaya hidup tech exit. Mereka melakukan detoks 30 hari, melihat hasilnya, lalu berkata: mengapa kita harus kembali ke layar? Anak-anak mereka bahkan berhenti meminta gawai; kebiasaan itu berhasil diputus. Jadi mereka terus melanjutkan.

Yang saya dorong dalam buku ini adalah agar keluarga memulai dengan detoks digital 30 hari. Saya pikir semua orang bisa berkomitmen melakukan sesuatu selama 30 hari. Musim liburan atau musim panas adalah waktu yang tepat untuk ini; banyak kegiatan di luar ruangan, anak-anak libur sekolah. Jadi cukup tentukan 30 hari di kalender, buat rencana bersama keluarga, jelaskan alasannya kepada anak-anak, lalu benar-benar berkomitmen untuk melakukannya dan menuntaskannya selama 30 hari. Saya hanya ingin mendorong orang tua untuk mencobanya sendiri, melihat hasilnya, dan menyadari bahwa membalikkan keadaan dari hal-hal ini memang mungkin.

Berita yang menggembirakan juga adalah semakin muda usia anak, semakin plastis otaknya, dan semakin mudah untuk diatur ulang. Jadi semakin muda, semakin baik. Tapi bahkan untuk remaja dengan smartphone, tidak terlambat. Dan meskipun mereka hanya punya satu atau dua tahun tersisa tinggal di rumah, itu tetap satu atau dua tahun yang bisa Anda berikan untuk berinteraksi dengan dunia nyata dan membantu mereka membentuk kebiasaan menuju kedewasaan. Sehingga ketika nanti mereka dewasa dan mungkin mendapat akses teknologi ini, mereka sudah memiliki fondasi kebiasaan sehat dan keterampilan dasar tanpa bergantung pada layar.

Saya tidak bisa berbicara secara rinci tentang dampak sosial secara keseluruhan. Tapi orang-orang seperti Jonathan Haidt dan Jean Twenge sudah mendokumentasikan hal ini—peningkatan drastis kasus menyakiti diri sendiri, bunuh diri, depresi, dan kecemasan. Itu bukan hanya korelasi; ada sebab-akibat yang jelas dari lonjakan besar media sosial dan smartphone di kalangan remaja. Jelas kita melihat bahwa ini sudah berdampak besar pada masyarakat.

Namun dalam buku ini, yang ingin saya dorong kepada keluarga adalah: dengan semua data yang sekarang kita ketahui, kita perlu berbelok arah. Dan tidak pernah terlambat untuk membalikkan keadaan jika Anda sudah memberi hal-hal ini kepada anak-anak. Dan jika belum, persiapkan diri dengan informasi ini dan berkomitmenlah. Miliki keyakinan untuk tidak memberikan teknologi ini kepada anak, dan cari orang lain untuk melakukannya bersama Anda. Saya tidak bisa menekankan hal ini cukup: menemukan satu atau dua keluarga lain untuk sama-sama keluar dari ketergantungan membuat hal ini jauh lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

Mr. Jekielek:
Bagaimana dengan orang dewasa? Apakah aman untuk orang dewasa? Kadang saya benar-benar bertanya-tanya soal itu.

Ms. Morell:
Tidak, saya tidak akan mengatakan itu aman untuk orang dewasa. Saya hanya akan mengatakan bahwa hal itu sangat berbahaya bagi anak-anak karena otak mereka belum sepenuhnya berkembang. Jika kita berbicara tentang perkembangan otak, prefrontal cortex—bagian otak yang bertanggung jawab atas pengendalian impuls, pengaturan emosi, dan pengendalian diri—baru benar-benar matang pada usia 25 tahun.

Masalah dengan banyak teknologi yang kita bicarakan—seperti smartphone dan media sosial—adalah mereka membajak sistem penghargaan otak dengan dopamin. Itu berarti otak seperti hanya punya pedal gas tanpa rem. Tidak ada kendali diri atau kesadaran diri untuk mengatakan, “Kita sudah terlalu banyak menggunakan media sosial.”

