COVID-19 telah berdampak besar pada dunia kita. Setiap orang di planet bumi telah terpengaruh oleh virus ini baik secara kesehatan maupun ekonomi. Ada pula kelompok penyintas (yang sudah sembuh) dari COVID-19. Beberapa individu dalam kelompok ini mengalami gejala yang sedang berlangsung dan kelelahan yang melumpuhkan. Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa sindrom pasca-virus dapat disebabkan oleh virus umum lainnya. Terlepas dari virusnya, ketika gejala terus berlanjut dan kesehatan tidak segera pulih, maka penting untuk mencari tahu mengapa hal ini terjadi.
Sindrom Pasca-Virus
Sindrom pasca-virus, juga dikenal sebagai sindrom kelelahan pasca-virus, bukanlah fenomena baru. Hanya saja, saat ini orang menyamakan gejala yang sedang berlangsung ini dengan sindrom pasca-COVID. Penting untuk dipahami bahwa individu dapat mengalami gejala dan reaksi yang berkelanjutan setelah virus Epstein Barr, sindrom pernapasan akut parah dari virus SARS-COV1, virus West Nile, in uenza H1N1, dan banyak lainnya. Virus ini dapat membuat pasien mengalami kelelahan jangka panjang dan rasa tidak enak badan selama berbulan-bulan. Jika dibiarkan, orang dapat mengembangkan autoimunitas dan penyakit kronis.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sebagian besar orang akan pulih dari COVID-19 dalam waktu 2 hingga 6 minggu. Mereka yang menderita penyakit virus apa pun yang parah, termasuk COVID-19, dapat mengharapkan waktu pemulihan yang lebih lama. Faktanya, e Journal of American Medical Association menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa 80 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit masih memiliki gejala yang menetap setelah delapan minggu.
Seperti yang telah kita lihat pada virus lain, COVID berpotensi memicu penyakit kronis. Seringkali, kita melihat berbagai bentuk virus dan penyakit lain yang memicu penyakit autoimun, bromyalgia, atau sindrom kelelahan kronis. Sindrom pasca- COVID dan sindrom pasca-virus terlihat sangat mirip dengan sindrom kelelahan kronis.
Sindrom Kelelahan Kronis
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), diperkirakan 2,5 juta orang Amerika berjuang dengan sindrom kelelahan kronis atau myalgic encephalomyelitis. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan ekstrem yang tidak dapat diatasi dengan istirahat. Ini merupakan jenis kelelahan yang melemahkan.
Gejala Kelelahan Kronis
Penting untuk dipahami bahwa gejala sindrom pasca-virus hampir identik dengan gejala sindrom kelelahan kronis. Penderita COVID menunjukkan gejala kelelahan kronis seperti sesak napas, kehilangan penciuman atau pengecap dan gangguan pencernaan.
Untuk diagnosis kelelahan kronis yang sebenarnya, penyebab potensial lainnya dari kelelahan harus disingkirkan dan pasien harus mengalami gejala setidaknya selama enam bulan. Gejala-gejala tersebut antara lain:
- Kelelahan dan kelemahan dengan pengerahan tenaga (fisik, emosional, atau kognitif)
- Tidur yang tidak menyegarkan
- Gangguan ingatan atau konsentrasi
- Nyeri otot
- Nyeri sendi
- Sakit tenggorokan
- Kelenjar getah bening yang lunak
- Sakit kepala
Akar Kelelahan Kronis
Seringkali, sindrom kelelahan kronis membuat komunitas medis bingung karena tidak ada pengobatan yang jelas. Dengan mengatasi akar penyebabnya, kita dapat memengaruhi asal mula gejala.
Beberapa akar penyebab potensial termasuk tetapi tidak terbatas pada:
- Penyakit celiac (autoimun)
- Alergi makanan tertentu
- Toksisitas logam berat
- Toksisitas glifosat
- Infeksi kronis
- Disfungsi mitokondria
Masing-masing faktor ini, atau kombinasinya, dapat memicu gejala sindrom kelelahan kronis. Jika gejala sindrom kelelahan kronis dimulai setelah paparan toksin lingkungan atau penyakit virus termasuk COVID-19, mononukleosis, atau herpes zoster, bisa jadi sistem kekebalan tubuh tidak sepenuhnya berfungsi dengan baik. Tentu penanganannya berbeda dengan yang masih memiliki infeksi virus di tubuhnya. (epochtimes)
Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

