Baru-baru ini, doa yang ditulis oleh Julian Urban, seorang dokter berusia 38 tahun dari Lombardy, Italia, viral di internet: CAHAYA Dalam MIMPI TERBURUK SEORANG DOKTER (LIGHT IN A DOCTOR’S DARKEST NIGHTMARE).
Dokter itu memulai dengan: “Tidak pernah dalam mimpi terburuk, saya akan melihat dan mengalami apa yang terjadi di Italia, di rumah sakit kami, dalam tiga minggu terakhir ini.” Merasa tak berdaya dan kewalahan karena jumlah kematian yang tak terbayangkan di hadapannya, dia berseru, “Saat ini, kami bukan lagi dokter, hanya seorang penyortir yang memutuskan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus dikirim pulang menunggu kematian.”
Menyaksikan pasiennya meninggal satu persatu di hadapannya, dia menangis pada Tuhan: “Ini telah melebihi batas. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Orang-orang meninggal setiap hari. Kami telah kehabisan tenaga.”
“Tiba-tiba kami tersadar bahwa saat ini perlu memohon bantuan pada Tuhan! Dan kami mulai berdoa. Kami melakukannya setiap kali memiliki waktu beberapa menit. Sampai dua minggu yang lalu, saya dan rekan-rekan kerja saya adalah penganut ateis yang kuat.
Ini wajar karena kami adalah dokter. Kami belajar bahwa sains meniadakan keberadaan Tuhan. Saya mentertawakan orang tua saya karena pergi ke gereja. Sekarang kami berdoa setiap hari memohon kedamaian dan kekuatan dari Tuhan agar kami bisa tetap bertahan dan merawat pasien kami dengan baik.”

Dia menambahkan: “Saya melihat diri saya hanyalah setitik debu di dunia. Saya ingin menggunakan nafas terakhir saya untuk membantu orang lain. Saya senang telah kembali pada Tuhan saat saya masih dikelilingi oleh penderitaan dan kematian sesama manusia.”
Dia memohon: Tolong berdoa untuk Italia
Italia adalah negara barat yang paling parah terserang pandemi virus korona PKT. Pada 21 Maret 2020, 793 orang meninggal dunia dalam satu hari ? ini artinya satu kematian setiap dua menit. Jumlah kematian yang begitu tinggi hingga perlu mengerahkan pasukan tentara untuk mengangkut jenasah dan kapel dipenuhi oleh jenasah yang menunggu dikremasi.
Mario Vargas Llosa, seorang penulis dan penyair dari Peru yang memenangkan hadiah Nobel Sastra tahun 2010, menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Kembali ke Abad pertengahan” (Back to the Middle Ages). Dia mengatakan bahwa ketakutan manusia tidak akan hilang hanya dengan mengandalkan ilmu pengetahuan, karena tidak dapat menyelesaikan masalah.

Pada abad pertengahan, dia menulis, orang-orang mengunci diri dibalik tembok yang menjulang dan melindungi diri dengan parit dan jembatan gantung, tetapi mereka tidak dapat menghentikan wabah, yang merupakan mahakarya iblis dan hukuman dari Tuhan. Dalam pandangannya, dalam menghadapi wabah, orang tidak punya pilihan selain berdoa, mengaku dosa, dan bertobat. (visiontimes/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