Itulah perbedaan utama antara orang dewasa dan anak-anak: prefrontal cortex kita lebih berkembang. Tapi kita tetap tidak kebal terhadap efek adiktif. Saya pikir banyak orang dewasa juga kecanduan smartphone dan aplikasi media sosial karena respons dopaminnya sama. Tingkat dopamin yang tinggi secara artifisial ditambah fitur desain aplikasi menimbulkan reaksi adiktif dan kompulsif yang sama pada orang dewasa.

Saya juga melihat buku ini sebagai semacam peringatan bagi orang dewasa untuk memeriksa penggunaan kita sendiri. Ini saya singgung secara langsung, terutama kepada para orang tua, karena salah satu peran orang tua adalah menjadi teladan: menunjukkan seperti apa penggunaan teknologi yang sehat bagi anak-anak kita. Bagaimana kita ingin mereka berinteraksi dengan teknologi ketika dewasa? Lalu kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah cara kita menggunakan perangkat ini sekarang benar-benar sesuai dengan harapan itu?

Seorang ibu berkata kepada saya, “Saya berpikir, saya tidak ingin anak saya, bahkan ketika dewasa nanti, memiliki smartphone lalu terus-menerus mengeceknya atau selalu membawanya ke mana-mana.” Lalu ia bertanya pada dirinya sendiri, “Kalau begitu, bagaimana dengan cara saya menggunakan smartphone?” Hal itu cukup menyentil, karena sering kali kita tidak menyadari betapa seringnya kita bergantung pada perangkat ini, bahkan ketika sedang bersama anak-anak.

Saya menjelaskan bahwa banyak keluarga yang memilih tidak memberikan ponsel kepada anak-anak mereka juga akhirnya menerapkan kebiasaan baru untuk diri mereka sendiri sebagai orang dewasa—misalnya menjaga jarak fisik dari ponsel, terutama saat di rumah bersama anak-anak, dan menyederhanakan ponsel mereka agar tidak terlalu adiktif. Saya memberi contoh dengan “menghapus tanpa ragu” berbagai aplikasi: tanyakan pada diri sendiri apakah sesuatu benar-benar harus dilakukan di ponsel, atau bisa ditunda untuk dilakukan di komputer. Pemikiran bahwa semua hal harus ada di ponsel dan ponsel harus selalu dibawa, menurut saya, tidak sehat—bahkan bagi orang dewasa.

Mr. Jekielek:
Salah satu hal yang dibicarakan Anna Lembke adalah tentang semacam brankas (safe). Saya lupa namanya, mungkin memang disebut safe. Intinya, Anda bisa memasukkan perangkat Anda ke dalamnya untuk jangka waktu tertentu sehingga tidak menggunakannya.

Ms. Morell:
Ya, dan itu tidak akan bisa dibuka sebelum waktunya. Sebenarnya sudah ada penelitian tentang hal ini dengan smartphone. Penelitian itu menunjukkan bahwa jika mahasiswa memiliki smartphone di atas meja, di dalam saku, atau di dalam tas, tingkat distraksinya sama besarnya dengan ketika ponsel ada di atas meja dan terlihat langsung, karena otak tetap menguras energi untuk menahan diri agar tidak mengecek, ketika kita tahu bahwa kita bisa mengecek.

Hasil penelitian itu menemukan bahwa ada tiga kelompok mahasiswa: yang meletakkan ponsel di meja, yang menyimpannya di tas, dan kelompok lain yang ponselnya benar-benar tidak dapat diakses di luar ruang kelas. Kelompok terakhir (ponsel benar-benar tidak dapat diakses) memiliki performa jauh lebih baik dalam ujian. Sedangkan kelompok dengan ponsel di meja maupun di tas sama-sama tampil buruk. Itu hasil yang mengejutkan.

