Keluarga

Uang, Cinta, dan Keluarga: Dongeng Tiongkok Tanpa Akhir Bahagia

Pasangan Tiongkok sukses menjadi jutawan setelah kepindahannya ke Kanada, namun kehidupan keluarganya tidak seindah cerita dongeng. (Image: pixabay)

Pada 1997, sepasang suami istri asal Tiongkok hijrah ke Kanada dengan membawa impian besar. Akhirnya mereka sukses dan menjadi jutawan di Kanada. Namun, pernikahan mereka menjadi taruhan. Keduanya berujung saling gugat dan terlibat dalam perang peradilan yang tak berujung, menurut keputusan Pengadilan Tinggi. Sang suami YZ, dan istrinya AC, yang namanya disembunyikan karena alasan privasi, merepresentasikan pepatah jaman dahulu bahwa kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan.

Perceraian

Beberapa tahun setelah tiba di Kanada, YZ memulai usaha pabrik pembuatan serat baja di Tiongkok. Keberhasilannya membuat pasangan tersebut naik ke lingkungan kelas atas. Investasi pasangan ini di Tiongkok bernilai 70 juta dolar AS. Mereka memiliki kondominium senilai 7 juta dolar AS dan rumah senilai 8 juta dolar AS di Vancouver. Pasangan itu juga memiliki dua pesawat terbang dan perhiasan bernilai ratusan ribu dolar.

Ketika anak-anak beranjak remaja, hubungan YZ dengan anak-anak mulai menurun karena mengetahui perselingkuhannya dengan wanita-wanita muda di Tiongkok. Fakta bahwa YZ memiliki temperamen keras dan diktator dalam menjalankan rumah tangga semakin menjauhkan anak-anak darinya.

Terkadang pasangan tersebut melakukan tindak kekerasan. “Suatu kali sang istri melemparkan cangkir kepada suaminya yang mengakibatkan luka jahitan, sang suami pun masuk ke rumah dengan palu setelah diusir. Kemudian dia menghancurkan apartemen mereka di Tiongkok dengan kapak serta mengancam akan mencekik anak perempuannya yang masih remaja,” seperti dilansir National Post.


Sang suami menggunakan kapak untuk menghancurkan apartemen mereka di Tiongkok. (Image: pixabay / CC0 1.0)

AC akhirnya meninggalkan YZ setelah sang suami menyatakan bahwa keberhasilannya dalam bisnis memungkinkannya untuk memiliki wanita-wanita simpanan, sesuatu yang menurut budaya Tiongkok saat ini, dianggap hal yang biasa. Agar sang istri mau kembali padanya, YZ menghabiskan sekitar satu juta dolar AS untuk membeli sebuah cincin berlian. Namun, AC tetap tidak tergerak. YZ juga kerap melakukan kekerasan yang tak terkendali. Suatu kali, dia menggunakan palu untuk masuk ke garasi mereka dan harus mendekam di penjara karenanya.

Bahkan selama sesi konsultasi bersama seorang psikolog, YZ menunjukkan kemarahan teramat dalam terhadap putrinya. Putrinya kemudian mengakui bahwa ayahnya pernah mengancam akan mencekiknya sampai mati. Pengadilan membagi harta pasangan tersebut dan memerintahkan YZ untuk menjauh dari anak-anaknya kecuali mereka setuju untuk bertemu. Anak-anak perempuan itu mengklaim, hidup mereka akan berisiko tanpa perintah perlindungan dari pengadilan.

Kekayaan dan kelanggengan pernikahan

Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kelas sosial dan stabilitas pernikahan. Survei Komunitas Amerika pada 2015 terhadap orang dewasa berusia 18 hingga 55 tahun yang telah menikah menemukan bahwa tingkat perceraian pada kelas bawah mencapai 46 persen.

Sebaliknya, kelas pekerja memiliki tingkat perceraian yang sedikit lebih rendah yaitu 41 persen sedangkan kelas menengah dan atas hanya memiliki tingkat perceraian 30 persen. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa anak-anak dari perempuan dari kelas bawah lebih banyak dilahirkan di luar nikah.

Menurut Asosiasi Pengacara Pernikahan Amerika Serikat, perceraian cenderung meningkat pada masa pertumbuhan ekonomi. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan di antara asosiasi pengacara tersebut mengungkapkan terjadinya penurunan dalam kasus perceraian selama masa krisis ekonomi. Pasangan yang kemungkinan akan bercerai dalam masa pertumbuhan ekonomi akan memutuskan untuk tetap bersama pasangannya daripada berpisah dan menderita sendirian ketika memasuki masa krisis ekonomi yang tidak menentu.


Pasangan yang mungkin akan bercerai pada keadaan ekonomi bagus memutuskan untuk tetap bertahan pada saat krisis ekonomi daripada harus menderita sendirian. (Image: pixabay)

Kepercayaan dan kelanggengan pernikahan

Orang-orang yang religius cenderung lebih bertahan daripada mereka yang ateis (orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan) dikarenakan iman mereka menuntut demikian. Mereka yang ateis cenderung lebih mudah menyerah dengan hubungannya, tanpa memikirkan prinsip kepercayaan, komunitas, atau keluarga. Kepercayaan spiritual mengajarkan dan menuntut praktik toleransi, penguasaan diri, dan pengampunan. Sebaliknya, mereka yang mengikuti gaya hidup materialistis melakukan sesuatu hanya karena “merasa senang”.

Ketika Partai Komunis Tiongkok mengambil alih Tiongkok dan mayoritas orang Tiongkok mulai mengikuti ideologi ateis dengan keinginan besar untuk memperoleh kekayaan ? suatu keinginan yang terbentuk dari indoktrinasi Partai Komunis Tiongkok ? menyebabkan karakteristik bangsa Tiongkok pun berubah. Tradisi dan norma yang diikuti dalam masyarakat, keluarga dan individu pun berubah.

Orang-orang berubah menjadi apatis terhadap kesempurnaan spiritual ? suatu hal yang sangat dipegang teguh oleh budaya tradisional Tiongkok ? dan mulai mencari pemenuhannya dari luar. Partai Komunis Tiongkok terus mendorong pengejaran materi dan mencampakkan nilai-nilai tradisional. Semua perubahan ini mencapai puncaknya dewasa ini, dimana kebudayaan lenyap, tradisi tercemar, dan prinsip-prinsip individu diabaikan. Pengejaran materialisme yang tiada henti menghancurkan masyarakat dan meningkatkan jumlah keretakan dalam rumah tangga dan pernikahan yang tidak bahagia. (visiontimes/sia/feb)