Keluarga

Tuhan Bisa Melihat

Kejadian supernormal dalam kehidupan seseorang yang sulit dinalar, adalah campur tangan Sang Pencipta (Image: pixabay)

Pada Mei dan Juni 1981, cuaca di Taipei sangat panas dan lembab. Keempat anak saya ingin pergi berjalan-jalan. Kami pergi dan melewati Jalan Hengyang, seorang lelaki tua tiba-tiba berlari ke arah kami dan bersikeras ingin meramal nasib saya. Saya menolak permintaannya berkali-kali hingga situasi menjadi tidak menyenangkan. Lelaki tua itu menjadi sangat kecewa dan sedih. Dia tampak gelisah ingin menyempaikan sesuatu.

Anak perempuan tertua saya tidak tahan melihatnya, dia menarik tangan saya dan berkata, “Ibu, biarkan dia meramal nasib ibu, supaya dia bisa mendapat uang. Boleh ya, Bu?” Peramal itu mengamati saya lama sekali, membaca telapak tangan saya dan tangan anak-anak saya satu persatu. Kemudian dia berkata: “Sudah selesai, ini gratis. Hidup sudah ditakdirkan. Tidak ada seorangpun yang bisa mengubah takdir.” Tiba-tiba dia mengusap kepala anak-anak dengan lembut dan menangis, berguman pada dirinya sendiri dengan sedih: “Tuhan tidak memiliki mata.”

Kemudian kami melewati “New Park” dan melihat sekelompok orang mengelilingi gerbang tempat seorang wanita sedang berlutut memohon pertolongan. Anaknya baru saja mengalami kecelakaan mobil dan mereka memerlukan sejumlah besar uang untuk membayar biaya pengobatan (Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan belum diterapkan pada saat itu). Anak-anak sangat tersentuh. Mereka menghampiri wanita itu, membantunya berdiri dan berkata: “Jangan khawatir, Ibu saya pasti akan membantu Anda!” Hari itu saya memberikan semua uang yang saya bawa dan juga meminjam sejumlah besar uang kepada pelanggan saya yang ada di sekitar tempat itu. Kami pergi ke rumah sakit bersama wanita itu dan melunasi biaya pengobatan. Setelah semua masalah terselesaikan, anak-anak berkata kepada saya: “Ibu, terima kasih! Kami tidak akan merepotkan ibu lagi, mari kita pulang!”


Ketika melewati “New Park” mereka melihat sekelompok orang mengelilingi gerbang tempat seorang wanita berlutut memohon pertolongan (Image: Unsplash)

Suatu hari, saat saya sedang rapat, televisi menyiarkan berita kebakaran besar. Karena sedang memimpin rapat, saya tidak memperhatikan detil berita hingga usai rapat. Ternyata kebakaran terjadi di apartemen saya! Saya bergegas pulang, menuju lantai tiga, tempat dimana saya tinggal. Pemadam kebakaran mengirim tiga orang untuk membantu saya. Mereka mendobrak pintu. Di dalam ruangan sudah penuh asap hitam dan semuanya gelap. Saya menangis dan berteriak memanggil nama anak saya. Saya terpaku ketakutan dan tidak bisa bergerak. Saya tidak bisa mengendalikan diri saya.

Tiba-tiba, salah seorang petugas pemadam kebakaran menginjak sesuatu, yang ternyata anak-anak telah pingsan. Mereka saling berangkulan di atas lantai beralaskan tumpukan besar buku bekas yang baru-baru ini saya beli. Petugas pemadam kebakaran, polisi dan saya bersama-sama mengangkat anak-anak saya keluar dari gedung. Beruntung, luka mereka tidak parah. Malam itu, semua sudah pulih sepenuhnya.

Menurut petugas pemadam kebakaran, lantai sangat panas sehingga buku-buku itu terbakar di bagian bawah. Seandainya anak-anak pingsan dan terjatuh langsung di lantai, mereka pasti tidak akan selamat. Petugas pemadam kebakaran berkata: “Keluargamu pasti telah melakukan amal baik.”


Menurut petugas pemadam kebakaran, lantai sangat panas hingga bagian bawah buku terbakar (Image: pixabay)

Ketika api padam, gedung-gedung yang berada di kedua sisi bangunan apartemen kami ludes semua. Bangunan apartemen kami terbakar dari atas hingga bawah, kecuali apartemen tempat kami tinggal di lantai tiga. Anehnya, api melewati rumah kami. Dinding dan rak buku besi di depannya terasa sangat panas dan semua buku masih mengeluarkan asap karena panas, namun mereka tidak terbakar. Petugas pemadam kebakaran berkata: “Ini keajaiban! Hal yang tidak mungkin.” Seandainya buku-buku ini terbakar, anak-anak saya tidak akan selamat.

Sebelumnya, buku-buku bekas yang bertumpuk di lantai itu membuat anak-anak jengkel karena mereka menjadi susah bergerak. Beberapa waktu sebelum kebakaran terjadi, saya membantu seorang pemilik kios lama dengan membeli semua buku bekas yang tidak laku dijual. Tanpa diduga, buku-buku ini telah menyelamatkan nyawa anak-anak saya.

Sebelum sekolah dimulai pada September, anak-anak pergi membeli buku musik untuk piano. Ketika kami melewati Jalan Hengyang, tiba-tiba lelaki tua itu muncul lagi di depan kami sambil membuka kedua lengannya. Dia memeluk erat anak-anak saya dengan sangat gembira dan berulang-ulang mengatakan, “Sungguh hebat! Kalian masih hidup.” Saya meminta anak-anak memanggilnya “Kakek” karena dia sangat perhatian dan menyayangi mereka. Mungkin air mata lelaki tua itu yang telah memadamkan api dan menyelamatkan mereka.

Dalam kehidupan seseorang, seringkali terjadi hal-hal di luar nalar. Itu karena campur tangan Sang Pencipta. (visiontimes/sia/feb)