Kesimpulannya, usaha otak untuk tidak mengecek ponsel ternyata justru mengurangi kapasitas kognitif yang tersedia untuk tugas utama. Jadi, sebenarnya kita perlu membantu diri sendiri dengan membuat ponsel benar-benar tidak bisa diakses.

Itu juga salah satu alasan saya akhirnya melepaskan smartphone sepenuhnya sebagai seorang ibu. Saya merasa ingin benar-benar hadir bersama anak-anak, tapi saya malah menghabiskan begitu banyak energi emosional dan pengendalian diri hanya untuk tidak mengecek ponsel. Pada titik tertentu, hal itu pasti runtuh. Semua orang akan sampai pada titik di mana willpower-nya habis.

Saya suka menggunakan analogi ini: ketika sedang diet, Anda tidak menyimpan junk food di dapur. Karena pada saat lemah, Anda akan melahapnya. Jadi, Anda singkirkan: buang soda, keripik, semuanya keluar dari rumah. Sama halnya dengan teknologi—membuat batasan akan membantu kita, karena kita ini manusia yang bisa jatuh dalam kelemahan. Kita tidak punya pengendalian diri atau willpower yang sempurna.

Mr. Jekielek:
Saya rasa hal ini semakin diperburuk oleh kenyataan bahwa seolah-olah sekarang kita tidak bisa melakukan disiplin diri. Apakah Anda setuju?

Ms. Morell:
Ya, saya setuju. Tapi yang juga saya coba jelaskan kepada para orang tua dan juga kepada kita sebagai orang dewasa adalah bahwa teknologi itu sendiri menyampaikan sebuah pesan. The medium is the message. Pesan dari smartphone adalah: hidup itu tentang hiburan pribadi Anda.

Sebenarnya, smartphone adalah tentang kepuasan instan—bahwa Anda bisa menghibur diri dari semua masalah hidup, tanpa perlu menahan diri atau berlatih kesabaran. Seluruh perangkat itu dirancang untuk kepuasan instan: hiburan yang terus-menerus, tanpa akhir, tanpa batas. Anda bisa selalu terhibur. Ini sesuatu yang baru.

Generasi sebelumnya punya televisi, tapi mereka tidak bisa membawanya kemana-mana. Sekarang, dengan smartphone, kita kehilangan kemampuan untuk belajar menunda kepuasan, untuk melihat pengendalian diri dan disiplin sebagai sebuah nilai.

Kalau dipikirkan dalam konteks mendidik anak, sebagian besar orang tua pasti sadar: “Saya sedang berusaha melatih anak saya untuk punya pengendalian diri, tidak bertindak atas setiap dorongan, belajar sabar, mampu menghadapi frustrasi, dan melatih kesabaran.” Nah, smartphone justru merusak semua itu. Smartphone mengajarkan anak bahwa mereka bisa selalu terhibur, tidak perlu belajar menghibur diri sendiri, bahkan tidak perlu belajar untuk sendirian dengan pikirannya sendiri.

Tidak ada lagi ruang untuk kesendirian atau refleksi. Jadi, ini benar-benar merusak kemampuan anak untuk berpikir mendalam, merefleksikan diri, dan berdisiplin. Dan itu semua muncul hanya dari sifat dasar teknologi itu sendiri—tanpa melihat dulu konten apa yang ada di layar atau berapa lama waktu yang dihabiskan. Teknologinya sendiri sudah menyampaikan pesan tertentu.

Mr. Jekielek:
Dan saya sendiri sebenarnya mengalami hal ini. Anda tahu, saya memang meluangkan waktu setiap hari untuk bermeditasi. Tapi itu keputusan yang sangat spesifik. Yang saya perhatikan adalah, ketika Anda berhenti mendapat stimulasi atau tidak ada informasi yang terus-menerus disajikan kepada Anda, Anda hanya tersisa dengan pikiran Anda sendiri. Itu bisa terasa aneh atau bahkan tidak nyaman karena kita terbiasa dengan serangan rangsangan terus-menerus, entah dari TV, gawai, atau dari dunia yang sekarang benar-benar dikuasai oleh banjir informasi akibat teknologi ini. Ya, menarik sekali.

