Keluarga

Waspadai 6 Kebiasaan Ini yang Dapat Menyebabkan Perceraian

©yanalya/freepik

Di dunia yang saat ini dibanjiri dengan teknologi, laju kehidupan semakin cepat dan stres sepertinya tak terhindarkan. Penting untuk mengingat dan menyisihkan waktu untuk memelihara hubungan kita dengan orang istimewa dalam hidup kita, yakni pasangan kita. Berikut, kami merangkum enam kebiasaan yang seringkali menyebabkan perceraian, serta saran untuk mencegahnya. Yuk disimak!

1. Membiarkan Konflik yang Belum Selesai

Kamu bertengkar dengan pasangan, beradu pendapat, dan yang berbicara lebih dominan akhirnya menang. Familiar dengan keadaan ini? Kelihatannya konflik sudah berakhir, tapi ini justru adalah awal masalah. Argumen yang diakhiri dengan nada yang tinggi bisa mengubah perasaan ‘marah’ jadi ‘kebencian’. Jika tidak diambil langkah untuk menyelesaikan perasaan kamu yang ‘menggantung’ dan menebus kesalahan, perasaan ini bisa semakin menumpuk dan berujung petaka.

Tentu saja, semua orang perlu waktu untuk mendinginkan kepala. Setelah itu, mungkin kamu juga bisa terpikir cara untuk menyampaikan perasaan dengan lebih baik ke pasangan. Tidak perlu gengsi untuk minta maaf, jika kamu menyadari bahwa kamu telah mengeluarkan kata-kata yang tidak enak atau menyakiti hati pasangan. Pastikan pasanganmu memahami seberapa besar kepedulian dan rasa hormatmu padanya, bahkan jika kamu dan dia tidak dapat mencapai kesepakatan pada sesuatu. Masalah yang tidak diselesaikan tidak akan hilang dengan sendirinya, namun akan menjadi ‘bom waktu’ yang akan meledak suatu hari.

2. Selalu Perlu Menjadi “Benar”

© pexels

Kita semua punya pendapat tentang bagaimana hal-hal “seharusnya”, tapi kita juga harus menyadari bahwa setiap manusia itu unik, dan pemikiran yang selalu kita anggap benar itu belum tentu selalu cocok dengan orang lain.

Perbedaan adalah indah. Dengannya, kita bisa belajar lebih banyak tentang bagaimana orang lain melihat sesuatu, dan mungkin justru membuat kita lebih ‘kaya’ secara harafiah. Jika kita terlalu terikat dengan ide-ide kita, dan selalu menganggap diri sendiri ‘benar’, disinilah masalah mulai muncul.

Jika kamu merasa idemu adalah paling benar dan argumen sepertinya akan dimulai, cobalah menahan diri dan tempatkan dirimu di posisinya, pertimbangkan ulang apakah ‘sesuatu perlu dikatakan’. Menang berdebat bukan berarti memenangkan pikirannya dan berhasil membuktikan bahwa kamu benar. Kadangkala, makna dari ‘menang’ yang sesungguhnya adalah mundur ke belakang dan menerima ide-ide orang lain. ‘Menanglah atas dirimu sendiri’.

3. Menilai Kekurangan Pasangan

Ketika kamu jatuh cinta dengan pasangan, segalanya terlihat indah dan sempurna. Tapi setelah fase bulan madu lewat, kamu mungkin mulai memperhatikan berbagai hal dari pasangan yang membuat kesal. Pada saat itu, ingatkan diri kamu tentang hal-hal yang membuatmu jatuh cinta padanya; apakah selera humornya? Ketulusan senyumnya? Kerendahan hatinya? Pusatkanlah perhatianmu pada hal-hal positif darinya, bukan hal-hal yang negatif. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, jika kamu merasa ada orang lain yang lebih baik darinya, ingatlah bahwa orang lain itu pun memiliki kekurangan.

