Keluarga

Teknik Membina Keharmonisan: Menerjemahkan Bahasa Pasangan

@Unsplash

Setiap rumah tangga, pasti memiliki problematika masing-masing. Adalah normal jika pasangan suami istri menghadapi riak-riak kecil dalam perjalanan pernikahannya. Latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, serta perbedaan-perbedaan lainnya, jika tidak dihadapi dengan kepala dingin, akan dapat menimbulkan perselisihan.

Perselisihan yang berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan akan membawa dampak yang lebih serius dalam sebuah rumah tangga. Belum lagi, reaksi anak-anak saat menyaksikan kedua orang tuanya berselisih. Agar perselisihan tidak berkepanjangan, para pakar konsultan perkawinan umumnya menyarankan agar pasangan suami istri sering melakukan komunikasi. Karena komunikasi adalah salah satu cara untuk mengurai perselisihan.

Namun, bagaimana jika komunikasi justru memicu perselisihan lain, karena adanya kesalahpahaman? Terkadang, dalam sebuah komunikasi, kalimat yang sama, karena cara penangkapan yang berbeda, dapat diartikan secara berbeda antara suami dan istri. John Gray, Ph.D. dalam bukunya “Men Are from Mars, Women Are from Venus” mengungkapkan bahasa pria dan wanita memiliki kata-kata yang sama, tetapi cara penggunaannya memberi arti yang berbeda. Ekspresi mungkin serupa, tetapi keduanya memiliki konotasi atau penekanan emosional yang berbeda. Sehingga hal ini akan sangat mudah terjadi salah pengartian.

Beberapa contoh kalimat sederhana seperti; “Terserah!” ; “Saya baik-baik saja” ; “Saya ingin sendiri..” ; “Saya capek sekali, sampai-sampai saya tidak bisa melakukan apa-apa..” seringkali menimbulkan perselisihan baru karena salah pengartian. Menurut Gray salah pengartian ini karena umumnya wanita cenderung mengekspresikan perasaaannya melalui kata-kata sedangkan bagi pria kata-kata digunakan untuk mengekspresikan informasi secara harafiah.

Pada konteks, “Saya capek sekali, sampai-sampai saya tidak bisa melakukan apa-apa…”

Bagi ibu, dia ingin menyampaikan bahwa “Hari ini Ibu telah melakukan begitu banyak pekerjaan. Ibu hanya perlu beristirahat sebentar, sebelum melanjutkan pekerjaan lainnya. Kata-kata yang menenangkan dari Ayah sudah cukup mendukung Ibu. Maukah Ayah memberikan sedikit pujian atau pelukan untuk pekerjaan yang sudah Ibu kerjakan? Dan tolong sampaikan kalau Ibu layak beristirahat sebentar?”

Tanpa menerjemahkan dan memahami makna dibalik kata-kata yang disampaikan diatas, mungkin Ayah mendengar perkataan Ibu sebagai “Ibu telah melakukan semua pekerjaan yang ada dan Ayah tidak melakukan apa-apa. Ayah bantu Ibu, dong… Ibu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Percuma ada Ayah. Ibu sudah salah bergantung pada Ayah.”

Anda lihat, kalimat yang sama dapat diartikan secara berbeda.

Demikian juga dengan kalimat, “Saya baik-baik saja” dan “Saya ingin sendiri..”

Bagi ibu, kedua kalimat diatas, berarti “Saya tidak baik-baik saja. Tolong hibur saya…” dan “Saya tidak ingin sendiri. Tolong temani saya…” Disini, Ibu sedang mengekspresikan perasaannya dan dia mengharapkan Ayah mengerti perasaannya dengan mendengar intonasi dan emosi yang ingin disampaikannya. Namun Ayah tidak sama dengan wanita. Sehingga Ayah tidak memahami konotasi yang ingin disampaikan Ibu. Jadi jangan kaget, ketika Ibu mengatakan baik-baik saja, Ayah akan mengganggap Ibu memang baik-baik saja dan ketika Ibu mengatakan ingin sendiri, Ayah akan benar-benar meninggalkan Ibu sendiri.