Ms. Morell:
Saya membagikan sebuah kisah dalam buku saya. Saya pernah berbicara dengan seorang guru sastra di SMA. Dia mengajar siswa bagaimana menulis. Katanya, selama bertahun-tahun dia melihat adanya perubahan. Dulu, setelah dia menjelaskan bagaimana menulis esai, giliran siswa untuk mempraktikkan keterampilan itu. Mereka harus berpikir: ide apa yang akan mereka tulis, kalimat apa yang akan mereka gunakan untuk membuka esai mereka.

Dia bilang, momen itu sekarang semakin membuat siswa tidak nyaman. Mereka seperti tidak bisa memunculkan pikiran. Lalu gurunya berkata, “Kamu harus memberi waktu. Duduklah dulu sampai idenya muncul.” Tapi bagi siswa, mereka merasa ada yang salah. Mereka tidak terbiasa punya pikiran sendiri, tidak terbiasa memunculkan gagasan, lalu menuangkannya ke dalam tulisan.

Ketika dia membagikan hal itu, saya merasa sangat khawatir, karena kalau kita pikirkan masa depan negara kita, kita membutuhkan orang-orang yang mampu berpikir, mampu memecahkan masalah, mampu menjadi pemikir kritis.

Mr. Jekielek:
Jadi mari kita bicara tentang keluarga-keluarga yang memutuskan untuk keluar (dari teknologi) dan berhasil menjalaninya. Saya membayangkan itu bukan seperti pesta besar di hari pertama, kan? Jadi ceritakan kepada saya tentang keluarga-keluarga yang sudah Anda wawancarai. Saya tebak, keluarga Anda termasuk salah satunya, bukan?

Ms. Morell:
Ya, saya akan bilang keluarga kami salah satunya. Anak-anak kami masih kecil. Salah satu alasan saya melakukan banyak wawancara untuk buku ini adalah karena saya ingin berbicara dengan orang tua remaja yang berhasil melewati masa praremaja dan remaja tanpa bergantung pada gawai ini. Saya menemukan ada beberapa prinsip umum. Itulah yang kemudian menjadi isi utama buku saya. Kami membicarakan soal detox dari teknologi.

Saya menyebut bagian itu dengan istilah FAST. Kita harus lebih dulu “berpuasa” dari teknologi digital. Tetapi, bagaimana cara mempertahankan ini dalam jangka panjang? Di situlah saya memakai akronim FEAST untuk menggambarkan prinsip inti yang sama pada keluarga-keluarga tersebut. Saya akan jelaskan singkat:

  • F = Finding other families → menemukan keluarga lain yang juga menjalani hal ini.
  • E = Educate, explain, exemplify → mendidik anak-anak tentang bahaya, menjelaskan alasan aturan tersebut, dan memberi teladan penggunaan yang sehat.
  • A = Adopt alternatives → mencari alternatif, misalnya memberi ponsel sederhana, bukan smartphone. Biasanya anak baru diberikan saat benar-benar butuh, misalnya ketika mulai bisa mengemudi, untuk kebutuhan komunikasi.
  • S = Set up digital accountability → membangun aturan dan keterbukaan digital di rumah. Misalnya, email atau ponsel anak tidak bersifat sepenuhnya pribadi. Bukan berarti orang tua selalu memata-matai, tapi ada pemahaman bahwa orang tua bisa memeriksa bila ada kekhawatiran. Kesadaran bahwa komunikasi bisa dicek saja sudah menjadi perlindungan.
  • T = Trade screens for real-life responsibilities → menukar waktu layar dengan tanggung jawab dan kegiatan nyata yang membantu anak berkembang menuju kedewasaan. Misalnya, diberi lebih banyak pekerjaan rumah, kemandirian di luar rumah, naik sepeda ke rumah tetangga, atau bekerja paruh waktu seperti menjaga anak kecil atau memotong rumput.