4. Kecanduan Gadget

© freepik

Siapa yang tidak kecanduan gadget di zaman sekarang ini? Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tidak ada yang luput dari cengkraman gadget dan smartphone. Mulai dari mengecek e-mail pekerjaan, menjelajah media sosial, menonton video, bermain game, semuanya terasa sangat mudah dengan hanya sentuhan jari kita. Tetapi, semakin banyak waktu kita yang habis untuk melihat ponsel, semakin sedikitlah waktu yang kita miliki untuk interaksi tatap muka yang nyata. Bahkan saat makan malam keluarga, tidak sedikit keluarga yang makan sendiri-sendiri dengan berfokus pada ponsel masing-masing.

Jangan biarkan gadget atau smartphone menggantikan interaksi kehidupan nyata dan membuat kamu mengabaikan keluarga atau pasangan! Waktu yang kamu habiskan bersamanya tidak akan kembali lagi, saat hendak disesali pun mungkin sudah terlambat.

5. Menganggap Biasa Satu Sama Lain

Apakah kamu ingat di masa-masa awal pacaran atau bulan madu, pasanganmu melakukan sesuatu untukmu dan kamu merasa sangat bahagia? Katakanlah istrimu menyiapkan sarapan untukmu, atau suami membantu membuangkan sampah untukmu. Bagaimana dengan sekarang? Apakah itu sudah menjadi hal yang biasa saja?  

Coba kamu bayangkan jika semua hal-hal kecil yang pasanganmu lakukan untukmu, tidak akan terjadi lagi. Bagaimana perasaanmu?

Tidak mengherankan bagi manusia untuk menjadi terbiasa akan sesuatu, jika hal itu terjadi berulang kali. Tapi kamu perlu ingat bahwa ‘nilai’ dari hal yang pasanganmu lakukan untukmu itu tidak akan berkurang. Hargailah setiap hal kecil yang ia lakukan untukmu, entah itu dengan ucapan terima kasih atau senyuman yang tulus, sebab, siapa yang tahu hingga berapa lama kamu akan dapat menikmatinya.

6. Tidak Menyediakan Waktu untuk Satu Sama Lain

© freepik

Dengan gaya hidup manusia sekarang yang serba cepat, sibuk, dan dengan tingkat ke-stres-an yang tinggi, orang-orang sering pulang ke rumah dengan kelelahan dan ingin segera tidur. Sayangnya, ini mungkin menyisakan sedikit waktu bagimu untuk terhubung dengan pasangan setiap hari.

Tanpa disadari, hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, kamu berdua hampir tidak pernah mengatakan apa-apa satu sama lain.

Tak peduli seberapa sibuknya kamu, adalah penting untuk berusaha agar terhubung dengan pasangan. Kamu bisa mencobanya dengan mengirim pesan lewat ponsel sesekali, atau berbicara langsung hanya untuk menanyakan apakah ia sudah makan siang. Seperti saat kamu masih pacaran, tentunya kamu berusaha keras agar hubungan itu terjaga dan terpupuk bukan? Pernikahan pun tidak ada bedanya dengan pacaran, perlu usaha dari kedua belah pihak, ibaratnya merawat tanaman kesukaan, kita perlu menyisihkan waktu untuk menyiramnya setiap hari dan diberi pupuk agar tetap hijau dan subur.

Akan lebih baik lagi jika kamu menyisihkan waktu untuk melakukan suatu hal bersama di akhir pekan, seperti berlibur, berjalan-jalan di taman, atau sekadar melakukan hobi bersama.

Dua manusia yang berbeda, dibesarkan oleh dua orangtua yang berbeda dengan kebiasaan berbeda, konsep dan pengalaman hidup yang berbeda. Dua manusia ini mana mungkin tidak timbul konflik dalam pernikahan? Tetapi, dengan berusaha untuk saling menghargai, menghormati, memperhatikan satu sama lain, hubungan ini akan dapat bertahan hingga maut memisahkan, seperti janji pernikahan yang kita ucapkan di hadapan Tuhan dan kedua orangtua kita. (epochtimes/bud/ch)