Keluarga

Tradisi Mudik: Mengabadikan Momen Kebersamaan sekaligus Menyehatkan

Momen kebersamaan dengan keluarga selain memberikan kehangatan, ikatan keluarga juga dapat membuat Anda lebih sehat secara mental. (Image: CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP/Getty Images)

Baru saja umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri, setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Di Indonesia, Lebaran diikuti dengan tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi ke rumah sanak saudara atau bahkan teman dekat. Tradisi mengunjungi kampung halaman atau rumah leluhur keluarga saat lebaran ini, rupanya bukan tradisi baru dalam sejarah Indonesia. Manuskrip yang berasal dari periode Majapahit menggambarkan bahwa para bangsawan dan keluarga kerajaan sering bepergian dari ibu kota di Trowulan ke rumah leluhur mereka, untuk menghormati dan menenangkan roh leluhur. Berdasarkan data Sistem Informasi Angkutan & Sarana Transportasi tahun 2018, jumlah pemudik hingga H+9 Idul Fitri 1439 Hijriah, mencapai 20,86 juta. Jumlah tersebut terdiri dari angkutan udara sebanyak 5,39 juta dan angkutan kereta api sebesar 5,13 juta. Jumlah yang tidak sedikit.

Kebanyakan orang melihat “mudik” sebagai satu hari dalam setahun, dimana beberapa keluarga akan duduk bersama,  merenungkan, mengisahkan, membagikan hal-hal yang telah mereka lalui dan syukuri. Bagian penting dari tradisi mudik adalah berkumpulnya keluarga besar. Anggota keluarga yang merantau akan bepergian jauh untuk berbagi hari dengan orang yang mereka cintai. Jika dilihat lebih mendalam, tradisi mudik ini merupakan momen kebersamaan sebuah keluarga besar.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Adolescent Health, makan malam bersama keluarga yang rutin mengarah pada tingkat kesejahteraan emosional yang lebih tinggi dan kepuasan dalam hidup. Jadi, tidak salah, momen kebersamaan dengan keluarga ini tidak hanya memberi Anda perasaan yang hangat, namun ikatan keluarga juga benar-benar dapat membuat Anda lebih sehat secara mental.

Norma-norma sosial telah berevolusi. Di tengah maraknya penggunaan smartphone, mengambil waktu beberapa hari bersama keluarga besar adalah pilihan yang tepat. Dr. Catherine Steiner-Adair, seorang psikolog klinis dan konsultan sekolah serta penulis bersama buku, “The Big Disconnect: Protecting Childhood and Family Relationships in the Digital Age”, telah mencermati tren ini. “20 tahun yang lalu tidak terpikirkan bahwa orang akan berkumpul dan makan bersama dengan smartphone di meja makan,” katanya. Saat ini, jumlah pengguna smartphone di seluruh dunia akan mencapai 3 miliar pada tahun 2018, dengan wilayah Asia-Pasifik terhitung lebih dari setengah dari jumlah itu, menurut sebuah laporan oleh peneliti pasar, Newzoo. Pada 2021, jumlah pengguna ponsel cerdas akan melampaui 3,8 miliar.

The National Longitudinal Study on Adolescent Healthfound menemukan bahwa peningkatan ikatan orangtua-keluarga membantu melindungi remaja dari perilaku kesehatan yang berisiko, dan waktu makan bersama adalah ruang yang ideal untuk menghubungkannya. “Komunikasi orangtua-remaja menyumbangkan hubungan antara makan malam keluarga dan kesehatan mental remaja,” Daniel Miller, asisten profesor pekerjaan sosial di Boston University, menyampaikan pada USA Today.

Namun demikian, duduk di meja makan saat makan malam bersama keluarga besar dengan smartphone di tangan masing-masing, tidak termasuk hitungan. Jika mudik kali ini, saat makan bersama keluarga besar belum bisa melepaskan smartphone masing-masing, sebaiknya mulai dipikirkan bagaimana cara mengalihkan perhatian anak-anak pada smartphone-nya. Mungkin ini bisa digunakan sebagai salah satu resolusi saat mudik di tahun depan. Tentu saja, resolusi ini akan lebih baik jika dimulai dari diri kita sendiri. (ntdindonesia/averiani)