Selain itu, keluarga-keluarga ini juga sepakat soal cara menggunakan komputer dan TV. Komputer digunakan secara publik dan bertujuan, bukan untuk hiburan tanpa batas, tapi untuk hal spesifik: belajar coding, mengerjakan riset sekolah, dan sebagainya. Hiburan digital pun jarang dan terbagi, misalnya menonton film keluarga bersama, bukan setiap orang dengan layar masing-masing. Dengan begitu, justru mempererat keluarga, bukan memisahkan.

Itulah prinsip-prinsip utama FEAST yang membuat keluarga-keluarga ini berhasil menjalani gaya hidup “keluar dari teknologi” dalam jangka panjang.

Mr. Jekielek:
Saya memperhatikan penjelasan Anda bahwa dalam interaksi fisik, ketika orang saling mengenal, hormon oksitosin dilepaskan. Itu sangat berbeda dengan dopamin. Hal ini tidak terjadi ketika interaksi berlangsung secara online. Pernahkah Anda memikirkan mengapa bisa begitu? Dan mungkin perbedaan antara kedua zat kimia otak ini?

Ms. Morell:
Saya bukan seorang ahli saraf, latar belakang saya lebih ke kebijakan. Tapi saya mendalami banyak penelitian otak terkait topik ini. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa tubuh dan otak kita memang dirancang dengan cara tertentu, dan teknologi-teknologi ini justru merusak proses alami perkembangan manusia.

Kalau hubungan manusia memang diciptakan untuk tatap muka, jelas terlihat dari oksitosin yang dilepaskan—oksitosin yang mengikat bayi dengan ibunya, suami dengan istri, sahabat dengan sahabat. Ada sesuatu yang sangat penting dalam hubungan langsung tatap muka yang tidak bisa digantikan oleh layar.

Kalau kita renungkan, teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk melengkapi hubungan nyata kita, justru sekarang menggantikan hubungan itu, bahkan dengan cara yang merusak.

Mr. Jekielek:
Itu menunjukkan bahwa, pada tingkat tertentu, memang terasa lebih bermakna saat kita bisa bertemu muka dengan seseorang, bukan hanya mendengar suaranya.

Ms. Morell:
Benar. Ada beberapa penelitian tentang fenomena Zoom fatigue (kelelahan akibat terlalu banyak rapat daring). Pertanyaannya, mengapa kita merasa lelah setelahnya? Karena bahkan dalam panggilan Zoom pun kita tidak mendapatkan oksitosin yang biasanya muncul dalam interaksi nyata. Akibatnya, orang merasa kelelahan setelah seharian ikut rapat Zoom, karena mereka tidak memperoleh ledakan oksitosin yang memberikan rasa puas, ikatan, dan kepuasan batin dari berhubungan dengan orang lain.

Mr. Jekielek:
Untuk keluarga yang ingin mencoba ini, saya masih berusaha membayangkan, misalnya ketika ayah atau ibu masuk lalu berkata, “Oke anak-anak, kita akan detox selama sebulan.” Saya rasa, dengan segala realitas yang sudah kita bahas, kebanyakan anak tidak akan menerima itu dengan baik. Meskipun mungkin ada juga beberapa yang justru menerimanya dengan baik.

Ms. Morell:
Pertama-tama, banyak sekali keluarga yang sudah berhasil melakukannya, jadi Anda tidak harus menemukan cara sendiri dari nol. Ada sumber daya yang bisa membantu. Saya sebutkan Dr. Dunckley; dia punya buku lengkap tentang cara detox berjudul Reset Your Child’s Brain. Ada juga komunitas lain bernama Screen Strong yang menawarkan rencana 30 hari, langkah demi langkah, serta akses ke komunitas online berisi para orang tua lain yang sudah melakukannya—jadi kalau ingin meminta tips praktis atau mencari solusi untuk masalah dengan anak, bisa langsung bertanya di sana. Dukungan komunitas seperti ini sangat penting. Itu sumber daya yang sangat praktis.