Ayah dan Ibu berpikir dan memproses informasi dengan sangat berbeda. Ibu akan berbicara saat dia sedang berada dalam tekanan. Dia berbagi proses pemikiran mereka dengan pendengar yang mereka percaya. “Proses membiarkan pemikirannya mengalir dan bebas mengekspresikan pemikirannya, membantu dia memanfaatkan intuisinya. Proses ini sangat normal dan kadang-kadang sangat diperlukan,” kata Gray.

Tetapi Ayah memproses informasi dengan sangat berbeda. Sebelum berbicara atau merespons, pertama-tama Ayah akan “mempertimbangkan” atau “memikirkan” apa yang telah dia dengar atau alami. Dalam hati, Ayah akan mencari jawaban yang menurut Ayah paling benar dan paling berguna. “Proses ini dapat berlangsung selama sekian menit hingga berjam-jam. Dan jika dia tidak memiliki informasi yang cukup untuk memproses jawaban, dia mungkin tidak menanggapinya sama sekali,” lanjut Gray. Hal inilah yang tambah membingungkan Ibu.

Konsultan pernikahan Mark Gungor, dalam sebuah seminar pernikahan yang kemudian dibukukan, “Laugh Your Way to A Better Marriage: Tale of Two Brains,” mengungkapkan pria memiliki suatu bilik kosong dalam otaknya. Saat sedang menghadapi masalah, Ayah akan masuk ke dalam bilik itu dan berpikir hingga Ayah merasa siap. Sehingga ketika Ayah mengatakan “dia ingin sendiri,” Ayah memang sedang ingin sendiri dan memikirkan jawaban atas permasalahannya.

Masalah menjadi semakin pelik saat Ibu kemudian mendekati Ayah untuk “menawarkan” bantuannya. Karena dari penglihatan Ibu, ayah tampak tidak baik-baik saja. Dan bagi Ibu, dengan mengungkapkan masalah, setidaknya akan mengurai masalah yang ada. Namun sebaliknya, respon yang diterima Ibu, kemungkinan di luar ekspektasi Ibu. Ayah akan semakin diam. Ini karena bagi Ayah, Ibu sedang “mengganggu” proses berpikirnya.

Perbedaan cara berpikir antara Ayah dan Ibu ini yang terkadang memicu kesalahpahaman dalam komunikasi. Bagi Ibu yang mencari solusi dengan mengekspresikan permasalahannya dan mencari jalan keluar dengan mencari alternatif jawaban dari pendengarnya, diam berarti tidak memercayainya. Bagi Ayah, tidak “membiarkannya” berada dalam bilik kosong-nya berarti tidak memercayainya.

Hal-hal kecil semacam ini bagaikan kerikil dalam kehidupan berumah tangga. Meskipun kecil, jika tidak berhati-hati akan mudah terpeleset. Umumnya, orang jarang terpeleset oleh batu besar, karena batu besar akan terlihat meskipun dari jauh.

Dengan mencoba memahami arti bahasa pasangannya, suami atau istri diharapkan dapat mengenali dengan jelas perbedaan yang ada dan menghargai segala perbedaan yang timbul. Dengan demikian akan membantu mengurangi kesalahpahaman saat terjadi konflik. Tentu saja, tidak semua Ayah atau Ibu memiliki bahasa seperti yang disampaikan dalam artikel ini. Ada kalanya keduanya berbalikan. Namun demikian, saling memahami perbedaan adalah kunci dari keharmonisan. Karena perbedaan itulah yang menyatukan sepasang suami istri dalam bahtera rumah tangga. Seperti dalam konsep Yin dan Yang yang saling melingkupi dan saling membatasi. (NTDIndonesia/ averiani)