Tapi dari pengalaman saya mewawancarai keluarga-keluarga ini, hal yang paling penting adalah orang tua harus berkomitmen dan menyadari bahwa awalnya akan terasa sulit, karena anak-anak memang akan mengalami gejala mirip withdrawal, seperti pecandu yang berhenti narkoba. Mereka bisa marah, kesal, dan bereaksi buruk saat layar diambil. Itu sebabnya komponen lain sangat penting, seperti punya komunitas pendukung, supaya Anda tidak melakukannya sendirian, tapi punya sekutu yang berjalan bersama.

Selain itu, benar-benar menukar layar dengan kehidupan nyata. Membuat anak-anak bersemangat dengan semua hal menyenangkan yang akan dilakukan tanpa layar. Jadikan rencana 30 hari ini sesuatu yang seru dan menarik.

Beberapa keluarga memulai dengan liburan keluarga tanpa layar ke tempat yang menyenangkan selama seminggu, lalu setelah pulang mereka melanjutkan detox hingga selesai 30 hari.

Memang ada pengorbanan dari pihak orang tua, tapi saya jelaskan bahwa biaya jangka pendek ini sepadan dengan manfaat jangka panjang. Anak-anak belajar bermain mandiri. Kreativitas dan imajinasi mereka kembali. Minat mereka untuk membaca atau bermain di luar rumah muncul lagi.

Awalnya memang sulit bagi orang tua membayangkan bagaimana anak mereka bisa hidup tanpa layar. Mereka tak bisa membayangkan anak-anak bisa bermain tanpa itu. Tapi kemampuan yang sempat hilang karena layar itu akan kembali secara perlahan, dan semakin lama justru makin mudah dijalani. Jadi sering kali, 30 hari pertama adalah bagian tersulit dari gaya hidup keluar dari teknologi (tech exit). Tapi setelah melewati detox, mempertahankannya justru lebih mudah.

Banyak hal dalam parenting sebenarnya sama: kita berkorban banyak tenaga jangka pendek demi hasil jangka panjang. Sebagai orang tua balita, saya langsung teringat soal toilet training. Tak ada orang tua yang menganggap toilet training itu menyenangkan. Itu biasanya dua minggu yang berat. Tapi kita tahu hasilnya akan baik—tidak perlu lagi ganti popok, dan anak bisa mandiri.

Hal yang sama berlaku untuk layar. Kita harus punya pola pikir bahwa ya, akan ada pengorbanan (baik waktu dan biaya), dalam jangka pendek. Tapi apa tujuan jangka panjang kita untuk anak? Apakah kita mau masa kecil mereka hanya diisi dengan menggulir layar sendirian di kamar? Atau kita mau masa kecil mereka penuh dengan kegiatan nyata?

Kalau kita mau keluar sejenak dari mode “bertahan hidup” sehari-hari—karena banyak orang tua memang merasa hanya bisa bertahan dari hari ke hari—dan benar-benar bertanya, apa tujuan saya sebagai orang tua untuk anak saya dalam jangka panjang? Maka lebih mudah untuk berkata, “Oke, saya rela menanggung biaya jangka pendek ini, tenaga ekstra sebagai orang tua, demi mengambil layar dari anak saya.”

Saya akan melewati titik-titik sulit itu. Karena begitu berhasil melewati rintangan awal, Anda sudah meletakkan fondasi jangka panjang yang sebenarnya diinginkan setiap orang tua untuk anak-anaknya. Jadi jangan takut dengan detox, dan carilah dukungan orang lain untuk melakukannya bersama Anda.

Mr. Jekielek:
Menjelang akhir, misalnya kita tidak terlalu mengenal banyak orang yang siap melakukan ini. Di mana kita bisa menemukan teman, komunitas, atau dukungan? Ke mana sebaiknya mencari?

Ms. Morell:
Pertanyaan yang bagus. Banyak keluarga yang saya tulis di buku mengatakan bahwa semuanya sebenarnya bermula secara alami, hanya dari percakapan dengan tetangga tentang apa yang mereka tidak sukai dari layar atau apa yang mereka inginkan untuk anak-anak mereka. Ternyata mereka punya nilai yang sama, lalu berpikir, “Oke, kita bisa melakukannya bersama.” Jadi kadang cukup menjadi orang tua yang berani memulai percakapan—misalnya dengan orang tua lain di sekolah, di gereja, atau di lingkungan tempat tinggal—tentang bagaimana perasaan mereka soal anak-anak menggunakan layar. Itu sangat berharga.

Kebanyakan orang tua sebenarnya merasa terjebak di dalamnya. Bukan karena mereka benar-benar menginginkannya untuk anak, tapi karena merasa tidak bisa keluar dari jebakan itu. Jadi keluar dari jebakan itu bersama-sama sangat penting.

Sekarang juga ada gerakan-gerakan yang semakin berkembang dan bisa ditemukan. Salah satunya Smartphone-Free Childhood yang awalnya dimulai di Inggris, lalu sekarang sudah ada cabangnya di seluruh Amerika Serikat.

Cukup masuk ke situs web mereka, dan Anda bisa bergabung ke grup WhatsApp lokal. Awalnya, para ibu hanya membuat grup WhatsApp lokal yang mereka pikir hanya untuk lingkungan mereka sendiri, supaya bisa bertanya, “Hei, bagaimana kalau kita jalani masa kanak-kanak tanpa smartphone bersama-sama?” Tapi ternyata meledak di seluruh Inggris dan sekarang sudah sampai ke Amerika.

Mr. Jekielek:
Dan di mana orang bisa membaca tulisan lanjutan Anda?

Ms. Morell:
Saya punya Substack, clairemorel.substack.com, di mana saya akan terus membagikan sumber daya, bahkan setelah buku ini terbit. Saya juga ingin menyebutkan bahwa di thetechexit.com saya menyediakan beberapa sumber daya praktis yang melengkapi buku tersebut, termasuk panduan diskusi agar para orang tua bisa membacanya bersama-sama. Saya rasa itu bisa membantu menemukan keluarga lain yang sejalan.

Anda bisa saja mengajak beberapa orang tua untuk membaca buku ini bersama Anda dan membuat kelompok diskusi, seperti klub buku, dengan menggunakan daftar pertanyaan panduan diskusi yang sudah saya tulis. Selain itu, saya juga menyiapkan lembar tips praktis berisi ide-ide aktivitas bebas layar untuk anak-anak dari segala usia. Karena saya tahu kadang orang tua sibuk, lelah, dan sulit menemukan ide tentang kegiatan alternatif apa yang bisa dilakukan anak-anak. Jadi, kedua sumber itu juga tersedia di thetechexit.com.

Dan saya juga perlu menyebutkan bahwa buku ini punya lampiran yang cukup lengkap di bagian belakang, berisi sumber-sumber yang sangat praktis bagi para orang tua. Karena saya sering mendapat pertanyaan seperti, “Oke, lalu apa yang praktis? Buku apa yang bisa saya gunakan, atau tips apa yang bisa saya pakai?” Nah, lampiran di buku ini juga dipenuhi dengan hal-hal praktis tersebut. Jadi, itulah tempat di mana Anda bisa menemukan saya: thetechexit.com dan clairemorel.substack.com.

Mr. Jekielek:
Clare Morell, sungguh suatu kehormatan bisa menghadirkan Anda di acara ini.

Ms. Morell:
Terima kasih banyak sudah mengundang saya.